
"Hati-hati di jalan, Rachel. Terimakasih karena hingga sampai saat ini kau masih tetap setia menjadi teman dan sahabat yang baik untukku." Yura mengusap pipinya yang basah terkena air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
"Sayang, ayo kita masuk." Genggaman lembut tangan Nenek Ana menyadarkan Yura.
Yura mengangguk mengiyakan lalu mengikuti langkah Nenek Ana masuk ke dalam rumah.
Sementara di dalam mobil, Rachel nampak masih menangis tersedu-sedu di dalam dekapan Mama Kyara. "Yura tidak akan terganti, Mah. Tidak ada satu pun orang yang bisa menggantikan sosok dirinya di hidup Rachel." Ucap Rachel yang masih merasa berat kembali berjauhan dengan sahabat baiknya sejak kecil.
Dua tahun kemudian.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu yang terdengar cukup keras dari luar membangunkan Yura dari tidur lelapnya. Yura mengerjap, menyesuaikan sinar matahari yang menyelinap masuk dari celah jendela kamarnya. "Sudah pagi?" Gumamnya lalu mengucek kedua matanya.
"Yura... apa kau sudah bangun?" Suara Nenek Ana terdengar cukup keras.
"Nenek..." Yura menyingkap selimut yang membalut tubuhnya lalu segera turun dari atas ranjang. "Tunggu sebentar, Nek." Ucap Yura lalu membuka pintu kamarnya.
"Kau baru bangun?" Nenek Ana tersenyum menatap wajah Yura yang masih sembab dan rambut yang sedikit berantakan.
Yura tersenyum kaku membalas ucapan Nenek Ana. "Maaf, Nek, Yura bangun terlambat pagi ini." Sesal Yura.
Nenek Ana masih tetap tersenyum lalu mengusap lengan Yura. "Tak masalah, Nenek tahu kau baru saja tidur jam tiga pagi tadi." Ucap Nenek Ana.
"Bagaimana Nenek bisa tahu?" Tanya Yura merasa bingung.
__ADS_1
"Nenek melihat lampu kamarmu yang baru mati saat jam tiga pagi tadi." Jawab Nenek Ana. "Apa kau mengerjakan tulisanmu yang belum selesai?" Tanya Nenek Ana.
Yura mengangguk mengiyakan. "Yura mengejar menulis tulisan Yura yang belum selesai sekaligus menamatkannya, Nek." Jelas Yura.
Nenek Ana mengusap lengan Yura. "Kau pasti cukup banyak menghabiskan energi dan tenagamu untuk berpikir." Ucap Nenek Ana.
Yura tersenyum. "Ada apa Nenek membangunkan Yura? Apa ada sesuatu hal yang bisa Yura bantu?" Tanya Yura.
"Tidak, Nenek hanya ingin mengajakmu untuk sarapan karena kau sudah melewatkan sarapan pagimu cukup lama." Jelas Nenek Ana.
"Apa Nenek belum sarapan karena menunggu Yura?" Tanya Yura.
"Nenek sudah sarapan bersama Bi Marni. Sekarang lebih baik kau segera mandi dan sarapan. Setelah itu temui Nenek di dalam kamar karena ada hal yang ingin Nenek bicarakan kepadamu." Ucap Nenek Ana.
"Baiklah, Nek. Kalau begitu Yura mandi dulu." Ucap Yura.
"Apa yang ingin Nenek bicarakan kepadaku?" Gumam Yura bertanya-tanya.
*
Setelah menghabiskan sarapan paginya dan mencuci piring bekas makanannya, Yura pun beranjak menuju kamar Nenek Ana.
Ceklek
"Yura, kemarilah." Ajak Nenek Ana lalu menepuk sisi sebelah ranjang yang kosong.
__ADS_1
Yura mengangguk lalu mendaratkan bokongnya di sebelah Nenek Ana. "Ada apa, Nek?" Tanya Yura.
Nenek Ana tersenyum lalu mengusap rambut Yura. "Cucu Nenek sudah semakin dewasa." Ucap Nenek Ana.
Yura turut tersenyum mendengarnya. "Tapi Nenek masih tetap terlihat muda saja." Balas Yura.
Nenek Ana tertawa kecil mendengarnya. "Yura... ada hal penting yang ingin Nenek bicarakan kepadamu." Ucap Nenek Ana.
"Katakan saja, Nek." Yura mengusap tangan Nenek Ana.
"Yura, kau tahu jika Nenek sangat beruntung memilikimu yang begitu menyayangi Nenek hingga kau rela tinggal di sini bersama Nenek hanya untuk menjaga Nenek. Kau bahkan rela menyia-nyiakan pendidikanmu hanya demi Nenek."
"Nenek jangan berbicara seperti itu. Keputusan yang Yura ambil itu semua murni keinginan Yura dan tidak ada hal yang Yura sia-siakan hanya demi Nenek." Potong Yura.
Nenek Ana menggeleng. "Walau begitu tetap saja keputusanmu itu ada hubungannya dengan, Nenek." Balas Nenek Ana.
"Nenek..." Yura menggeleng merasa tidak suka mendengar ucapan Nenek Ana.
"Yura... apa sampai saat ini kau belum berniat untuk melanjutkan hidupmu dengan memanfaatkan hasil pendidikan yang telah kau dapat? Apa kau belum siap untuk bekerja di perusahaan Ayahmu sesuai dengan permintaan Ayahmu beberapa tahun lalu?" Tanya Nenek Ana lembut.
Kepala Yura tertunduk. Jujur hal inilah yang ia takutkan selama ini jika semua orang mulai mempertanyakan kesiapannya untuk bekerja dan harus membuatnya kembali ke kota dimana kenangan pahitnya masih tertinggal di sana.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.