
Rey pun mengiyakan pertanyaan Papa Gerry.
"Kenapa kau meminta membatalkannya?" Tanya Gerry.
"Karena aku tidak menyukainya." Jawab Rey seadanya.
Gerry tertegun mendengarnya. Untuk pertama kalinya putranya itu berani mengungkapkan apa yang ia rasakan. Tidak seperti biasanya yang hanya diam dan menerima apa saja yang diminta olehnya dan Kyara.
"Kenapa kau tidak menyukainya? Bukankah selama ini kau terlihat nyaman saat bersamanya?" Pancing Gerry.
"Bisakah Papa menuruti permintaanku?" Tanya Rey tanpa menjawab ucapan Gerry.
Hembusan nafas Gerry terdengar kasar di seberang telefon. "Papa tidak bisa mengabulkannya. Menerima Flower menjadi sekretaris adalah murni keputusanmu. Jika kau ingin membatalkannya, maka kau yang harus mengatakannya langsung pada Om William." Jawab Gerry.
Rey turut menghembuskan nafas kasar. Walau sudah menduga jawaban dari Papanya, namun tetap saja Rey berharap Papanya dapat membantunya kali ini.
__ADS_1
"Sudahlah, lebih baik sekarang kau bekerja dan menyelesaikan masalahmu sendiri. Dan ingat, lakukan hal yang baik untuk hidupmu bukan hanya untuk hidup orang lain. Tak selamanya diammu adalah emas. Bisa saja diammu selama ini membuatmu berada dalam masalah besar." Pesan Gerry.
Rey hanya diam hingga membuat Gerry akhirnya mematikan sambungan telefonnya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Berpisah?" Ucapan Yura kembali terngiang di kepalanya. Rey mengepalkan kedua tangannya merasa kesal mengingat ucapan istrinya itu. Ia tidak menyangka jika kata keramat itu akhirnya keluar dari mulut Yura.
*
Hingga siang harinya, kekesalan Rey masih saja tersisa mengingat ucapan Yura. Walau berusaha tidak mengingatnya kembali, namun tetap saja Rey terus teringat dengan ucapan Yura. Karena tak ingin larut dalam kekesalannya seorang diri, akhirnya siang itu Rey menyetujui ajakan Alfin untuk makan siang di salah satu resto baru yang menjadi tempat hits makan siang untuk kalangan muda dan dewasa saat ini. Dan tempat itu berada dekat dengan perusahaan cabang Dharma.
"Apa kau tidak berminat mengajak Yura untuk makan siang bersama kita? Kebetulan resto itu berada dekat dengan perusahaannya." Ucap Alfin.
Kening Alfin mengkerut setelah mendengarnya. "Ada apa denganmu? Apa kau sedang kesal padanya?" Tanya Alfin namun Rey tidak menjawabnya.
Alfin pun memilih tak lagi bertanya dan fokus pada kemudinya. Beberapa menit berlalu, mobilnya pun telah sampai di depan resto yang nampak ramai siang itu. Saat tengah memarkirkan mobilnya, pandangan Alfin tertuju pada dua mobil yang cukup dikenalinya. Alfin memilih diam tak memberitahu pada Rey dan lebih memilih memastikan pemikirannya saat sudah berada di dalam resto nanti.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam resto, Alfin mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk untuknya dan Rey.
"Di sana saja." Ucap Rey menatap pada dua kursi kosong yang saling berhadapan di sudut ruangan.
Alfin mengiyakannya dan berjalan ke arah meja yang Rey tunjuk. Saat tengah berjalan menuju meja, Rey tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat tiga orang yang saat ini sedang bercanda sambil tertawa dan ketiga orang itu sangat dikenalinya.
"Ternyata benar. Mobil tadi milik Rachel dan Galang." Ucap Alfin dalam hati.
Rey menatap tajam pada Yura yang kini sedang tertawa pada Galang tanpa memperdulikan adiknya yang turut tertawa bersama Galang.
"Bagaimana bisa dia tertawa lepas seperti itu pada pria yang jelas bukan suaminya. Sedangkan saat bersamaku dia tidak pernah tersenyum dengan tulus sedikit pun." Geram Rey dengan kedua tangan yang sudah terkepal erat.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.