Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Seorang putra dan dua putri


__ADS_3

Rey memilih diam sambil menatap ke arah luar dimana bayang-bayang istrinya masih tertinggal di sana.


"Hei... aku sedang bertanya!" Tegur Alfin.


"Aku tidak ingin menjawabnya." Balas Rey.


"Berarti kau sudah siap jika Yura nantinya akan cemburu dengan keberangkatan kita bersama Flower?" Tanya Alfin sinis.


"Dia tidak akan cemburu." Jawab Rey seadanya.


"Maksudmu? Kenapa dia tidak akan cemburu?" Alfin merasa penasaran dengan maksud ucapan Rey.


Rey kembali diam seakan enggan menjawab pertanyaan Alfin. Melihat respon Rey membuat Alfin hanya bisa menggelengkan kepalanya karena ia tahu Rey tidak akan mau menjawab pertanyaannya.


Pembicaraan mereka tentang Yura pun terhenti karena Rey meminta mereka membahas tujuan mereka bertemu hari ini. Apa lagi jika bukan membahas rencana peluncuran produk baru dari perusahaan mereka. Alfin pun mengiyakan perkataan Rey lalu mengeluarkan dokumen yang ia bawa.

__ADS_1


*


Satu bulan tanpa terasa berlalu begitu cepat. Dengan bertambahnya hari maka bertambah pula sikap perhatian dan keposesifan Rey pada Yura di saat Yura sedang bertemu dengan Galang atau berbalas pesan dengan Galang menanyakan sebuah pekerjaan.


Yura tak mempermasalahkan sikap suaminya itu. Ia justru merasa senang karena dengan sikap Rey seperti itu menunjukkan jika pria itu mencintainya dan takut akan kehilangannya. Dan hari ini, tepat di usia kandungan Yura yang menginjak lima bulan, Yura dan Rey kembali memeriksakan kandungan Yura ke dokter kandungan untuk melihat perkembangan anak-anak mereka dan melihat jenis kelamin anak-anak mereka.


"Apa? Satu laki-laki dan dua perempuan?" Rey begitu senang mendengarnya saat Dokter membaca hasil USG yang memperlihatkan jenis kelamin ketiga anak mereka. Yura yang tengah berbaring pun turut berkaca-kaca mendengarkan jenis kelamin anak mereka.


"Kau dengar itu, Sayang. Kita akan memiliki seorang jagoan dan dua orang putri." Ucap Rey lembut sambil mengusap rambut istrinya.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Yura pun dibantu oleh Rey dan seorang perawat untuk turun dari atas ranjang. "Anak-anak Daddy... teruslah sehat di dalam sini." Ucap Rey sambil berbisik pada perut Yura.


Yura tersenyum dan tangannya pun terulur mengusap rambut tebal Rey. Mereka pun melangkah ke arah meja Dokter dan duduk di hadapan Dokter.


"Saya sudah merespkan beberapa obat dan vitamin untuk Nona Yura. Anda bisa menebusnya di bagian farmasi." Ucap Dokter sambil menyerahkan selembar surat pada Rey.

__ADS_1


Rey mengangguk paham lalu berpamitan keluar dari dalam ruangan karena pemeriksaan sudah selesai.


"Mulai saat ini kau dilarang keras untuk bekerja dan berpikir terlalu keras. Kau dengar jelas perkataan dokter tadi bukan jika kau tidak boleh terlalu banyak pikiran yang bisa membuat kesehatan tubuhmu menurun." Tutur Rey lembut.


Yura mengangguk saja mengiyakan perkataan suaminya. Lagi pula ia sudah berjanji pada Rey dan Kakaknya jika usia kandungannya sudah memasuki lima bulan ia akan banyak bekerja di rumah dibandingkan di perusahaan. Walau usia kandungannya masih menginjak lima bulan, namun bentuk perut Yura sudah besar seperti hamil tujuh bulan.


"Kak Rey, Yura, bagaimana hasilnya?" Tanya Rachel saat melihat Rey dan Yura keluar dari dalam ruangan pemeriksaan.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2