Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Dia akan tumbuh di sini


__ADS_3

Rachel menghela nafas panjang setelah mendengarkan penjelasan dari Yura. Dengan sikap Kakaknya yang terlalu datar, dingin dan tidak ada kata romantis pantas saja membuat Yura selalu salah paham dengan sikap yang sering ditunjukkan Rey padanya.


"Yura... aku tahu kau bukanlah wanita bodoh. Kau pasti dapat merasakan bagaimana sikap Rey saat ini yang mulai berubah padamu." Ucap Rachel.


Yura mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak bisa mengartikannya terlalu cepat. Bisa saja apa yang aku lihat dan aku rasakan tidak sesuai dengan apa yang ada dirasakan Kak Rey." Jawab Yura tak ingin berharap.


Rachel lagi-lagi menghela nafas panjang. Kali ini ia tidak bisa menyalahkan Yura atas pemikirannya karena Yura hanya ingin membentengi hatinya agar tidak terlalu terbawa perasaan pada sikap suaminya yang bisa saja tidak sesuai dengan apa yang ia perkirakan.


"Yura, mungkin kau bisa saja mengelak jika kau tidak bisa sepenuhnya mengartikan sikap Kak Rey padamu. Tapi aku yakin kau dapat menilai dengan jelas bagaimana saat Kak Rey menyentuhmu. Dia tidak mungkin menyentuhmu jika tidak ada cinta di dalam dirinya untukmu." Tekan Rachel.


Yura sejenak terdiam lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin untuk itu. Bukankah kita pernah membaca buku bersama jika seorang pria bisa saja menyentuh wanita tanpa ada cinta di dalam hatinya?" Tanya Yura.


"Yura..." Rachel dibuat geram tak dapat berkata-kata. Ia hanya bisa menghembuskan nafas kasar di udara sebagai pelampiasan kekesalannya saat ini pada Yura.


Percakapan mereka pun kembali lanjut dengan usaha Rachel yang berusaha meyakini Yura jika sikap baik kakannya beberapa waktu terakhir ini pada Yura adalah bentuk rasa cintanya pada Yura.

__ADS_1


"Yura, kau tahu betul bagaimana sikap kakakku sejak dulu. Dia adalah pria yang terlalu datar dan kaku. Dia juga bukanlah pria romantis yang bisa menyebutkan rasa sayangnya dengan kata-kata." Ucap Rachel untuk yang kesekian kalinya.


Yura hanya bisa mengangguk saja tanpa dengan terus membentengi hatinya agar tidak terlalu berharap dengan cinta suaminya walau sudah mendengar beberapa cerita dari Rachel.


"Yura... aku harap kau bisa menilai jelas bagaimana kakakku dengan mata dan perasaanmu." Pinta Rachel.


Yura menghela nafas sesaat. "Baiklah, aku akan melakukannya." Jawab Yura tak ingin membuat usaha Rache terasa sia-sia.


Rachel yang merasa Yura masih saja berat menerima apa yang ia katakan pun tiba-tiba saja meletakkan tangannya di perut Yura.


"Yura, bukankah kakakku sudah menyentuhmu? Bisa saja saat ini di dalam sini sudah ada calon keponakanku." Ucap Rachel lembut sambil mengusap-usap perut Yura.


Deg


Deg

__ADS_1


Jantung Yura dibuat berdebar-debar mendengarkan ucapan dari Rachel.


"A-aku dan Kak Rey baru melakukannya. Tidak mungkin dia sudah tumbuh di dalam sini." Jawab Yura sedikit gagap.


"Tidak ada yang tidak mungkin Yura. Mungkin saja saat ini belum, tapi kau tidak bisa menebak untuk beberapa waktu ke depan bukan?" Tanya Rachel sambil tersenyum.


"Chel..." Yura menjauhkan tangan Rachel dari perutnya. "Jangan berfikir yang tidak-tidak." Ucap Yura tak ingin Rachel terlalu berharap dengan hubungannya dan Rey.


"Aku mengharapkan sesuatu yang mungkin terjadi, Yura. Kau dan Kak Rey sudah melakukannya dan hadirnya calon keponakanku di sini adalah sebuah hal yang mungkin saja bisa terjadi."


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2