
"Tadi malam tidak terjadi apa-apa. Mungkin hanya perasaanku saja." Ucap Yura saat bangun dari tidurnya. Ia menatap wajah Rey yang terlihat sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan Yura dapat merasakan hembusan nafas Rey yang terdengar beraturan.
Yura melepaskan dengan hati-hati tangan Rey dari pinggangnya lalu turun dari atas ranjang. "Dia benar-benar aneh tadi malam." Komentar Yura menatap wajah Rey. Yura pun melangkah ke arah kamar kamar mandi untuk membuang hajatnya yang sejak tadi ia tahan dan membersihkan tubuhnya sambil menunggu Rey bangun dari tidurnya.
Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Yura menghela nafasnya melihat Rey yang masih terlelap dalam tidurnya. "Tumben sekali Kak Rey belum bangun jam segini. Apa dia benar-benar lelah tadi malam?" Tanya Yura. Tak ingin membangunkan Rey lebih dulu, Yura pun memilih membereskan barang-barangnya dan Rey dan memasukkannya ke dalam koper karena nanti sore mereka akan kembali ke rumah mereka.
Setelah selesai membereskan barang-barangnya, Yura pun mendekati ranjang dan berniat membangunkan Rey karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Sudah waktunya Rey untuk bangun dan membersihkan tubuh sebelum berangkat ke perusahaan.
"Kak Rey..." Yura menepuk pelan lengan Rey untuk membangunkannya.
"Euh." Rey melenguh merasa terusik dari tidurnya. Saat membuka kedua kelopak matanya, Rey dibuat tertegun melihat wajah cantik Yura yang terlihat begitu dekat dengan wajahnya.
Entah apa yang merasukinya, Rey tiba-tiba saja menarik tengkuk Yura lalu mencium bibir Yura.
Deg
Yura dibuat terkejut mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari Rey. Terlebih saat ini Rey bukan hanya mengecup bibirnya melainkan juga melu-matnya.
__ADS_1
"Itu hukuman karena kau telah berani mengganggu tidurku." Ucap Rey lalu bangkit dari atas ranjang.
Yura mengedip-ngedipkan kedua kelopak matanya. Ia dibuat tak percaya mendengarkan ucapan Rey baru saja. "Dia menciumku lagi." Lirih Yura. Yura pun mengepalkan sebelah tangannya merasa bingung harus menanggapi sikap Rey saat ini padanya. Sedangkan Rey, pria itu terlihat telah masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Yura.
*
"Hai, Rey." Sapaan lembut dari Alfin yang sudah berada di dalam ruangan kerjanya membuat Rey menghentikan sejenak pekerjaannya.
Rey menatap malas pada sahabatnya yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerjanya tanpa mengetuk pintu ruangan kerjanya lebih dulu.
Rey tidak menghiraukannya. Pria itu justru kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aku lihat tadi malam kau pergi ke pesta perayaan ulang tahun Tuan Andri bersama Yura." Ucap Alfin namun Rey masih tetap diam saja. "Dan aku lihat Galang juga ada di sana." Lanjut Alfin kemudian dan berhasil membuat Rey menghentikan kegiatan.
"Jangan menyebut namanya!" Ketus Rey.
"Kenapa?" Tanya Alfin dengan nada mencibir. "Kau takut kalah saing darinya?" Cibir Alfin.
__ADS_1
Rey mendengus mendengarnya. "Aku tidak takut pada siapa pun dan apa pun itu." Jawab Rey.
"Oh benarkah? Tapi aku melihat kau takut jika istrimu itu diambil olehnya." Alfin tak henti mencibir sahabatnya itu.
"Ck. Pergilah jika kau ingin berbicara tidak penting!" Usir Rey.
Alfin tertawa mendengarnya. "Dari pada kau semakin takut kehilangan istrimu itu, lebih baik kau segera menjadikannya milikmu seutuhnya. Dengan itu Yura akan berpikir dua kali untuk pergi meninggalkanmu." Saran Alfin yang membuat Rey terdiam mendengarnya.
***
Setuju dengan saran Alfin?
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1