Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Jantung yang berdebar-debar


__ADS_3

Rey menghela nafas lega saat mendengar suara hembusan nafas Yura yang terdengar teratur menandakan Yura sudah tertidur. Ia menatap lama wajah istrinya itu yang nampak damai dalam tidurnya.


"Kenapa dia terlihat lucu sekali." Gumam Rey menatap wajah Yura yang terlihat menggemaskan dengan mulut sedikit terbuka. Rey memilih tak memindahkan kepala Yura dari lengannya walau nanti saat ia bangun dari tidurnya akan merasakan keram di tangannya.


Suara hujan yang terdengar semakin deras di luar kamar hotel dan diiringi cuaca yang terasa semakin dingin akhirnya menghantarkan Rey menyusul Yura ke alam mimpi. Sebelum benar-benar terlelap, Rey merapatkan tubuh Yura lebih dulu dengan tubuhnya hingga mengikis jarak di antara mereka.


"Selamat tidur." Gumamnya yang sudah masuk ke alam mimpi.


*


Pukul lima pagi, Yura nampak mengerjapkan kedua kelopak matanya. Ia sedikit meringis saat merasakan sesuatu yang berat menghimpit tubuhnya. Saat kedua kelopak matanya terbuka sempurna, Yura dibuat terkejut melihat tangan kekar Rey melingkar indah di pinggang rampingnya dan tubuh mereka kini sangat dekat hingga Yura dapat merasakan hembusan nafas Rey yang terdengar teratur.


"Kak Rey..." lirih Yura menatap wajah tampan Rey. Yura mengingat kejadian tadi malam dimana Rey terlihat penuh perhatian menenangkannya yang takut dengan gemuruh dan petir yang terdengar bersahutan di luar kamar.


"Tidurlah, aku akan menjagamu." Suara lembut Rey yang terdengar tulus di indera pendengarannya masing teringat jelas di benak Yura. Mengingat itu membuat kedua bola mata Yura berkaca-kaca.

__ADS_1


"Tuhan... jangan lagi membuat aku kembali menjatuhkan hati pada pria yang tidak mengharapkan kehadiranku." Gumam Yura dalam hati. Tanpa terasa satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya.


Bukannya menolak untuk menjatuhkan hati pada suaminya itu. Namun Yura hanya tidak ingin kembali patah untuk yang kedua kalinya. Ia tidak ingin menganggap perhatian Rey saat ini sebagai bentuk kasih sayang Rey padanya. Yura sadar siapa dirinya. Sejak dulu Rey selalu menaruh rasa tidak suka padanya. Dan mungkin sampai saat ini masih demikian. Terlebih, Yura ingat jika saat ini wanita yang sudah dijodohkan dengan Rey sudah kembali.


Bersama wanita itu Rey terlihat lebih hangat dengan perhatian kecil yang Rey berikan padanya. Tidak seperti saat bertemu dengan dirinya. Bisa saja setelah ini suaminya itu berpikir ulang untuk menikahi wanita yang tak lain adalah Flower untuk memenuhi janjinya pada kedua orang tuanya.


"Maaf jika aku hampir salah paham." Gumam Yura tertuju pada perhatian Rey.


Dengan hati-hati Yura menjauhkan tangan Rey dari pinggang rampingnya agar tak membangunkan Rey dari tidurnya. Namun sayang, usahanya tak membuahkan hasil karena Rey kini terlihat sudah membuka kedua kelopak matanya.


"Kau ingin kemana?" tanya Rey dengan suara serak.


"Kamar mandi?" Ulang Rey.


Yura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


Deg


Yura dibuat tertegun saat Rey kembali menaruh tangannya melingkar di pinggang rampingnya.


"Kak Rey..." lirihnya dengan jantung yang sudah berdebar-debar.


Bukannya menjawab, Rey justru memejamkan kembali kedua kelopak matanya.


"A-aku ingin ke kamar mandi." Yura berusaha kembali melepaskan tangan Rey dari pinggangnya namun Rey tak membiarkannya lepas begitu saja.


"Tidurlah kembali. Waktu masih cukup lama untuk bersiap pergi bekerja." Ucap Rey tanpa membuka kedua kelopak matanya.


^^^


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2