Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Kedatangan Rachel


__ADS_3

Jika kami tidur bersama, lantas kenapa dia mengatakan ada dua kamar di rumah ini? Membuatku berpikir jika dia memintaku berpisah kamar darinya saja. Ucap Yura dalam hati.


"Kita akan tidur di kamar utama dan satu kamar lagi dipergunakan untuk orang tua kita bila menginap di rumah ini." Ucap Rey kemudian.


Apa dia seorang peramal? Kenapa dia bisa mengetahui apa yang sedang aku pikirkan? Ucap Yura masih dalam hati.


"Oh ya, Kak. Bukankah pelayan di rumah sudah membawakan barang-barang kita ke rumah ini. Lalu dimana barang-barangnya? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Yura.


"Tentu saja barang-barangnya sudah berada di dalam kamar utama." Jawab Rey datar:


Yura mengangguk paham. Karena tak ada lagi yang dibicarakan dengan Rey, ia memilih merogoh ponselnya dari saku tas selempangnya.


"Rachel belum mengabariku juga. Apa dia tidak jadi datang ke rumah ini?" Tanya Yura:


Tin


Tin

__ADS_1


Suara klakson mobil yang terdengar dari luar rumah mereka membuat Rey seketika bangkit dari duduknya. Rey berjalan ke arah pintu rumah dengan tergesa-gesa seolah penasaran siapakah gerangan yang datang ke rumahnya.


Melihat Rey yang berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah, membuat Yura seketika bangkit dan menyusul Rey keluar dari rumah. Baru saja ia hendak keluar dari pintu rumah, Yura sudah mendengar suara Rey yang terdengar cukup keras tengah memarahi Rachel yang datang dengan membawa mobilnya sendiri.


"Bukankah Papa sudah mengatakan agar kau tidak membawa mobilmu sendiri lebih dulu? Apa kau tidak jera dengan kecelakaan beberapa bulan lalu?" Cecar Rey. Walau suara Rey terdengar keras pada Rachel, namun Rachel dapat melihat dengan jelas jika Rey tengah mengkhawatirkan dirinya.


"Rachel... ternyata Rachel yang baru saja datang." Ucap Yura.


"Kakak tenanglah, Rachel datang membawa mobil sendiri atas izin dari Papa. Jika tidak, mana mungkin Rachel bisa sampai ke sini menggunakan mobil." Jawab Rachel.


"Itu tidak mungkin. Kau pasti mengada-ngada!" Pungkas Rey.


"Dengarlah, Papa sudah mengizinkan Rachel untuk membawa mobil sendiri bukan?" Ucap Rachel.


"Benar, Rey, Papa yang mengizinkan Rachel mengendarai sendiri. Namun kau tenang saja, Papa mengizinkannya dengan syarat ia harus membawa mobil dengan kecepatan di bawah rata-rata dikawal oleh anak buah Papa." Ucap Papa Gerry di seberang telefon.


Rey mengela nafas lega setelah mendengar penjelasan Papa Gerry. "Walau pun Papa sudah mengizinkanmu membawa mobil sendiri, tapi Kakak tidak percaya begitu saja. Sekali saja kau terlihat membawa mobil ngebut-ngebutan di jalan, Kakak tidak akan segan membakar surat izin mengemudimu." Ucap Rey dengan tegas.

__ADS_1


Rachel dan Yura sontak bergedik ngeri mendengar ancaman Rey.


"Kau dengar itu?" Tany Rey.


Rachel mengangguk. "Rachel mendengarnya, Kak. Sudahlah, Rachel ingin masuk ke dalam dulu." Ucap Rachel dengan tersenyum.


Rey diam dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia membiarkan Rachel masuk ke dalam rumah dan memilih menghampiri pengawal yang ditugaskan Papa Gerry untuk mengawasi adiknya.


"Rachel..." Yura memeluk tubuh Rachel saat sudah berada di dekatnya.


"Yura..." Rachel membalas pelukan Yura. "Kau jangan takut dengan Kakakku, ya. Walau terlihat keras kepadaku, namun percayalah jika Kakakku hanya ingin aku baik-baik saja." Ucap Rachel pada Yura karena ia takut Yura merasa takut pada Rey setelah melihat Rey berbicara keras pada dirinya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2