Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Extra part (Tiba-tiba keram)


__ADS_3

Keesokan harinya Yura dikejutkan dengan pesan yang dikirimkan Rachel padanya yang mengatakan jika Rachel akan pulang ke ibu kota pagi ini. Entah apa yang membuat Rachel mengambil keputusan demikian karena seingatnya Rachel mengatakan akan menginap di hotel yang sama dengan mereka selama tiga hari kedepan.


"Kak Rey, kenapa Rachel tiba-tiba saja ingin pulang?" Tanya Yura setelah memperlihatkan pesan yang Rachel kirimkan pada Rey.


Rey mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu." Jawabnya.


Yura dibuat bingung namun ia merasa enggan mempertanyakan alasan Rachel karena yakin Rachel tidak akan menjawabnya terlebih saat ini Rachel pasti sudah berada di dalam pesawat yang akan membawanya kembali ke ibu kota.


"Kau tenang saja. Ada Harry yang selalu mendampingi dan menjaganya." Ucap Rey agar istrinya tidak terlalu mencemaskan Rachel.


Yura menganggukkan kepalanya. Ia yakin Rachel pasti baik-baik saja selama ada Harry di sampingnya.


Karena tak ingin istrinya terlalu memikirkan kepulangan adiknya, akhirnya Rey pun mengajak Yura untuk berjalan-jalan di sekitar hotel tempat mereka menginap.


"Kak Rey tunggu!" Yura menghentikan pergerakan Rey yang hendak membuka kunci kursi roda untuk Yura.


"Ada apa?" Tanya Rey.


"Aku ingin berjalan-jalan dengan menggunakan kakiku bukan didorong oleh kursi roda." Ungkap Yura.


Rey menatap Yura dengan wajah datar. "Kau tahu aku sudah mengatakan tidak ada penolakan untukmu." Ucap Rey.

__ADS_1


Yura menggelengkan kepalanya. "Untuk kali ini saja. Ku mohon." Pinta Yura.


Rey menatap wajah sendu istrinya dengan perasaan iba. "Baiklah. Hanya untuk kali ini." Putus Rey.


Yura begitu kegirangan mendengarnya. Setelah mendapatkan persetujuan dari Rey mereka pun keluar dari dalam kamar.


*


"Hei, hati-hatilah!" Rey selalu dibuat awas melihat istrinya yang berjalan tergesa-gesa dengan perut buncitnya.


Kali ini Yura tak menghiraukan perkataannya suaminya dan terus berjalan menyusuri pantai.


Melihat istrinya yang tidak mau mendengarkan perkataannya, Rey pun segera menyusul langkah Yura lalu menggenggam tangan istrinya.


Yura meneguk salivanya susah payah. Tak ingin mendapatkan hukuman seperti apa yang Rey katakan, akhirnya Yura pun mengangguk mengiyakan perkataan Rey.


"Kau terlihat manis jika menurut seperti ini." Ucap Rey lalu melangkah sambil menggenggam tangan Yura.


Yura hanya diam saja dan melangkah dengan malas karena Rey berjalan seperti siput dan membuatnya tidak bebas untuk melangkah kemana saja.


"Aw..." beberapa saat kemudian Rey dibuat cemas saat Yura tiba-tiba meringis sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang?" Tanya Rey.


"Perutku sepertinya keram, Kak." Jawab Yura sambil meringis.


"Apa?" Rey semakin dibuat cemas. Ia pun menuntun Yura untuk duduk di kursi pantai yang berada di dekat mereka.


"Kak Rey mau apa?" Tanya Yura saat melihat Rey mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Aku akan memanggil dokter untuk datang memeriksamu." Jawab Rey cepat.


Yura segera menahan pergerakan Rey dengan memegang tangan Rey.


"Tidak perlu. Ini hanya keram biasa. Sebentar lagi juga akan hilang." Ucap Yura menenangkan suaminya yang terlihat begitu panik dan cemas.


"Tidak. Aku akan tetap memanggil dokter." Ucap Rey tak perduli apa yang Yura katakan.


"Huft..." Yura menghembuskan nafas panjang di udara.


"Ada apa?" Tanya Rey semakin cemas.


"Tak apa, Kak. Keram di perutku sudah hilang." Jawab Yura sambil mengusap perutnya tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


***


__ADS_2