
"Lho kok malah kerja di luar lagi mbak Sel?" tanya Maya saat Selfina menarik sebuah kursi di sampingnya. Ia sangat bingung dengan gaya sekretaris kesayangan presiden direktur ini.
Selfina hanya tersenyum kemudian menghidupkan laptopnya. Ia tak perlu menjawab pertanyaan gadis itu padanya.
"Pak Presdir udah bosan ya se ruangan dengan kamu?" lanjut Maya dengan bibir mencibir.
"Duh kasihan banget. Apa mungkin karena sekarang udah pakai pakaian tertutup ya jadi pak presdir gak tertarik lagi."
Selfina diam saja sembari fokus pada layar laptopnya.
"Pak presdir gak suka kali kalau seruangan dengan ukhti yang bukan muhrim. Jadi gitu deh," ucap Maya lagi dengan maksud menyindir.
Selfina kembali tersenyum. Ia sangat bersyukur kalau suaminya memang tak suka bersama dengan perempuan lain yang bukan muhrim karena itu berarti hatinya akan aman tanpa ada rasa was-was.
"Aku kok semakin suka sih sama pak presdir," ucap Maya seraya meraba dadanya yang berdebar tak karuan. Ia tersenyum-senyum sendiri dengan pipi memerah.
"Pak presdir hebat banget karena mampu menjaga hatinya dari seorang perempuan sok alim dan juga sok cantik macam yang disono. Eh siapa ya?"
Gadis itu pura-pura berpikir. Selfina berusaha untuk tidak menanggapinya dengan mata ia tujukan pada layar laptopnya.
"Makanya kecantikan itu yang paling bagus ya yang dari dalam kayak aku ini mbak. Gak usah sok-sokan jadi orang yang sangat penting padahal gak dianggap. Kan jadi malu," lanjut perempuan itu lagi benar-benar berusaha menyindir Selfina.
"Iya mbak May, makasih banyak lho nasehatnya. Cantik luar dan dalam memang sangat bagus. Aku sangat setuju sama kamu kali ini," senyum Selfina. Ia mencari aman dengan mengiyakan kata-kata gadis itu. Dan ya, ia sedang tidak ingin berdebat dengan gadis itu.
"Nah tuh. Baru kali ini kita se frekuensi mbak Sel. Aku sendiri sedang berusaha untuk selalu cantik luar dan dalam agar perhatian pak presiden direktur tak lagi melihat kamu seorang," balas Maya dengan wajah yang penuh percaya diri. Ia berdiri dan membusungkan dadanya yang agak berisi.
Selfina merasakan kupingnya memanas. Ia sangat tidak suka mendengar kata-kata gadis itu. Akan tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ia adalah istri sah dari pria yang sedang dibicarakan oleh gadis itu dan tentunya posisinya lebih kuat. Jadi, ia tidak perlu khawatir.
"Mbak Sel, selama kamu cuti aku udah pake kirim untuk membesarkan aset aku lho, kamu bisa lihat 'kan?" ucap Maya seraya memperlihatkan dua bongkahan besar miliknya.
Selfina hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia sangat malu melihat Maya yang bertingkah aneh seperti itu.
"Bagus gak sih mbak?" tanya Maya seraya menghadapkan tubuhnya pada Selfina dan meraba miliknya itu dengan sensual seperti seorang bintang film biru.
Selfina menelan salivanya kasar. Ia hanya tersenyum kemudian mengangguk. Ia benar-benar sangat malu dengan tingkah aneh gadis itu.
Untungnya mereka hanya berdua saja di tempat itu jadi tingkah Maya tak terlalu memalukan karena mereka adalah sama-sama perempuan.
__ADS_1
"Ekhem, permisi mbak-mbak," ucap seseorang yang langsung membuat dua perempuan itu tersentak kaget. Maya langsung berpura-pura merapikan pakaiannya sedangkan Selfina langsung berdiri dari duduknya.
"Pak Hendra? Ada yang bisa kami bantu pak?" sapa sang sekretaris dengan sopan.
"Maaf mbak Sel, saya ada panggilan dari pak presiden direktur. Boleh saya masuk sekarang?" izin Hendra dari divisi keuangan.
"Ah ya tunggu sebentar ya pak. Saya akan tanyakan pada pak Presdir terlebih dahulu," ucap Selfina seraya berjalan ke arah pintu ruangan kerja sang suami.
"Iya mbak," ucap Hendra seraya melirik Maya dengan ekor matanya. Maya yang merasa diperhatikan langsung tersenyum kikuk. Ia sedikit malu pada pria itu yang mungkin melihatnya melakukan adegan tak senonoh seperti tadi.
Hendra tersenyum samar sedangkan Maya merasakan pipinya memerah karena malu. Tadinya ia hanya ingin memanas-manasi Selfina yang ia anggap saingannya tapi ternyata, aduhh!
