Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 39 Balasan Untuk Pria Mesum


__ADS_3

Bugh


"Aaaaargh!"


Tubuh Maher yang sedang menindih Ardina terlempar ke samping. Pria paruh baya itu merasakan punggungnya sangat nyeri karena telah membentur dinding dengan keras.


Ia pun berusaha bangun untuk melihat apa yang telah terjadi.


Seorang pria muda yang ia kenal sebagai putranya menatapnya penuh kebencian. Ia sampai merasakan tubuhnya merinding ngeri. Ia belum pernah melihat tatapan mata setajam itu.


"Aku gak nyangka kalau papa yang sangat aku hormati bisa melakukan hal yang sangat menjijikkan seperti ini!" Yudha menghampiri Maher dan meraih kerah kemeja pria paruh baya itu dan mencekiknya.


"Lepaskan aku Yudha! Kamu sangat tidak sopan pada papamu sendiri!" Maher berusaha melepaskan dirinya karena sangat tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh sang putra.


"Cih! Papa bicara tentang kesopanan?! Aku bahkan sangat jijik dengan apa yang kamu lakukan sekarang!" Yudha rasanya ingin memecahkan kepala pria ini andaikan bukan papanya.


"Lepaskan saya!" Pria paruh baya itu kembali memberontak tapi tetap tak bisa lepas karena tubuh Yudha lebih kuat dan juga lebih tinggi dari tubuhnya.


"Andaikan kamu bukan suami dari mamaku, maka aku pastikan kamu tinggal nama saja!" geram Yudha dengan rahang mengeras.


Ia sendiri tak bisa membayangkan bagaimana kalau ibunya diperlakukan oleh seorang pria mesum yang bukan papanya.


Pria muda itu kemudian melepaskan cengkeramannya kemudian mendorong papanya itu hingga terjatuh kembali ke lantai. Nampak sekali kalau ia sangat marah sekarang.


"Mbak Ardina itu perempuan bersuami pa! Tidak cukupkah papa dengan tiga perempuan yang telah kamu nikahi itu?" Yudha menunjuk Ardina yang sedang menangis dan meringkuk disudut ranjang.


"Dia bukan perempuan bersuami Yudha. Dia single parent yang butuh perlindungan dari papa. Jadi kamu tidak usah ikut campur!" Maher berusaha berdiri seraya mengelus bagian belakangnya yang masih terasa nyeri.


"Suaminya ada pa! Praja Wijaya, aku mengenalnya!"


"Tidak! Pria itu tidak pantas untuk Ardina. Papa mencintainya dan ingin membahagiakannya!"


"Oh Tuhan! Istighfar pa! Kamu sudah seharusnya sadar diri! Ingat usia!" Yudha mengepalkan tangannya kuat-kuat agar tidak memukul wajah pria itu.


"Pergi kamu dari sini. Dan jangan ganggu kesenanganku atau kamu tak akan saya akui sebagai pewaris Maher Grup!"


"A-apa?! Aku putra sulung mu dan kamu mengancamku pa? Dengarkan aku baik-baik! Aku tidak butuh hartamu! Dan aku bisa saja memenjarakan mu karena tindakan asusila dan kekerasan sek-sual."


"Hahaha! Pergi saja kamu dari sini brengsek!"


"Tentu saja. Aku akan pergi tapi akan membawa mbak Ardina!" Yudha berucap dengan tatapan tajam pada sang papa.


"Mari mbak, kita pergi dari sini!" Yudha meminta Ardina untuk mengikutinya. Sedangkan Maher Abdullah langsung meraih pakaian perempuan itu dan menariknya sampai sobek.

__ADS_1


Street


"Aaaawww! Kurang ajar!" teriak Ardina spontan.


Bugh


"Aaargh!"


Satu tendangan keras langsung bersarang pada perut pria paruh baya itu dari kaki panjang Yudha Abdullah.


"Papa benar-benar tidak tahu malu!" teriak Yudha seraya menarik tangan Ardina agar segera keluar dari villa itu.


Maher Abdullah yang merasa perutnya nyeri tak tertahankan hanya bisa memandang kepergian dua orang itu dengan rahang mengeras.


Ia tidak bisa berkata-kata karena sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh putranya.


