Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Kebahagiaan dan kesedihan


__ADS_3

"Apa kau yakin tidak ingin pulang ke rumah saja?" Tanya Rey saat mobil miliknya telah sampai di depan perusahaan Yura.


Yura mengangguk. "Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini, Kak. Lagi pula tubuhku saat ini sudah sangat baik untuk dibawa bekerja."


Rey memperhatikan wajah istrinya dengan intens. Yura benar jika saat ini ia terlihat sehat dan baik-baik saja. Walau pun begitu tetap saja sebagai seorang suami Rey mencemaskan kondisi istrinya itu. "Kau harus ingat jika mulai saat ini mengurangi porsi kerjamu." Ucap Rey.


"Emh, ya. Aku akan melakukannya, Kak." Jawab Yura.


"Kemarilah." Ucap Rey sambil melonggarkan kedua tangannya. Yura mengiyakannya lalu masuk ke dalam dekapan suaminya. "Nanti sore aku akan menjemputmu pulang bekerja."


"Baik, Kak. Aku akan menunggu Kakak datang."


Rey membenamkan ciuman cukup lama di kening Yura lalu mengusap pipi Yura.


Setelah berbincang sejenak dengan suaminya di dalam mobil, Yura pun berpamitan untuk masuk ke dalam perusahaannya. Rey memperhatikan gerak-gerik istrinya itu hingga lenyap dari pandangannya. "Sekali lagi maafkan aku karena telah mengabaikanmu." Lirih Rey menatap sosok Yura yang semakin lenyap dari pandangannya.


*

__ADS_1


"Yura..." suara teriakan Rachel yang terdengar sangat keras mengagetkan Yura dan Rey yang sedang menikmati makan malam mereka di meja makan.


"Rachel?" Yura tersenyum menyambut kedatangan adik iparnya itu. Sedangkan Rey menatap datar pada adiknya yang telah mengganggu acara makan malam romantisnya dengan Yura. "Ayo duduk dulu. Apa kau sudah makan?" Tanya Yura.


"Baiklah. Kebetulan sekali aku belum makan." Jawab Rachel lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Yura. Ingin sekali saat ini Rachel memeluk sahabatnya yang tengah mengandung ponakan kembarnya namun niat itu Rachel urungkan karena ia lebih mengutamakan perutnya yang sudah kosong sejak siang tadi.


Rey dan Yura pun melanjutkan makan mereka bersama dengan Rachel. Selama makan malam berlangsung baik Yura atau Rachel saling diam karena tidak ingin membuat Rey marah karena berbicara saat makan.


Setelah menghabiskan makan malam mereka masing-masing, Yura mengajak Rachel untuk duduk di ruang tamu bersama Rey.


"Oh Yura..." Yura dibuat terkejut saat tiba-tiba saja Rachel memeluk erat tubuhnya. Dan ia semakin dibuat terkejut mendengar isakan kecil yang keluar dari mulut Rachel.


"Aku senang Yura..."Jawab Rachel.


"Jika kau merasa senang kenapa kau justru menangis?" Tanya Yura merasa bingung.


"Itu karena..." Rachel semakin menangis dengan kencang.

__ADS_1


"Rachel..." Yura yang merasa panik dengan sikap Rachel pun berusaha menjauhkan tubuh Rachel darinya. Namun bukannya menjauh Rachel justru semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Yura.


"Aku sangat senang karena mengetahui aku sedang hamil ketiga calon keponakanku. Dan aku juga merasa sedih karena sampai saat ini Mama belum juga kembali." Lirih Rachel dalam pelukan Yura.


Yura tersenyum seraya mengusap punggung Rachel. "Bagaimana kau bisa tahu jika aku sedang mengandung, hem?" Tanya Yura.


"Itu karena aku tadi melihat surat keterangan hamil milikmu di kamar Kak Rey jawab Rachel.


Yura mengangguk paham. Rey tadi memang sudah mengatakan jika surat yang ia berikan tertinggal di dalam kamarnya dan hal itulah yang mungkin membuat Rachel dapat melihat surat itu.


"Sudahlah... jangan bersedih. Besok kita jumpai Mama untuk membawa Mama kembali ke rumah." Ucap Yura menenangkan Rachel. Sebelumnya ia dan Rey memang sudah bersepakat membawa mertuanya kembali dengan cara memberitahu kabar kehamilannya pada Mama Kyara.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2