Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Membayar rasa rindu


__ADS_3

"Yura, apa kau dapat melihat jika tadi Kakakku menatap Galang dengan tatapan tidak suka?" Tanya Rachel saat ia dan Yura tengah berada di dalam mobil menuju perusahaan Dharma.


Yura menoleh sekilas pada Rachel. "Aku tidak melihatnya. Bukankah tatapan Kakakmu memang seperti itu biasanya?" Tanya Yura bingung.


"Ck." Lidah Rachel berdecak. "Apa kau begitu tidak peka hingga tidak bisa merasakan aura yang tidak enak dalam diri kakakku saat ada Galang di dekat kita tadi?" Tanya Rachel tak habis pikir.


Yura mengangkat kedua bahunya. "Kakakmu tadi hanya diam." Jawab Yura seadanya.


Rachel hanya bisa menggeleng mendengar jawaban dari Yura. Rachel pun memilih diam dan tak lagi bertanya pada Yura karena hanya akan membuang tenaganya untuk berbicara.


Tak berselang lama mobil milik Yura pun telah sampai di perusahaan Dharrma. Yura keluar dari dalam mobil diikuti Rachel setelahnya.


"Oh, ya, Rachel, apa kau belum berminat untuk bekerja di perusahaan milik keluargamu?" Tanya Yura.


Rachel menggelengkan kepalanya. "Aku belum berminat, Yura. Aku masih senang menjalani hidupku tanpa beban seperti saat ini. Sudah cukup saat di luar negeri dulu pemikiranku selalu dipenuhi dengan mata kuliah hingga akhirnya skripsi." Jawab Rachel dengan wajah masamnya.


Yura tertawa mendengarnya. "Tapi apa kau tidak merasa bosan hanya berada di rumah tanpa melakukan apapun?" Tanya Yura sambil terus melangkah masuk ke dalam perusahaan. Tak lupa Yura menampilkan senyuman manisnya pada karyawannya yang lewat dan menyapanya.

__ADS_1


"Tidak. Lagi pula jika aku merasa bosan aku bisa mengunjungimu ke sini. Atau tidak aku bisa mengajak Alula bermain bersama di cafe atau ke mall." Jawab Rachel.


Yura hanya bisa tersenyum mendengarkan jawaban dari Rachel. Mereka pun terus berjalan hingga akhirnya berhenti di depan pintu lift. Dan seperti biasanya, jika tidak dalam keadaan terdesak Yura memilih menggunakan lift khusus karyawan untuk naik ke lantai teratas dimana ruangannya berada.


Saat berada di dalam lift, Rachel dan Yura memilih diam satu sama lain karena kini mereka tengah berada di antara karyawan yang lainnya. Dan tibalah Yura dan Rachel di lantai teratas perusahaan. Rachel keluar lebih dulu dari dalam lift dan diikuti Yura setelahnya.


"Yura, aku masih merasa penasaran bagaimana bisa kau dan Kakakku melakukan itu kemarin malam." Ucap Rachel dengan pelan.


"Hust, diamlah dulu." Ucap Yura merasa malu.


Yura menghela nafasnya. "Aku akan menceritakannya setelah pekerjaanku selesai, oke?" ucap Yura. Sebisa mungkin ia akan mengundur waktu agar tak menceritakan kejadian intimnya itu pada Rachel.


Rachel mengangguk saja lalu tersenyum saat mereka berpapasan dengan Jeni yang baru saja keluar dari dalam pantry.


*


Saat malam hari telah tiba, Yura terlihat tengah disibukkan dengan kegiatannya mempersiapkan baju dan barang-barang yang akan dibawanya besok ke kota S.

__ADS_1


"Kau terlihat begitu bersemangat menyiapkan pakaian untuk pergi besok." Ucap Rey yang sejak tadi sudah merasa gatal untuk bersuara.


Yura menghentikan aktivitasnya lalu menatap pada Rey. "Maksud Kakak?" Tanyanya tak mengerti.


Rey mendengus melihat wajah bingung Yura. Tak ingin merasa kesal karena Yura tidak akan mengerti maksud ucapannya, Rey pun memilih menghampiri Yura yang tengah berdiri di samping ranjang sambil memegang pakaian yang ingin dimasukkan ke dalam koper.


"Eh?" Yura dibuat terkejut saat tiba-tiba saja tangan Rey sudah melingkar di pinggangnya. "Lepaskan, Kak. Aku belum siap memasukkan bajuku ke dalam koper." Pinta Yura sambil berusaha melepaskan tangan Rey dari pinggangnya.


"Tidak akan. Kau harus membayar rasa rinduku untuk empat hari ke depan." Ucap Rey dengan tangan yang mulai berkeliaran kemana-mana.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2