
"Tapi apa yang kau katakan tidak sesuai dengan fakta yang Kakak lihat, Yura!" Ucap Aidan denga tegas. "Kau benar-benar sudah membuat Kakak kecewa!" Ucap Aidan tertahan.
"Yura juga tidak tahu kenapa ban mobilnya tiba-tiba saja sudah baik kembali, Kak..." ucap Yura merasa semakin bingung dengan apa yang terjadi.
Aidan menghela nafas panjang. "Kau ingat bukan dengan ucapan Ayah minggu lalu? Di desa ini sangat memegang teguh hukum adat dan istiadat. Dan jika ada yang melanggar hukum maka mereka harus mendapatkan akibatnya." Ucap Aidan dengan tegas.
Yura terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Pandangan Aidan pun beralih pada Rey yang nampak diam tanpa berniat menjelaskan apa pun padanya.
"Tidak ada jalan lain. Kalian harus menikah atau kedua perusahaan yang akan terkena imbasnya." Ucap Aidan sambil menatap tajam Rey.
Rey membalas tatapan tajam Aidan dengan datar. "Aku akan menikahinya." Jawab Rey tanpa ragu yang membuat Yura kedua mata Yura membola sempurna.
"Apa yang Kakak katakan?" Yura melayangkan tatapan protes pada Rey. Sementara Aidan menarik sebelah sudut bibirnya ke samping mendengar jawaban Rey.
Rey diam dan menatap Yura dengan datar.
"Tidak, aku tidak mau menikah dengan Kak Rey." Yura menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kak Aidan..." Yura mengatupkan kedua tangannya di dada memohon pada Aidan. "Aku tidak mau menikah dengan Kak Rey." Ucap Yura lagi.
"Tidak ada jalan lain, Yura. Kalian sudah membuat kesalahan dan harus menerima akibat dari perbuatan kalian." Jawab Aidan dengan tegas.
__ADS_1
"Tapi—" ucapan Yura terhenti saat Rey menarik tangannya begitu saja menjauh dari Aidan.
Aidan membiarkan Rey membawa Yura karena ia yakin Rey akan membicarakan sesuatu pada Yura. Pandangan Aidan sejenak beralih pada warga desa yang tengah menatap padanya. Ia menaikkan salah satu tangannya ke atas entah bermaksud untuk apa. Warga desa yang melihatnya pun menganggukkan kepalanya dan sesaat kemudian kembali bersuara memprovokasi agar Yura dan Rey segera dinikahkan.
"Kakak lepaskan!" Yura berusaha melepaskan cekalan tangan Rey namun tak membuahkan hasil karena genggaman Rey begitu kuat di lengannya.
"Kita harus menikah atau kau akan tahu akibatnya!" Ucap Rey seraya menatap tajam pada Yura.
Tubuh Yura dibuat menegang melihat tatapan tajam Rey dan ucapannya yang membuatnya merasa terkejut.
"Aku tidak mau!" Sentak Yura dan sekuat tenaga melepaskan cekalan tangan Rey hingga membuat tangan Rey lepas dari lengannya. "Aku tidak mau menikah dengan Kakak!" Ucapnya sedikit keras hingga dapat didengar oleh Aidan yang tengah memperhatikan mereka.
"A-ku..." Yura menggelengkan kepalanya sambil menangis.
"Apa kau memiliki solusi lain keluar dari masalah ini selain menikah denganku?" Tantang Rey.
Yura terdiam dengan air mata yang semakin mengalir di kedua pipinya karena ia sadar jika saat ini ia tidak memiliki solusi untuk keluar dari permasalahannya saat ini. Terlebih alasan kuat yang membuat mereka menginap di pondok sudah dipatahkan dengan keadaan ban mobil Rey yang sudah tidak bocor lagi seperti yang ia lihat tadi malam.
"Jika tidak mengingat imbas dari permasalahan ini jika tidak menikah denganmu aku juga tidak ingin menikahimu." Ucap Rey dengan tajam lalu berjalan meninggalkan.
__ADS_1
Yura terdiam di posisinya sambil menangis terisak. Masalah yang sedang menimpanya saat ini membuatnya tak dapat berpikir untuk berbuat apa lagi. Terlebih ia sudah dapat menebak hal apa yang akan terjadi pada perusahaannya dan untuk karirnya dan Rey jika tidak menjalani hukuman yang diberikan warga desa.
"Yura." Tepukan lembut di bahunya membuat Yura menolehkan wajahnya ke samping dimana Aidan sudah berdiri di sampingnya. "Ayo ikut Kakak. Maaf jika Kakak tidak bisa membantumu untuk saat ini." Sesal Aidan.
Yura menatap sendu pada Aidan lalu mengangguk sebagai jawaban. Ia dan Aidan pun berjalan ke arah Rey yang sudah kembali berada di kerumunan warga desa.
"Ayo kita bawa mereka ke balai desa!" Titah pria gempal yang diangguki oleh warga yang lainnya.
Aidan berjalan ke arah Rey lalu mengadahkan tangannya. Mengerti maksud Aidan membuat Rey segera mengeluarkan kunci mobilnya dan menyerahkannya pada Aidan. Setelahnya warga desa pun membawa Rey dan Yura masuk ke dalam mobil yang mereka bawa.
Selama dalam perjalanan menuju balai desa Yura hanya bisa menangis meratapi nasibnya saat ini. Tidak tahu lagi cara apa yang harus ia lakukan selain pasrah pada keadaannya saat ini. Rey yang duduk di sebelah Yura pun hanya diam sambil menatap lurus ke depan seolah masalah yang menimpanya saat ini tidak berarti apa-apa untuknya.
****
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1