Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Terbangun di pelukan yang sama


__ADS_3

Bunyi alarm yang terdengar cukup keras mengganggu Rey yang masih nyaman terlelap dalam tidurnya sambil memeluk erat tubuh Yura. Kedua mata yang tengah tertutup rapat itu perlahan terbuka saat suara alaram semakin terdengar memekakkan telinganya.


"Ugh." Suara lenguhan Rey terdengar saat merasa sebelah tangannya terasa keram akibat terlalu lama menyangga kepala Yura. Dilihatnya ke arah samping dimana Yura masih tertidur sangat pulas bahkan tidak merasa terganggu sedikit pun dengan kebisingan di sekitarnya.


Rey segera meraih sumber suara dari alaram dengan tangannya yang bebas lalu mematikannya. Dipindahkannya kepala Yura dengan hati-hati ke atas bantal agar tak mengganggu tidur istrinya. Senyuman tipis nampak terbit di wajah tampannya saat melihat wajah lelap istrinya yang terlihat sangat menggemaskan di matanya.


"Dia tidur seperti orang pingsan saja." Komentar Rey karena Yura tidak merasa terganggu dengan suara alaram yang terdengar cukup keras. Rey tidak menyalahkan istrinya itu. Wajar saja Yura tidak merasa terganggu dalam tidurnya karena wanita itu tertidur dalam kondisi lelah setelah cukup lama mela-yaninya tadi malam.


Ya, tadi malam setelah Yura membantunya mempersiapkan keperluan untuk ia bawa ke luar negeri, Rey meminta istrinya itu untuk mela-yaninya sebagai obat untuk rasa rindu yang akan ia rasakan saat berjauhan dari istrinya nanti. Rey membiarkan istrinya yang masih terlelap itu lalu dengan hati-hati menuruni ranjang.


Dilihatnya jam sudah menunjukkan lewat dari jam empat pagi, dua jam setengah lagi adalah waktu keberangkatan pesawatnya menuju negera A. Rey memutuskan untuk mandi lebih dulu sebelum akhirnya membangunkan Yura dari tidurnya.


*

__ADS_1


"Kak Rey?" Suara Yura terdengar parau menyebutkan nama suaminya saat melihat wajah suaminya begitu dekat dengan wajahnya.


"Ayo bangun, apa kau tidak ingin mengantarkan suamimu ini berangkat ke bandara?" Tanya Rey lembut.


Mata Yura yang masih terasa berat seketika cerah saat langsung mengingat jika Rey akan berangkat ke negera A pagi ini. Yura seketika bangkit dari tidurnya lalu menatap penampilan Rey dari atas sampai bawah.


"Kakak sudah mandi?" Tanyanya melihat wajah Rey yang sudah segar dan rambut yang masih basah. Tak lupa aroma sabun yang melekat di tubuh Rey menyerbak masuk ke dalam indera penciumannya.


Yura mengangguk lalu segera turun dari atas ranjang. "Maaf aku tidak menyiapkan pakaian untuk Kakak." Sesalnya.


"Tak masalah." Jawab Rey singkat dan memberi perintah pada Yura lewat tatapan matanya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Yura menurutinya dan segera berjalan ke arah kamar mandi dengan tergesa-gesa. Ia begitu merutuki dirinya sendiri yang tidak terbangun lebih awal dari suaminya. Bisa-bisanya ia bangun di saat Rey sudah mandi dan tinggal memakai pakaiannya.

__ADS_1


Setelah masuk ke dalam kamar mandi Yura segera menanggalkan pakaian yang masih melekat ditubuhnya lalu dengan gerakan cepat melakukan aktivitas mandinya pagi itu.


"Huh, kenapa Kak Rey banyak sekali meninggalkan jejak di tubuhku." Komentar Yura saat tak sengaja melihat penampakan tubuhnya di depan cermin. Yura tak lagi menghiraukan stempel pemilikan Rey dan memilih keluar dari dalam kamar mandi untuk segera memakai pakaiannya.


"Cepat kenakan pakaianmu. Aku akan menunggu di bawah." Ucap Rey yang terlihat sudah nampak rapi dengan setelan kemeja bewarna navy dan celana bewarna senada.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2