Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Bolehkah aku memegangnya?


__ADS_3

Setelah berbicara cukup panjang dengan Rey saat itu, akhirnya beberapa hari kemudian Aidan pun mendatangi perusahaan cabang yang kini dipimpin adiknya dan membicarakan keputusan yang akan diambilnya pada Yura. Yura pun mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aidan tanpa berniat menyangkalnya hingga Aidan berhenti berbicara.


"Jadi Kakak ingin aku bekerja dari rumah saja?" Tanya Yura menangkap maksud ucapan Aidan.


Aidan mengangguk membenarkan. "Kakak cukup khawatir dengan kondisimu saat ini. Kakak tidak ingin karena bekerja memimpin perusahaan kau jadi lelah dan berakibat buruk pada kesehatanmu." Tutur Aidan.


Yura terdiam tak langsung menjawab ucapan Aidan. Ia mencerna setia maksud dari ucapan Aidan lalu menghembuskan nafas bebas di udara. "Tapi aku tidak bisa untuk saat ini, Kak. Terlalu banyak perkerjaan yang akan terbengkalai jika aku tidak langsung bekerja di perusahaan." Ucap Yura.


"Kakak tahu itu. Maka dari itu Kakak ingin memberikan pilihan untukmu agar bekerja dari rumah untuk bulan berikutnya di saat usia kandunganmu sudah memasuki lima bulan."


"Baiklah. Aku akan memikirkannya dan membahas ini dengan Kak Rey lebih dulu." Putus Yura.


Aidan mengangguk saja menyetujui keinginan adiknya itu. Setelah cukup memberi penjelasan pada Yura, Aidan pun berpamitan untuk kembali ke perusahaan pusat.


"Apa Kak Rey yang meminta pada Kak Aidan agar menyuruhku bekerja dari rumah saja?" Ucap Yura menebak-nebak. Yura pun memutus apa yang sedang ia pikirkan karena dalam waktu satu jam lagi ia akan mengadakan pertemuan dengan Galang di salah satu cafe yang cukup jauh dari perusahaannya. Yura pun segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Jeni untuk menanyakan persiapan untuk pertemuan mereka nanti.

__ADS_1


*


"Hai, Yura." Galang tersenyum menyambut kedatangan Yura dan Jeni.


"Hai, Gal." Jawab Yura lalu mengulurkan tangan pada Galang untuk berjabat tangan.


Jeni pun turut melakukan hal yang sama lalu mereka duduk di kursi yang berhadapan dengan Galang.


"Kau terlihat kesulitan berjalan tadi." Ucap Galang pada Yura.


"Emh, ya." Pandangan Galang beralih pada perut Yura yang terdapat tiga calon bayi milik Rey yang dulu ia anggap adalah rivalnya.


Yura tersenyum. "Mungkin karena perutku yang mulai membesar membuatku kesulitan berjalan." Jawab Yura.


Galang mengangguk saja dan mencoba menenangkan hati dan pemikirannya agar tidak sakit melihat Yura yang sedang mengandung saat ini.

__ADS_1


"Oh ya, apa Kakak datang hanya sendiri?" Tanya Yura karena tidak melihat keberadaan asisten Galang di sekitarnya.


"Ya. Aku datang sendiri saja karena asistenku sedang menangani pekerjaan di perusahaan lain." Jawab Galang.


Yura mengangguk paham lalu meminta Jeni mengeluarkan dokumen yang mereka bawa. Galang pun turut melakukan hal yang sama dan tak lama kemudian mereka pun sudah terlibat dalam pembicaraan serius tentang perkembangan kerja sama perusahaan mereka.


Selama pembahasan pekerjaan mereka berlangsung Yura nampak aktif berbicara menyebutkan apa saja perkembangan dari proyek kerja sama mereka yang sudah berjalan tujuh puluh persen dan sesekali tertawa saat mengingat pesan para pekerja untuk mereka.


"Lain kali kita bisa memikirkan hadiah untuk mereka yang sudah bekerja keras sejauh ini." Saran Hura.


"Aku setuju untuk itu. Contohnya kita bisa memberi bonus lebih untuk mereka."


Yura mengangguk mengiyakan lalu meminum minumannya karena pembahasan di antara mereka telah berakhir.


"Oh ya, Yura, bolehkah aku memegang perutmu?" Pinta Galang tiba-tiba hingga membuat Yura hampir tersedak karenanya.

__ADS_1


***


__ADS_2