Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Dia ingin menemuimu


__ADS_3

"Kau ingin kemana?" Tanya Rey dengan datar.


"Aku ingin ke warung." Jawab Yura apa adanya sambil menatap tangan Rey yang masih memegang lengannya.


Rey melepaskan cekalan tangannya dan menatap datar Yura. "Kau ingin pergi sendiri tanpa memberitahuku lebih dulu?" tukas Rey.


"Untuk apa aku memberitahukannya pada Kakak?" Tanya Yura merasa bingung.


"Apa kau sangat yakin pergi ke warung seorang diri tanpa takut jika bisa saja ada pemuda yang berniat tidak baik padamu di sana?" Tanya Rey sinis.


"Aku tidak takut. Lagi pula saat tinggal di desa dulu aku sering pergi ke warung sendirian." Jawab Yura.


Lidah Rey berdecak pelan. "Lantas kau ingin menyamakan desa Nenekmu dengan di sini?" Tanya Rey. Yura memilih diam dengan tatapan bingungnya. "Dan harus kau ingat jika Ayahmu sudah menitipkanmu kepadaku dan aku harus memastikan jika kau baik-baik saja selama di sini." Tekan Rey lalu menarik tangan Yura keluar dari dalam rumah.


Yura tertegun melihat sikap Rey kepadanya. Ia menatap tangannya yang kini digenggam erat oleh Rey. "Aku bisa berjalan sendiri." Ucap Yura lalu melepaskan tangan Rey dari tangannya. Ia pun berjalan lebih dulu tanpa memperdulikan Rey yang kini menghentikan langkahnya karena melihat sikapnya.


Kenapa dia melakukan sentuhan fisik kepadaku? Tanya Yura dalam hati dan semakin mempercepat langkahnya. Entah mengapa saat ini ia merasa tidak suka dengan tindakan Rey memegang tangannya. Sangat berbeda jauh dengan dulu dimana ia pasti sangat bahagia jika Rey memegang tangannya.

__ADS_1


Rey pun kembali melanjutkan langkahnya mengejar Yura yang sudah berjalan jauh di depannya. Bagaimana pun juga ia harus tetap menemani Yura kemana pun ia pergi karena Rey sangat paham bagaimana situasi desa yang saat ini mereka tempati.


Setelah pulang dari warung, Yura segera masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Rey. Ia meletakkan barang belanjaannya di atas meja lalu berjalan ke arah ranjang berukuran single da menjatuhkan tubuhnya di sana.


Pemikirannya tertuju pada kejadian beberapa saat lalu dimana Rey melayangkan tatapan tajamnya pada pria desa yang berusaha menggoda Yura. "Kenapa aku merasa pemuda yang ada di desa ini sikapnya sangat berbeda jauh dengan pemuda yang ada di desa Nenek." Gumam Yura. Ia pun mulai merasa tidak nyaman dengan sikap para pemuda desa yang menatapnya dengan tatapan lapar.


Lain kali jangan pernah berpikir jika setiap perlakuan orang itu akan sama kepadamu. Ucapan Rey padanya beberapa saat lalu pun tak luput dari pemikirannya saat ini. "Dia benar jika tidak semua orang itu sama." Ucap Yura kemudian mengingat perkataan Aidan. Pantas saja beberapa hari yang lalu Aidan sempat memperingatinya agar tidak berjauhan dari Rey kemana pun ia pergi dan menjaga dirinya dengan baik selama berada di desa.


"Baiklah, aku harus lebih berhati-hati setelah ini." Gumamnya. Setelah cukup lama berpikir, Yura pun memilih memejamkan kedua kelopak matanya untuk tidur tanpa menyentuh makanan yang sudah ia beli di warung karena selera makannya sudah hilang begitu saja.


*


Yura menghela nafas lega saat mobil yang dikendarai Rey mulai memasuki perkarangan rumahnya. Entah mengapa hatinya mulai merasa tenang setelah berada dekat dengan keluarganya seperti saat ini. Berbeda dengan dua hari yang sudah ia lewati selama berada di desa.


"Apa kau tidak ingin turun?" Suara Rey berhasil membuyarkan lamunan Yura. Yura menoleh ke samping menatap Rey yang kini menatapnya dengan datar.


"Ya, aku akan turun." Ucap Yura lalu membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil. Setelahnya Rey pun turut turun dari dalam mobil dan membantu mengeluarkan barang-barang Yura.

__ADS_1


"Kalian sudah sampai." Ucap Aidan yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Kak Aidan? Kakak ada di sini?" Tanya Yura tanpa menjawab ucapan Aidan.


Aidan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Kakak baru saja sampai bersama Galang." Ucapnya.


"Galang?" Yura cukup terkejut mendengar nama pria yang sangat dikenalinya.


"Ya. Kau tidak lupa bukan dengan Galang?" Tanya Aidan.


"Tentu saja aku tidak melupakannya, Kak. Tapi untuk apa dia datang ke sini?" Tanya Yura merasa bingung. Sedangkan Rey menatap interaksi Yura dan Aidan tanpa ekspresi.


"Karena dia ingin menemuimu di rumah setelah mengetahui kau pulang hari ini dari desa." Jawab Aidan lalu menatap sekilas pada Rey yang nampak menunjukkan perubahan ekspresi di wajahnya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenara🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2