Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Extra part (Kecemasan Rey)


__ADS_3

Tanpa terasa hari yang dinantikan Yura pun tiba. Hari dimana ia dan Rey akan berangkat ke Surabaya untuk menemani Rey bekerja sekaligus melakukan babymoon di sana. Semenjak berada di dalam mobil menuju bandara Yura tak sedikit pun melunturkan senyumannya pertanda hatinya sangat senang saat ini.


Dug


Sebuah tendangan cukup keras dari dalam perutnya membuat Yura meringis hingga senyuman itu hilang begitu saja dari wajah Yura.


"Ada apa?" Tanya Rey memasang wajah cemas pada Yura.


"Aku tak apa. Anak-anak kita hanya sedang aktif menendang, Kak." Jawab Yura mencoba tersenyum agar Rey tak begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Benarkah begitu?" Rey masih saja cemas.


Yura mengangguk mengiyakannya. "Bagaimana kalau Kakak mengelus perutku saja. Biasanya jika Kakak mengelusnya mereka akan tenang di dalam sini." Ucap Yura sambil mengelus perutnya.


Tentu saja permintaan Yura langsung dituruti oleh Rey. Dengan cepat Rey mengulurkan tangannya di atas perut Yura lalu mengelusnya. "Anak-anak Daddy, jangan menyakiti Mommy kalian." Ucap Rey lembut pada ketiga buah hatinya.


Yura yang mendengarkan perkataan Rey pun semakin melebarkan senyumannya. Ia sungguh merasa senang karena Rey begitu perhatian dan sayang pada anak di dalam kandungannya.


Rasa sakit yang tadi Yura rasakan pun akhirnya menghilang karena ketiga anaknya sudah mulai tenang di dalam perutnya.

__ADS_1


"Kau mengantuk?" Tanya Rey saat melihat Yura menguap setelah cukup lama ia mengusap perutnya.


"Emh, ya." Jawab Yura sambil menguap.


"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai di bandara." Ucap Rey lembut.


"Baiklah." Jawab Yura lalu memejamkan kedua kelopak matanya.


Rey yang melihat pergerakan istrinya dibuat menahan rasa gemas pada istrinya itu. Semenjak bertambahnya usia kandungan Yura, istrinya itu memang mudah sekali mengantuk dimana pun ia berada.


Tiga puluh lima menit berlalu, mobil Rey pun telah sampai di bandara bersamaan dengan Yura yang terjaga dari tidurnya.


"Kita sudah sampai, Kak?" Tanya Yura sambil mengerjapkan kedua kelopak matanya.


Yura mengangguk lalu turu dari dalam mobil setelah Rey membukakan pintu untuknya.


Saat tengah berjalan masuk ke dalam bandara, Rey menatap istrinya itu dengan cemas. "Melangkah-lah dengan pelan. Tubuh kecilmu itu terlihat sangat mengerikan jika berjalan cepat seperti ini." Tegur Rey pada istrinya.


Yura pun memperlambat langkahnya menuruti permintaan Rey. Melihat istrinya yang penurut membuat Rey merasa senang.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dengan tubuhmu yang kecil ini sanggup membawa ketiga anakku di dalam sini." Ucap Rey sambil mengusap rambut Yura. Terkadang Rey merasa awas melihat istri mungilnya itu melangkah dengan membawa ketiga anaknya di dalam perutnya.


"Tuan Rey, Nona Yura." Sapa Malik ramah pada Rey dan Yura yang baru saja sampai di ruang tunggu.


"Apa pesawatnya sudah siap?" Tanya Rey pada Malik.


Malik mengangguk mengiyakannya. "Sudah, Tuan. Pesawat sudah bisa berangkat setengah jam lagi." Jawab Malik.


"Bagaimana dengan keberangkatanmu?" Tanya Rey karena ia memilih tidak berangkat sama dengan Malik.


"Pesawat kami akan berangkat dua jam lagi, Tuan." Jawab Malik.


"Baiklah, kau ingat pesanku bukan?" Tanya Rey.


"Saya mengingatnya, Tuan." Jawab Malik.


"Bagus. Pastikan semuanya baik-baik saja." Ucap Rey yang diangguki Malik sebagai jawaban.


"Kak Rey, apa Kakak meminta Malik berangkat hanya berdua dengan Flower?" Tanya Yura pelan agar Malik tak dapat mendengarnya.

__ADS_1


***


Silahkan mampir ke lanjutan cerita Flower dan Malik yang berjudul One Night Love Tragedy, ya. Caranya tinggal klik profil shy dan cari cover novel One Night Love Tragedy. Terima kasih🤗


__ADS_2