
"Kenapa senyum-senyum? Udah sadar kalau calon istrimu itu cantik?" tanya Ardina seraya menatap wajah sang putra yang sejak tadi tersenyum-senyum terus.
"Sadar banget lah ma. Dan sepertinya aku ingin pernikahan kami lebih cepat ma."
"Heleh. Kemarin nolak sekarang udah tak sabar."
David langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Terserah mama deh. Maunya kapan tapi jangan bulan depan," ucap David pasrah.
"Kenapa kalau bulan depan?" tanya Praja ikut nimbrung.
"Ya gak boleh. Itu kelamaan, pa."
Plak!
Ardina langsung memukul bahu sang putra karena gemas.
"Gini nih kalau udah kebelet malah udah gak sabar aja. Ngomong-ngomong kita juga harus tahu dong gimana kabar Revalda. Apa anak itu setuju kalau kamu yang akan menikahinya?"
"Harus setuju lah ma. Enak aja kalau gak setuju. Aku udah serius kayak gini juga," ucap David dengan wajah berubah serius. Ia tahu sifat keras kepala anak itu yang kadang tak bisa dianggap sepele.
"Kalau Valda gak setuju emangnya kamu mau maksa?" tanya Ardina tersenyum. David menatap sang mama kemudian ikut tersenyum.
"Iya ma. Aku akan paksa. Mau tidak mau ia harus setuju. Kami udah janji kok waktu kami masih kecil."
"Heleh, janji apa coba. Memangnya waktu itu kalian sedekat itu?"
"Iya lah ma. Sayangnya aku tak setia dan justru berkhianat."
"Apa?!" Wajah Ardina tampak berubah warna karena kagetnya.
"Sama siapa hah?" lanjutnya dengan tatapan tajam.
"Sama yang punya pakaian dalam itu ma."
"Astaghfirullah David!" Ardina kembali bertanduk. Sedangkan David langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Ia takut kalau ia mendapatkan pukulan lagi dari sang mama.
__ADS_1
"Mas! Kamu dengar 'kan apa kata putramu itu. Revalda bisa-bisa gak setuju kalau tahu David udah punya perempuan yang lain."
"Gak apa-apa sayang. Pakaian dalam itu 'kan hanya masa lalu. Sedangkan pemiliknya adalah masa sekarang."
Grrrrr!
Ardina meremas udara dengan perasaan yang sangat kesal. Jalan pikiran suaminya semakin tak bisa ia mengerti. Praja langsung tertawa kemudian meraih tangan istrinya itu untuk menuju kamar mereka.
"Eh, kok aku dibawa ke kamar sih mas. Aku 'kan kesal padamu!"
"Jangan suka kesal dong sayang. Bentar lagi kita akan mempunyai menantu dan juga cucu jadi ada baiknya kita bahas isi pakaian dalam aku dan kamu. Gimana?"
Ardina langsung tersipu malu. Ia tahu maksud dari perkataan suaminya itu dan ia pun mengangguk setuju.
Sementara itu, David yang sudah berada di dalam kamarnya, nampak sudah tak sabar ingin mendengar suara Revalda. Untuk itu ia ingin segera menelpon gadis itu untuk menggodanya karena sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Handphone yang sejak tadi ia simpan saja di dalam kamarnya sekarang diraihnya. Ia pun mengaktifkannya dan mendapati begitu banyak notifikasi pesan dan juga panggilan yang masuk.
Hanya pesan dari Revalda yang sangat tertarik ia baca. Dan semuanya adalah pesan berupa Video tugas yang ia perintahkan untuk gadis itu. Sekali berlayar dua tiga pulau terlampaui. Demi mengobati rindunya pada gadis itu ia pun membuka video tentang acara diskusi di dalam kelas yang direkam oleh Revalda.