Rasa malunya terasa sampai ke ubun-ubun. Ia pun berpura-pura sibuk dengan mengerjakan banyak hal seraya menggerutu dalam hati agar pria itu, ya. Kepala divisi keuangan di perusahaan itu segera masuk ke ruangan presiden direktur.
Tok
Tok
Tok
"Maaf pak, Ada pak Hendra dari divisi keuangan di luar. Katanya ada panggilan dari bapak," ucap perempuan cantik itu pada sang suami. Yudha tersenyum tipis kemudian menjawab, "Suruh dia masuk!"
"Baik Pak," ucap Selfina balas tersenyum dan bersiap untuk memanggil Hendra. Akan tetapi Yudha langsung memanggilnya agar mau duduk di atas pangkuannya.
"Kemarilah dulu sayangku," ucap pria mesum itu dengan tatapan hausnya. Ia sangat stres dengan keadaan keuangan perusahaan yang sangat defisit hanya karena ia berlibur terlalu lama.
"Mas, ada apa sih? Kok kusut banget," ucap sang istri sekaligus sekretarisnya itu.
"Aku pusing, dan aku ingin bibirmu sedikit saja Sel," jawab pria itu dengan tatapan lurus pada sang istri. Selfina tersenyum kemudian duduk dipangkuan suaminya.
Mereka berdua pun saling menatap kemudian tak lama kemudian saling memagut dengan sangat panas dan bergairah.
"Udah mas?" bisik Selfina saat suaminya melepaskan tautan bibir mereka berdua. Ia merasa kalau pria itu sedang stres dan sedang ingin dukungan moril.
"Belum Sel," ucap Yudha seraya berusaha membuka kancing depan kemeja sang istri.
"Mas, ada pak Hendra di luar. Udah nungguin," bisik Selfina dengan tangan berusaha menahan gerakan tangan suaminya yang menginginkan benda favorit miliknya.
__ADS_1
"Dikit saja sayang. Aku mungkin gak pulang malam ini Sel. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan sayang. Jadi kumohon berikan aku bekal yang banyak. Aku sangat mencintaimu," jawab pria itu dengan suara bergetar. Ia stress dan emosi pada semua orang yang terlibat dalam perampokan Perusahaan ini.
Ia berharap dengan melakukan hal yang menyenangkan sebelum memberikan hukuman pada mereka yang telah berbuat curang itu, ia bisa sedikit tenang.
Selfina tersenyum, ia tahu sifat suaminya. Ia pun membuka kancing depan kemejanya dan membiarkan semua keindahan dari dirinya terlihat oleh pria yang sangat dicintainya.
Ia berharap Yudha bisa tenang dan nyaman bekerja jika ia memberikan semua yang pria itu inginkan.
Yudha tersenyum. Rasanya emosinya yang ingin meledak perlahan-lahan menurun dan dingin. Ia pun mulai mendekatkan wajahnya pada dua benda kenyal dan padat milik istrinya itu kemudian meraihnya dengan bibirnya.
Selfina merasakan tubuhnya bergetar hebat. Sedangkan Yudha semakin lahap mengunyah dan menghisap tombol berwarna pink itu. Keduanya semakin terbakar.
Masalah perusahaan langsung menguap begitu saja saat mereka berdua semakin panas dan bergairah. Apalagi Yudha menginginkan Selfina memanjakan sang junior. Mereka jadi lupa daratan.
Sementara itu di luar sana, Hendra tampak sangat gelisah. Ia lelah menunggu tapi tak berani untuk memasuki ruangan itu.
Ia pun melihat ke arah Maya dan berpikir untuk mengisi rasa gelisahnya dengan mengajak ngobrol karyawan magang itu.
"Aku boleh duduk di sini gak, mbak May?" ucapnya meminta izin. Ia menatap kursi kosong di samping gadis itu.
"Ah iya pak. Silahkan," jawab Maya dengan gugup. Entah kenapa ia masih merasa sangat malu pada manager divisi keuangan itu. Hendra pun duduk seraya menatap penanda waktu di pergelangan tangannya.
"Apa mbak Selfina sering lama seperti ini jika masuk ke dalam ruangan pak presdir?" tanyanya pada Maya.
"Iya sih pak. Gak tahu tuh. Mbak Sel kalo masuk ke dalam kayak lagi ngerjain pekerjaan berat. Kadang lupa keluar, " jawab Maya mengeluh.
"Padahal 'kan bisa lewat telepon tadi izinnya kenapa harus pakai masuk coba? Bikin otak aku jadi traveling aja pak hehehe," ucap Maya dengan kekehan di akhir kalimatnya.
Hendra ikut tersenyum kemudian berucap," Saya juga ikut traveling dengan gaya kamu tadi mbak May. Itu sangat sensual."
"A-apa pak?" Maya langsung menutup wajahnya malu. Andai bisa, ia akan mencari lubang dan bersembunyi di dalamnya saking malunya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1