
Dan entah kapan itu, seluruh pakaian yang melekat di tubuh Yura sudah hilang dari tubuhnya. Yura menutup kedua aset berharganya saat mata Rey tak lepas menatap setiap inci tubuhnya. Rey melepaskan tangan Yura yang menutupi pemandangan yang sangat indah di matanya. Rey dengan susah payah meneguk salivanya melihat indahnya tubuh Yura.
Tak ingin membuang waktu lama, Rey segera menanggalkan pakaian yang belum terlepas sepenuhnya dari tubuhnya.
"Aaa..." Yura spontan berteriak saat melihat sesuatu yang terlihat menaktkan di matanya.
Rey segera membekap mulut Yura dengan bibirnya agar tak lagi menimbulkan suara. Kedua tangannya pun kembali bekerja mengabsen setiap inci yang terdapat pada tubuh Yura.
Yura tak dapat menahan sesuatu yang sejak tadi ingin keluar dari dalam tubuhnya. Rey pun merasa puas setelah memastikan Yura semakin terbuai dengan sentuhan yang ia berikan.
"Tenanglah..." lirih Rey melihat Yura yang terlihat begitu gugup menatap pada wajahnya.
"Aku malu..." lirih Yura lalu memicingkan kedua tangannya.
"Malu? Untuk apa kau harus malu?" Tanya Rey lalu menghembus wajah Yura.
"Karena..." ucapan Yura terhenti saat Rey kembali membenamkan bibirnya di bibir mungil Yura. Yura dibuat tak dapat berkata-kata. Ia hanya bisa menikmati setiap sentuhan yang Rey berikan hingga satu desa-han pun lolos dari bibir mungilnya.
Rey merasa senang mendengarnya. Ia dibuat bertambah semangat memberikan sentuhan di tubuh Yura hingga membuat Yura merasa lemah dan memintanya sendiri untuk segera memasukinya.
__ADS_1
"Bagaiman..." ucap Rey semakin memberikan sentuhan lembut di pusat inti tubuh Yura.
Yura menggeleng dengan mata terpejam.
"Ku mohon..." lirih Yura dengan wajah yang sudah memerah.
Rey semakin memperdalam sentuhannya hingga Yura berkali-kali dibuat mengge-linjang karenanya.
"Kau ingin memohon apa, hem?" Ucap Rey dengan suara parau.
"Segeralah, Kak..." lirih Yura sudah merasa tak tahan.
"Tenanglah, dan percayakan semuanya kepadaku." Ucap Rey.
Yura mengangguk saja. Akal sehatnya sudah hilang begitu saja berganti dengan rasa ingin terpuaskan di tubuhnya saat ini.
Dan perlahan, Rey mulai melakukan kegiatan inti di antara mereka.
"Aaa..." Yura kembali dibuat berteriak diikuti kuku-kukunya yang menancap kuat di punggung Rey.
__ADS_1
Rey tak memperdulikan punggungnya yang kini terluka karena tancapan kuku Yura bahkan kini bahunya yang telan-jang turut menjadi tempat penyaluran Yura menyalurkan rasa sakitnya saat Rey semakin dalam melakukan kegiatan intinya.
"Maafkan aku..." lirih Rey dan dengan perlahan melanjutkan kegiatannya memasuki tubuh Yura.
Yura dibuat tak dapat berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir di kedua sudut matanya yang menjadi saksi rasa sakit sekaligus kenikmatan yang ia rasakan di tubuhnya saat ini.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang Rey terus melanjutkan kegiatannya. Ia tahu, ini adalah hal yang pertama bagi Yura karena ia dapat merasakannya. Pun dengan dirinya. Ini juga adalah hal yang pertama bagi dirinya. Baik Rey dan Yura sama-sama merasakan sakit di bagian inti tubuh mereka masing-masing.
Lewat tatapan mata mereka yang saling beradu, Yura memberi isyarat agar tak menghentikan kegiatan panas mereka walau kini pusat tubuhnya terasa sakit akibat pergerakan Rey.
"Tenanglah, setelah ini tidak akan sakit lagi." Ucap Rey lalu memejamkan kedua kelopak matanya diikuti bagian intinya yang mulai bergerak di dalam inti Yura.
^^^
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1