Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Menahan rasa malu


__ADS_3

"A-apa?" Yura semakin dibuat bingung sekaligus gugup mendengar ucapan Rey.


Rey menghela nafasnya melihat Yura yang tidak paham dengan maksud ucapannya. Ia pun memilih semakin mendekat pada Yura lalu duduk di tepi ranjang. "Apa kau tidak mengerti dengan maksud ucapanku, hem?" Tanya Rey berusaha lembut.


"Ti-tidak." Ucap Yura seraya menggeleng. "Kenapa Kakak memintaku untuk mengang-kang? Apa Kakak ingin memintaku untuk..." Yura menghentikan ucapannya saat merasa malu ingin mengatakannya. "Aw." Yura tiba-tiba meringis saat Rey menyentil keningnya.


"Apa yang kau pikirkan, hem? Apa kau pikir aku ingin meminta hakku lagi?" Tanya Rey.


Yura terdiam dengan wajah merona.


Rey menghela nafasnya setelah memastikan apa yang dipikirkannya adalah benar. "Aku tidak ingin memintanya. Aku menyuruhmu untuk mengang-kang karena aku ingin mengobati luka di bagian intimu." Jelas Rey lalu memperlihatkan salep yang ada di tangannya.


Wajh Yura semakin merona mendengar penjelasan Rey. "Tidak perlu, Kak." Jawab Yura lirih.


Rey mendengus mendengarnya. "Tidak perlu bagaimana? Itumu pasti terluka dan perih. Aku akan tetap mengobatinya." Ucap Rey tegas.


"Tidak, tidak. Aku benar-benar tidak apa-apa." Pungkas Yura.

__ADS_1


"Tidak apa-apa bagaimana? Kau saja kesulitan saat berjalan. Itu yang kau namakan tidak apa-apa?" Ketus Rey.


"Tapi..." Yura tak lagi melanjutkan ucapannya saat Rey dengan cepat memotongnya.


"Tidak ada bantahan. Sekarang cepat buka celanamu." Titah Rey.


Yura dengan cepat menggeleng. "Biar aku saja yang memakainya." Ucapnya cepat.


"Diam dan menurutlah." Ucap Rey dengan tatapan yang sudah berubah tajam.


Yura terdiam dan mau tidak mau mengikuti apa yang dikatakan oleh Rey. Walau harus menahan rasa malu yang teramat karena harus membuka celananya dan mengang-kang di depan rey, namun Yura tetap melakukannya karena tidak ingin suaminya yang pemarah itu murka padanya.


"A-aku malu, Kak..." lirih Yura.


"Apa lagi yang harus kau malukan, hem?" Tanya Rey datar namun Yura tahu suaminya itu tengah menahan rasa kesal kepadanya. Sebelum suaminya mengeluarkan ultimatum kepadanya, Yura segera melebarkan kedua kakinya dan menatap ke arah lain agar tak melihat pergerakan Rey.


Glek

__ADS_1


Rey dibuat menelan salivanya dengan susah payah melihat pemandangan yang indah di depan matanya saat ini. Sekuat dan sebisa mungkin ia menahan rasa inginannya untuk tidak terpancing melihat bagian inti Yura yang begitu menggoda imannya. Rasa bersalah pun tak luput Rey rasakan saat ini melihat bagian inti Yura yang membengkak karena ulahnya. Pantas saja istrinya itu dibuat kesulitan berjalan karena intinya yang luka dan membengkak.


Rey segera mengoleskan salep pada bagian inti Yura yang membengkak dengan perlahan dan hati-hati. Yura pun berusaha menahan rasa sakitnya saat tangan Rey menyentuh bagian intinya yang terasa sakit.


"Sudah." Ucap Rey setelah menjauhkan tangannya dari bagian inti Yura.


Yura pun segera merapatkan kembali kedua kakinya setelah mendengar ucapan Rey. "Terima kasih, Kak." Ucap Yura.


Rey menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Apa kau ingin aku membantumu memasangkan celanamu?" Tawar Rey saat Yura hendak memakai kembali cela-na da-lamnya.


Yura dengan cepat menggeleng. "Tidak, tidak perlu." Jawabnya cepat. Karena ia tidak mungkin menambah rasa malunya pada Rey dengan membantunya memakai cela-na dalam-nya setelah memoleskan salep di bagian intinya


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2