
Yura berusaha tetap fokus memilih bahan-bahan makanan yang di perlukan untuk mengisi lemari pendingin di rumah barunya dan Rey. Di sebelah Yura, Rey terus mengikuti arah pandangan Yura hingga acap kali membuat Yura gagal fokus karenanya.
Kenapa sikap Kak Rey aneh sekali sejak tadi? Tanya Yura dalam hati. Bagaimana tidak aneh, sejak tadi Rey tanpa lelah menatap ke arah yang ia tatap dan membantunya memasukkan barang-barang yang ia pilih masuk ke dalam troli.
Yura memilih mengabaikan Rey dan terus fokus pada apa yang ia cari. Sesekali telinganya mendengar pujian para wanita yang berada di dekatnya untuk Rey. Pujian para wanita itu seolah tidak ada arti apa-apanya untuk Rey karena Rey tetap fokus pada Yura dan troli belanjaan mereka.
"Apa kau tidak ingin membeli buah?" Tanya Rey.
"Tentu saja aku ingin, Kak." Jawab Yura.
"Jika kau ingin lebih baik sekarang kita membeli buah dari pada menambah stok cemilan untuk di rumah." Ucap Rey datar tanpa menatap wajah Yura.
Yura menatap ke dalam troli belanjaannya yang memperlihatnya banyaknya snack yang tanpa sadar sudah masuk ke dalam troli. Ia tersenyum kikuk menatap wajah Rey lalu berjalan ke arah rak khusus buah-buahan.
Aku lupa jika saat ini sedang berbelanja dengan Kak Rey bukan bersama Rachel. Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Saat sudah berada di rak buah, Yura dibuat terkejut melihat Rey memasukkan macam-macam buah ke dalam troli dengan jumlah cukup banyak.
"Apa ini tidak terlalu banyak, Kak?" Tanya Yura pada Rey.
"Tidak. Kau harus banyak makan buah agar badan kurusmu itu sedikit berisi." Jawab Rey datar.
Yura dibuat terkejut mendengarnya. Ia menatap tubuhnya dari pantulan kaca dan melihat tubuh Rey. Jika dibandingkan tubuh Rey yang kekar dan berisi, tubuhnya memang jauh lebih kecil dari Rey. Yura pun memilih tak menjawab cibiran Rey padanya dan membiarkan Rey memasukkan buah apa saja ke dalam troli.
Setelah merasa cukup memasukkan barang apa saja yang dibutuhkan, Yura pun meminta Rey untuk mendorong troli belanjaannya ke kasir.
"Biar aku saja yang mengantri untuk membayar, Kak." Ucap Yura pada Rey.
"Baiklah kalau Kakak ingin ikut mengantri." Jawab Yura tak ingin berdebat.
Setelah cukup lama mengantri bersama pembeli yang lainnya, akhirnya tibalah giliran Yura untuk membayar barang-barang belanjaannya. Yura mengambil salah satu kartu dari dalam dompetnya dan menyerahkannya pada kasir setelah kasir menyebutkan total belanjaannya.
__ADS_1
"Tunggu!" Ucap Rey menahan kasir mengambir kartu dari tangan Yura.
"Ada apa ini Kak Rey?" Tanya Yura merasa bingung.
"Kenapa kau tidak memberikan kartu yang kemarin aku berikan padamu?" Tanya Rey dengan tatapan yang berubah tajam.
"Aku bisa membayarnya dengan kartu milikku sendiri, Kak." Jawab Yura tak menyadari kesalahannya.
"Apa kau lupa guna kartu yang aku berikan padamu itu?" Tekan Rey.
Yura diam sambil berpikir. Setelah menangkap maksud ucapan Rey, Yura memasukkan kembali kartu miliknya ke dalam dompet dan mengeluarkan kartu yang diberikan Rey padanya.
Apa Kak Rey marah karena aku menggunakan kartu millikku? Tanya Yura sambil menatap sekilas pada wajah Rey yang nampak datar tanpa ekspresi.
Setelah membayar barang-barang belanjaannya, Rey berjalan lebih dulu meninggalkan Yura yang masih bingung dengan arti wajah datar Rey saat ini.
__ADS_1
Sudahlah Yura, tidak perlu memikirkannya. Lagi pula dia sudah terbiasa marah padamu bukan?
***