
"Apa yang kau perhatikan?" Tanya Rey saat Yura menatap ke arah luar cafe.
"Emh, tidak ada." Jawab Yura berbohong.
Rey mengangguk saja seolah percaya dengan ucapan Yura.
"Apa kita sudah bisa memulai pembicaraan pertemuan kali ini, Tuan?" Tanya Jeni pada Rey.
Rey mengalihkan tatapannya pada Malik untuk menjawab pertanyaan Jeni. Seolah paham dengan maksud tatapan Rey padanya, Malik pun mengangguk mengiyakan ucapan Jeni.
"Kau saja yang membukanya, Jeni." Titah Yura saat Jeni menatap padanya.
Jeni menganggukkan kepalanya lalu membuka pembicaraan mereka siang itu. Selama pembicaraan mereka berlangsung, baik Yura atau pun Rey saling diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Yura dan Rey seolah memberikan perintah pada asisten mereka masing-masing untuk mewakili mereka dalam pembicaraan siang itu.
Yura larut dalam pemikirannya tentang Galang yang nampak begitu terkejut setelah mengetahui statusnya saat ini dan Rey larut dalam pemikirannya yang entah apa itu.
Satu jam berlalu, pertemuan mereka hari itu pun berakhir. Rey nampak menatap pada Yura yang sedang berbicara dengan Jeni saat ini.
"Apa kau ingin kembali ke perusahaan setelah ini?" Tanya Rey setelah Yura selesai berbicara dengan Jeni.
__ADS_1
Yura mengangguk. "Aku ingin mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai." Jawabnya.
Rey mengangguk paham. "Sore nanti aku akan menjemputmu." Ucap Rey yang diangguki Yura sebagai jawaban.
Rey pun bangkit dari duduknya diikuti Malik setelahnya. "Aku kembali ke perusahaan dulu. Ingat untuk langsung kembali ke perusahaan tanpa singgah kemana-mana." Ucap Rey seperti sebuah perintah.
Yura mengangguk saja. Ia menatap punggung Rey yang semakin jauh darinya setelah Rey berpamitan untuk pergi.
"Semakin hari sikap Tuan Rey semakin hangat saja." Ucap Jeni pelan namun dapat didengar oleh Yura.
Yura tergegun mendengarkan ucapan Jeni yang ada benarnya. Akhir-akhir ini ia memang dapat melihat langsung perubahan sikap Rey padanya. Namun Yura masih berusaha menguatkan hatinya jika apa yang dilihatnya hanyalah sebuah rasa tanggung jawab Rey sebagai suaminya.
Yura menoleh menatap pada Jeni. "Ayo." Balasnya lalu bangkit dari duduknya. "Oh ya, Jeni, menurutmu apa Galang tadi marah padaku?" Tanya Yura meminta pendapat Jeni.
"Emh, menurut saya tidak, Nona. Tuan Galang hanya merasa terkejut dengan status anda saat ini." Jawab Jeni seadanya.
Yura mengangguk mendengarnya. "Tapi kenapa aku merasa Galang marah padaku." Ucap Yura.
"Saya rasa wajah Tuan Galang tadi tidak menunjukkan rasa marah pada Nona melainkan rasa kecewa." Jawab Jeni.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Yura.
"Maksud saya Tuan Galang merasa kecewa karena apa yang ia idamkan ternyata sudah menjadi milik orang lain." Jawab Jeni pelan takut salah berbicara.
"Apa maksudmu? Apa kau tahu jika..." Yura menahan ucapannya.
"Ya, saya dapat melihat dengan jelas jika Tuan Galang menaruh rasa pada Nona." Jawab Jeni.
Yura menghela nafas panjang. "Aku jadi merasa tidak enak padanya." Ucap Yura terpikir dengan perasaan Galang saat ini.
Jeni hanya diam saja tak berani menjawab ucapan Yura.
"Oh ya, Jeni, kira-kira Kak Rey ingin mengajakku pergi kemana nanti malam?" Tanya Yura.
"Apa mungkin ajakan untuk datang ke acara yang sama seperti acara yang diajak Tuan Galang pada Nona?" Tanya Jeni.
Yura diam sambil berpikir. Tak lama sebuah notifikasi pesan masuk dari Rey pun terdengar. Yura buru-buru membuka pesan dari Rey dan cukup terkejut karena apa yang Jeni katakan benar jika nanti malam Rey mengajaknya datang ke acara yang sama dengan yang diajak Galang padanya.
**^
__ADS_1
Pilih Rey atau Galang ni? 🤗