Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Pilihan untuk Yura


__ADS_3

Perusahaan Dharma.


Bisik-bisik karyawan mulai terdengar saat melihat sosok pria yang sangat mereka kenali masuk ke dalam perusahaan dan kini tengah berjalan di lobby menuju pintu lift. Mereka tahu betul siapa pria itu dan apa hubungannya dengan pemilik perusahaan di tempat mereka bekerja. Para karyawan yang melewati pria itu yang tak lain adalah Rey pun memberikan sapaan padanya.


Rey hanya membalas sapaan dari beberapa karyawan yang menyapanya dengan anggukan kepalanya tanpa bersuara. Ia terus melangkah hingga kini sudah berdiri tepat di depan pintu lift yang sedang tertutup.


Walau statusnya saat ini adalah menantu daei pemilik perusahaan, namun Rey tidak menggunakan kekuasaan dan statusnya untuk masuk ke dalam pintu lift khusu petinggi perusahaan. Ia mengantri dengan karyawan lainnya di depan lift khusus karyawan.


Ting


Pintu lift terbuka dan Rey langsung bergegas masuk ke dalam lift bersama karyawan yang lainnya. Setelah pintu lift bergerak ke atas Rey segera mengeluarkan ponselnya dan memberikan kabar pada istrinya jika saat ini ia sedang berada di luar perusahaan dan akan menghampiri istrinya setelah urusannya selesai.


Beberapa saat kemudian, Rey telah berada di dalam ruangan Presdir dan berhadapan dengan Presdir perusahaan Dharma siapa lagi kalau bukan Aidan.

__ADS_1


"Ada angin apa yang membawamu datang ke sini?" Tanya Aidan merasa heran dengan kedatangan Rey saat ini.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu." Jawab Rey.


"Apa itu? Apa tengang adikku?" Tebak Aidan.


Rey pun mengangguk membernarkan.


"Ada apa dengan adikku?" Tanya Aidan cepat.


Aidan yang sudah menangkap maksud ucapan Rey mengarah ke arah serius pun meminta Rey untuk duduk di sofa saja agar pembahasan mereka lebih nyaman. Rey pun mengiyakannya lalu beranjak menunu sofa diikuti Aidan setelahnya.


"Jadi ada apa ini? Kenapa kau ingin membahas tentang kehamilan dan pekerjaan adikku?" Tanya Aidan setelah duduk di atas sofa.

__ADS_1


"Kau tahu saat ini kehamilan Yura sudah memasuki empat bulan dan saat ini Yura sedang mengandung bayi kembar tiga. Di kehamilannya saat ini Yura sudah mulai kesulitan bergerak dan mudah lelah karena efek kehamilan." Rey sejenak menjeda ucapannya agar Aidan dapat mencerna apa maksud perkataannya


"Lalu?" Tanya Aidan kemudian.


"Sebagai seorang suami, aku merasa tidak tega melihatnya masih bekerja dengan kondisi seperti saat ini. Aku tidak ingin Yura terlalu lelah hingga bisa berakibat buruk bagi kesehatan anak-anak kami. Kau tahu betul bukan bagaimana kondisi wanita hamil kembar seperti apa yang dialami Alea saat itu?" Tanya Rey.


Aidan mengangguk paham. "Apa kau ingin aku meminta Yura agar berhenti bekerja?" Tanya Aidan.


Rey mengangguk mengiyakan. "Sebaiknya begitu. Aku tahu saat ini keadaan seperti memaksa untuk Yura tetap bekerja. Namun aku juga tidak ingin mengambil risiko jika nanti pekerjaan Yura membuatnya menjadi semakin lelah." Terang Rey.


"Aku sudah sempat memikirkan dan membahas hal ini dengan Ayah. Aku bahkan pernah menawarkan Yura untuk berhenti bekerja selama hamil namun Yura menolaknya. Kau tahu betul bukan alasan dia menolaknya? Tanya Aidan.


Rey mengangguk. "Maka dari itu aku harap kau bisa membantuku agar Yura mau berhenti bekerja atau jalan keluarnya kau lah yang menggantikannya atau Yura bekerja dari rumah saja." Saran Rey.

__ADS_1


***


__ADS_2