Rahang pria itu tiba-tiba mengeras saat video terakhir ia buka. Revalda yang diberikan tugas untuk merekam teman-temannya ternyata ikut merekam aksi Ikhsan sang ketua tingkat menyatakan perasaan cintanya pada gadis itu disela-sela acara diskusi di dalam kelas.
Bisa ia lihat bagaimana ramainya ruang kelas itu setelah Ikhsan berani menyatakan perasaannya pada Revalda.
"Terima! Terima! Terima!" teriak teman-temannya yang ada di dalam ruang kelas itu. Revalda terjebak. Semua teman-temannya mengelilingi dirinya.
Video itu pun terpotong. David mengerang kesal dan segera menelpon calon istrinya itu tapi lagi-lagi hanya operator yang menjawab dan mengatakan kalau nomor yang ia tuju berada di luar jangkauan.
"Aaargh! Pergi kemana lagi gadis itu!" geramnya dengan emosi tertahan. Karena tak mendapatkan ketenangan akhirnya ia keluar dari kamarnya dan meninggalkan apartemennya. Ia harus mencari tahu kemana perginya Revalda, apa yang dilakukannya dan ada dimana ia sekarang.
🌹
Satu jam yang lalu,
Lanjutan kejadian dalam video yang dikirim oleh Revalda.
"Aduh maaf nih. Aku tidak bisa menerima sang ketua tingkat. Maaf sekali lagi," ucap Revalda seraya menyimpan handphonenya ke dalam sakunya.
__ADS_1
Ruang kelas yang tadinya heboh kini jadi hening. Semua penghuni kelas terdiam dan menahan nafas.
"Kenapa Val? Kamu kok mau mempermalukan aku kayak gini?" jawab Ikhsan dengan perasaan yang langsung tak nyaman. Ia pikir dengan cara seperti ini Revalda mau menerimanya.
"Aku mohon maaf sekali lagi. Aku gak bisa menerima kamu meskipun aku tahu kamu adalah pria baik dan sangat bertanggungjawab."
"Apa kamu sudah ada orang lain Val?"
"Aku hari ini sedang acara lamaran di rumah. Aku gak mungkin dong menerima kamu padahal aku akan menikah."
Brakk!
Semua orang langsung kaget karena pria yang selama ini selalu tenang dan banyak diam itu tiba-tiba memukul meja.
"Kamu suka dan cinta dengan calon suamimu itu Gak?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku percaya sama pilihan orang tua aku. Jadi maaf. Aku tidak perlu membahas hal pribadi seperti itu di depan semua teman-teman," jawab gadis itu kemudian segera meraih tas yang ada di atas mejanya.
"Aku pulang dulu ya, maaf teman-teman." Revalda melipat tangannya di depan wajahnya sebagai permintaan maaf dan kemudian segera pergi dari ruangan kelas itu. Ia lebih memilih pulang dan berkumpul dengan keluarganya yang pastinya sedang ramai karena acara lamarannya.
Ikhsan mengeratkan rahangnya marah dan ikut meninggalkan kelas.
"Waduh, gimana ceritanya nih. Kok jadi sad ending begini sih?" ucap Morin dengan perasaan tak nyaman. Teman-teman yang lain hanya bisa menghela nafas berat.
Mereka ikut sedih dan prihatin dengan keadaan yang menimpa sang ketua tingkat.
"Valda gak salah kok menurut aku. Ikhsan saja yang tidak memikirkan keadaan. Harusnya nembak cewek tuh sembunyi-sembunyi saja supaya gak kayak gini jadinya. 'Kan malu banget tuh," ucap temannya yang lain entah siapa.
"Iya juga sih. Duh udah deh. Kita ke kantin yuk. Aku jadi lapar memikirkan mereka berdua."
Yang lain pun ikut bicara. Mereka saling bersahut-sahutan dan akhirnya meninggalkan tempat itu menuju ke kantin mumpung pak Doktor tidak masuk hari ini.
Bagaimana dengan Revalda dan Ikhsan? Kira-kira apa yang terjadi diantara mereka?
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