
Setelah sampai di kediaman kedua orang tuanya, Rey tanpa basa-basi langsung mempertanyakan apa maksud papanya membiarkan mamanya pergi meninggalkan rumah mereka. Dan benar seperti dugaannya, Papa Gerry membiarkan Mama Kyara pergi sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan maaf dari istrinya dan membiarkan Mama Kyara untuk tenang lebih dulu.
Papa Gerry pun meminta pada anak-anaknya untuk tidak mencari keberadaan Mama Kyara karena itu adalah permintaan Mama Kyara dan Mama Kyara akan berjanji untuk pulang secepatnya ke kediaman mereka.
Walau Rachel tidak setuju dengan keputusan papanya dan meminta Rey tetap mencari keberadaan Mama Kyara, Rey memilih mengikuti perkataan Papanya karena ia yakin Mama Kyara akan segera kembali.
"Kak Rey..." Rachel kembali memohon untuk mencari Ma Kyara namun Rey menggelengkan kepalanya tanda penolakan.
Merasa kesal karena kakaknya tidak mengikuti perkataannya, Rachel memilih untuk pergi dari hadapan Rey menuju kamarnya.
"Biarkan saja adikmu pergi." Ucap Riana pada Rey.
Rey menghembuskan nafas kasar di udara lalu mengusap kasar wajahnya. "Baik, Nek." Balas Rey lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Riana tak lagi bersuara dan memilih beranjak menyusul Johan yang sudah berpamitan pergi ke kamar mereka.
"Mama... maaf jika Rey ikut andil dalam masalah ini. Rey tidak bermaksud untuk menyakiti Mama." Lirih Rey yang merasa bersalah telah ikut serta membantu papanya selama ini membantu mengurus Ketty selama di Amerika.
__ADS_1
Hari itu Rey menghabiskan waktu berada di kediaman kedua orang tuanya dengan membahas permasalahn yang ada di keluarganya saat ini dan menenangkan Rachel yang sedang bersedih. Tak lupa Rey mengutus beberapa anak buahnya untuk mencaritahu dimana keberadaan Mamanya saat ini.
Dan merasa bersyukurnya Rey saat mengetahui Mamanya tengah berada di tempat yang aman dan seperti yang Mamanya katakan ia hanya pergi sebentar untuk menenangkan diri.
*
Malam itu Rey kembali ke kediamannya dan Yura dengan wajah lelah dan lesu. Terlihat jelas di raut wajahnya sebuah beban yang sedang ia pendam saat ini. Ia terus melangkah dengan pandangan lurus ke depan tanpa sadar jika kini Yura tengah mengejar langkahnya dari arah dapur.
"Kak Rey..." ucap Yura sedikit berteriak pada Rey yang hendak naik ke atas tangga.
Rey menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah belakang. "Yura?" Ucapnya pelan.
"Emh, ya." Jawab Rey seadanya.
"Apa ada masalah?" Tanya Yura saat menyadari ada yang tidak beres di wajah suaminya.
"Sedikit masalah. Nanti aku akan menceritakannya setelah mandi." Jawab Rey.
__ADS_1
Yura mengangguk mengiyakan. "Oh ya, apa Kakak sudah melihat isi kotak itu?" Tanya Yura.
Rey terdiam beberapa saat lalu mengangguk sebagai jawaban. "Sudah." Ucapnya.
Yura memperhatikan raut wajah suaminya yang terlihat biasa saja saat mengatakannya. Tidak terlihat di wajah tampan suaminya itu rasa bahagia atau haru seperti yang dibayangkannya sebelumnya.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu. Badanku sudah sangat lelah dan lengket." Pamit Rey.
Yura memilih diam dan membiarkan Rey melangkah tanpa menunggu jawaban darinya.
"Kak Rey..." lirih Yura dengan mata berkaca-kaca. Tanganya terulur mengelus perutnya dengan perasaan sedih. "Apa Kak Rey tidak bahagia dengan kabar yang aku berikan?" Lirihnya kemudian.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.