Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Tidak perlu malu


__ADS_3

"Ada apa ini? Kenapa aku bisa telan-" ucapan Yura terputus saat ingatannya langsung tertuju pada kejadian tadi malam. Rona merah pun mulai menyembul di kedua pipinya setelah mengingat kegiatan panasnya dengan Rey. "Oh astaga..." Yura segera meraih selimut dan segera menutupi seluruh tubuhnya dalam selimut. "Ini sungguh memalukan." Ucap Yura lirih.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi yang terdengar terbuka membuat jantung Yura berdetak begitu cepat.


"Kak Rey..." lirih Yura merasa yakin jika Rey-lah yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. "Apa Kak Rey tidak bekerja?" Tanya Yura. Yura semakin mengetatkan selimutnya saat mendengar langkah kaki Rey semakin mendekat padanya.


"Aku tahu kau sudah bangun." Ucap Rey.


"Ehem." Yura berdehem lalu perlahan menurunkan selimut hingga memperlihatkan wajahnya.


Rey menatap istrinya dengan intens. "Segera bersihkan tubuhmu. Apa kau nyaman tidur dalam keadaan bekas keringat seperti itu?" tanya Rey.


Yura menggelengkan kepalanya. "Ya. Aku akan mandi." Ucap Yura berusaha bersikap biasa saja.


Menyadari jika istrinya tengah menahan malu padanya, Rey segera berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian gantinya.

__ADS_1


Deg


Lagi, jantung Yura dibuat berdetak semakin cepat melihat bekas cakaran kukunya yang terlihat jelas di punggung Rey. "Apa itu benar ulahku?" Lirihnya. Tak ingin semakin larut dalam pemikirannya, Yura memilih segera turun dari atas ranjang sebelum Rey selesai mengambil pakaian gantinya.


Rey yang sudah siap mengambil baju gantinya memilih tetap diam menatap ke arah lemari dan membiarkan Yura berjalan ke arah kamar mandi.


"Aw..." ringis Yura saat berjalan karena merasakan sakit pada bagian intinya. Rey pun sontak membalikkan tubuhnya menatap pada Yura. Senyuman tipis nampak terbit di sudut bibirnya melihat Yura yang kesulitan berjalan namun tetap memaksakan agar cepat masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa dia melihatku seperti hantu sehingga berjalan tergesa-gesa seperti itu?" Gumam Rey lalu menggelengkan kepalanya. Setelah melihat tubuh Yura lenyap dari balik pintu kamar mandi, Rey pun segera membawa pakaian gantinya ke arah ranjang dan memakainya di sana.


Sambil menunggu Yura keluar dari dalam kamar mandi, Rey memilih keluar dari dalam kamarnya dan turun ke lantai bawah untuk mencari pelayan di rumahnya. Setibanya di lantai bawah, pelayan yang sedang membersihkan lantai pun menghentikan aktivitasnya dan menyapa Rey.


Pelayan menganggukkan kepalanya. "Sudah, Tuan. Tapi sarapannya saat ini sudah dingin. Apa Tuan ingin makan sekarang?" Tanya pelayan.


Rey mengangguk. "Ya. Sebentar lagi saya dan Yura akan makan." Jawab Rey.


"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya akan menghangatkan masakannya lebih dulu." Ucapnya yang diangguki Rey sebagai jawaban.

__ADS_1


Setelah memastikan sarapan untuknya dan Yura akan tersedia kembali sebentar lagi, Rey pun kembali naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya pintu kamar mandi masih tertutup rapat tanda Yura masih berada di dalam sana. Sambil menunggu Yura selesai mandi, Rey memilih melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi yang terbuka dari dalam membuat perhatian Rey teralihkan ke sumber suara. Dilihatnya di sana kepala Yura nampak menyembul dari pintu yang terbuka.


"Ada apa?" Tanya Rey pada Yura.


"Tolong ambilkan baju gantiku, Kak. Aku lupa membawanya tadi." Ucap Yura sambil menahan rasa malunya saat ini.


"Kenapa harus aku yang mengambilnya? Kau bisa mengambilnya sendiri dengan menggunakan handuk bukan? Lagi pula kau tidak perlu malu karena aku telah melihat setiap inci tubuhmu." Ucap Rey.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2