Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Aman dan terkendali


__ADS_3

"Baiklah." Jawa Rey lalu memperhatikan Yura yang hendak memakai kembali cela-na da-lamnya.


Yura menghetikan kegiatannya saat melihat rey tengah memperhatikannya. "Bisakah Kakak melihat ke arah lain?" Pinta Yura.


"Memangnya kenapa jika aku menatap padamu?" Tanya Rey sedikit ketus.


"Aku merasa malu dilihat seperti itu." Jawab Yura jujur.


Rey langsung mengarahkan pandangannya ke arah lain tanpa menjawab ucapan Yura. Ia tidak ingin mengajak istrinya itu berdebat hingga membuat Yura semakin lama memakai pakaiannya.


Setelah melihat Rey menatap ke arah lain, Yura segera memakai celananya walau sedikit merasa kesulitan.


"Apa kau sudah siap?" Tanya Rey tanpa menoleh pada Yura.


Yura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban walau Rey tidak melihatnya. Setelah merasa Yura telah selesai memakai pakaiannya, Rey pun mengalihkan pandangannya pada Yura. "Kalau begitu aku keluar dulu. Ada Malik yang sedang menungguku di lantai bawah." Ucap Rey.


"Benarkah? Untuk apa Malik datang ke sini, Kak?" Tanya Yura.


"Tentu saja untuk mengantarkan salep untukmu." Jawab Rey.


"A-apa?" Yura terbata. Ia tak dapat menahan rasa malunya saat ini karena Malik-lah yang membeli salep pereda nyeri itu untuknya. Ia tidak dapat membayangkan apa yang ada dalam pemikiran Malik saat ini tentangnya. Yang jelas Yura dapat meyakini jika Malik mengetahui untuk apa salep itu digunakan.


"Jangan memikirkan hal yang tidak penting." Ucap Rey yang seolah mengetahui isi pemikiran Yura saat ini.

__ADS_1


"Aku tidak sedang memikirkan apa-apa, Kak." Jawab Yura berbohong.


Rey memilih diam saja tak menyangkal ucapan istrinya. "Aku keluar dulu." Ucapnya lalu beranjak dari duduknya.


Yura mengangguk lalu memperhatikan pergerakan suaminya hingga lenyap dari pandangannya. "Huft... kenapa aku selalu sulit mengartikan sikapnya kepadaku." Lirih Yura merasa bingung harus berpikir apa tentang perhatian Rey padanya saat ini.


*


Rey sudah berada di lantai bawah. Ia melangkah mendekati Malik yang sedang duduk di atas sofa. "Bagaimana?" Tanya Rey tanpa menjelaskan maksud pertanyaannya.


Malik yang sudah mengerti arah pertanyaan Rey pun segera menjawab. "Nona Flower sudah mulai mengerjakan tugasnya walau saya harus menekannya lebih dulu, Tuan." Jawab Malik.


Rey mengangguk paham. "Ingat, jangan sampai ia mengetahui lebih banyak tentang hidupku saat ini. Biarkan saja dia larut dalam pemikirannya sendiri." Titah Rey.


"Baik, Tuan." Jawab Malik patuh.


"Sekarang kembalilah ke perusahaan. Patikan urusan perusahaan berjalan dengan baik." Titah Rey.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu." Ucap Malik yang diangguki Rey sebagai jawaban.


Setelah mendapatkan jawaban dari Rey, Malik pun segera keluar dari dalam rumah Rey. Baru saja ia melangkah keluar dari dalam rumah, Malik sudah dikejutkan dengan kehadiran Rachel secara tiba-tiba.


"Hai Kak Malik." Sapa Rachel sambil tersenyum manis pada Malik.

__ADS_1


"Hai, Nona." Jawab Malik mencoba tersenyum walau sedikit kaku.


"Aku dengar Kak Rey dan Yura hari ini tidak bekerja, apa itu benar?" Tanya Rachel.


Malik menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kebetulan sekali. hari ini Papa juga tidak masuk bekerja." Jawab Rachel tersenyum.


Malik hanya diam saja tak menanggapi ucapan Rachel. Pandangan Malik pun beralih pada Gerry dan Kyara yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


"Selamat datang Tuan, Nyonya." Sapa Malik ramah.


Gerry dan Kyara tersenyum menjawabnya.


"Apa Rey ada di dalam?" Tanya Gerry.


Malik menganggukkan kepalanya. "Ada, Tuan." Jawabnya.


"Kenapa dia tidak bekerja hari ini? Tumben sekali anak itu tidak masuk bekerja?" Tanya Gerry dengan tatapan menyelidik.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2