Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Apa kau takut?


__ADS_3

"Untukku?" Ulang Yura dengan wajah bingung. Terlebih ia sangat mengetahui kartu seperti apa yang ia pegang saat ini.


"Aku tidak akan mengulangi perkataanku. Pegang kartu itu karena itu adalah bentuk nafkah lahir dariku." Ucap Rey.


"Apa?" Yura tertegun mendengar apa yang Rey ucapkan.


Rey memilih beranjak dari hadapan Yura tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.


Tapi apa aku pantas menerima nafkah lahir dari Kak Rey sedangkan aku belum memberikan nafkah batin padanya? Tanya Yura dalam hati. Yura pun melangkah ke arah lemari dan meletakkan di dalam dompetnya kartu yang diberikan Rey padanya. Ia memilih menerima kartu dari Rey namun belum yakin untuk menggunakannya.


Setelah meletakkan kartu di dalam lemari, Yura berjalan ke arah ranjang sambil menatap Rey yang kini nampak fokus pada laptop di pangkuannya. "Sejak kapan Kak Rey membuka laptopnya? Kenapa cepat sekali?" Tanya Yura dalam hati.


Seperti biasanya sebelum tidur, Yura memilih mengambil salah satu buku novel favoritnya yang ada di dalam lemari nakas yang belum selesai ia baca saat berada di rumah orang tua Rey. Ia lalu duduk di atas ranjang dan membuka novel lalu membacanya.


Tanpa terasa dua jam lebih sudah ia membaca buku novel favoritnya. Yura meletakkan buku novelnya di atas nakas lalu menatap pada Rey yang masih sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Hoam..." Yura menguap sambil menutup mulutnya. "Apa dia sangat sibuk?" Tanya Yura. "Agh, sudahlah. Lebih baik aku tidur lebih dulu." Ucap Yura lalu berbaring di atas ranjang. Karena matanya sudah lelah dan mengantuk, tak membutuhkan waktu lama bagi Yura untuk terlelap.

__ADS_1


*


Pukul sebelas lewat dua puluh menit, Rey menutup laptonya. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk sambil memangku laptopnya. Pandangannya pun tertuju pada sosok istrinya yang sudah nampak tertidur lelap di atas ranjang.


Rey bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah meja dan meletakkan laptopnya di sana. Setelahnya ia pun naik ke atas ranjang dengan hati-hati agar tak membangunkan Yura dari tidurnya.


Sejenak Rey menatap wajah Yura yang nampak damai dalam tidurnya. Wajah wanita itu semakin terlihat cantik jika dalam keadaan tertidur seperti saat ini. Setelah cukup menatap wajah Yura, Rey pun membaringkan tubuhnya dan tak lupa mematikan lampu kamar tidurnya.


"Selamat tidur." Gumamnya lalu perlahan memejamkan kedua kelopak matanya.


*


Suara petir diikuti gemuruh yang terdengar sangat keras membangunkan Yura dari tidurnya. Yura menatap ke sekitarnya yang nampak gelap dan hanya lampu tidur sebagai penerang kamarnya.


"Kak Rey..." lirihnya memberanikan diri menggoyangkan tubuh Rey karena merasa takut dengan suara petir yang terdengar semakin kerasa dari luar. Keringat dingin pun mulai bercucuran di tubuhnya karena merasakan takut yang teramat saat ini.


"Kakak..." Yura mulai terbata sambil menggoyangkan tubuh Rey.

__ADS_1


Perlahan kedua kelopak mata Rey pun terbuka. Rey menatap samar-samar wajah Yura yang kini terlihat sangat dekat dengan wajahnya.


"Ada apa?" Tanya Rey dengan suara parau.


"A-aku takut..." lirih Yura lalu memejamkan kedua kelopak matanya saat mendengar suata gemuruh dan petir yang bersahutan dari luar jendela kamarnya.


Rey seketika bangkit dari pembaringannya saat menyadari ketakutan Yura saat ini.


"Apa kau takut?" Tanya Rey terdengar lembut di telinga Yura.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2