Tak lama kemudian ia pun mendengar deru mobil meninggalkan tempat itu. Ardina telah pergi bersama dengan Yudha.


"Mbak tidak apa-apa 'kan?" tanya Yudha khawatir. Ia melirik perempuan itu dengan ekor matanya.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja. Dan terima kasih. Tapi eh itu mobil kak Sam. Dia bersama Kak Prilya!"


"Tolong hentikan mobilnya!" teriak Ardina.


"Hah? Tuan Richard?"


"Iya. Dia kakak ipar aku."


"Baiklah kita kembali," ujar Yudha dan langsung memutar balik mobilnya mengikuti mobil Samuel Richard yang sedang mengarah villa milik keluarganya.


"Hey, kak Sam! Aku disini!" Ardina berteriak keras memanggil suami dari saudara tirinya itu agar tidak perlu masuk ke dalam Villa.


"Ardina?! Bagaimana keadaanmu?" tanya pria itu dengan wajah khawatir. Prilya pun ikut turun dari mobil yang dikendarai oleh suaminya.


"Alhamdulillah, aku baik. Tapi bagaimana mungkin kalian bisa ada disini?"


"Hey, kamu lupa kalau kamu menelpon aku tadi? Dan saat terhubung aku mendengar suara teriakanmu. Aku khawatir dan meminta suamiku untuk menyusul kamu lewat GPS pada handphonemu," jelas Prilya dengan wajah lega.


"Dan sekarang dimana pria tua bangka itu!" teriak Samuel Richard dengan tangan mengepal di samping kiri kanan tubuhnya. Ia ingin membuat perhitungan dengan Maher Abdullah.


"Tuan, Aku sudah memberi pelajaran pada pria itu," sahut Yudha dengan perasaan tak nyaman.


"Oh Yudha. Jadi kamu sudah melihat tingkah laku papamu? Baguslah karena kamu ada disini dan melihat sendiri kelakuan bajingan itu!"

__ADS_1


"Iya tuan. Maafkan papa. Semoga saja ia sudah bisa menyadari kesalahannya." Yudha menjawab seraya menundukkan kepalanya.


Sungguh, ia sangat malu pada pria dihadapannya ini. Akan tetapi bagaimana pun juga hubungan darah dengan pria itu tak bisa begitu saja diputuskan.


Meskipun ia benci dengan perbuatan sang papa, ia juga tidak rela jika ada yang memukul pria itu dihadapannya.


"Ayo kita pulang Din. Dan terima kasih banyak ya Yudh karena kamu ada di tempat ini." Prilya langsung mengajak adik tirinya itu ke dalam mobil.


Ia sangat tak nyaman dengan melihat keadaan pakaian Ardina sekarang. Itu sangat mengkhawatirkan.


"Tapi sayangnya aku ingin bertemu dengan papamu sebelum pulang dari sini," ujar Samuel Richard dan tetap melanjutkan langkahnya ke dalam villa.


Pria itu yakin kalau Maher Abdullah masih berada di dalam sana. Yudha tidak mungkin menahan langkah pria berbahaya itu. Ia pun ikut masuk karena khawatir.


Prok


Prok


Prok


Samuel Richard bertepuk tangan dengan ujung bibir terangkat. Ia menatap wajah Maher Abdullah dengan tatapan tajam.


Menit berikutnya, ia pun melompat ke arah pria itu dan memberikan satu pukulan keras pada rahangnya.


"Brengsek kamu tua bangka! Kamu tidak melihat siapa itu Ardina hah?!" teriak pria itu dengan sangat emosi.


"Aku menitipkannya padamu agar ia bisa kamu bimbing dan kamu jadikan putri mu! Tapi apa kenyataannya hah?!"


"Aku tarik semua invetasi ku pada perusahaanmu saat ini juga!" putus pria itu dan langsung meninggalkan Maher Abdullah yang merasakan giginya rontok.


Yudha tak bisa berbuat banyak. Ia hanya mampu menatap wajah papanya yang menyedihkan itu dengan perasaan campur aduk.


"Dan lihatlah, semua orang pun tak suka dengan apa yang kamu lakukan pa!" ujarnya dengan wajah datar.


Setelah itu ia meninggalkan tempat itu dengan cepat.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2