
"Kenapa Kakak tiba-tiba datang menjemputku?" Tanya Yura menatap Rey dengan tatapan menelisik.
"Karena aku menginginkannya." Jawab Rey sekenanya. Rey memutus tatapan mata mereka lalu menghidupkan mesin mobil. "Kita pulang." Ucap Rey kemudian lalu menjalankan mobilnya meninggalkan kediam William dan Rania.
Yura menghela nafas panjang. Ingin sekali ia kembali bertanya kenapa suaminya itu tiba-tiba datang menjemputnya padahal tadi ia datang menggunakan mobilnya sendiri.
"Dimana mobilku, Kak?" Tanya Yura kemudian.
"Mobilmu sudah berada di rumah. Lain kali jangan membantah perkataan suamimu." Ucap Rey entah bermaksud apa.
Yura dapat memahami arah pembicaraan suaminya itu. Tadi ia memang tidak menuruti perkataan suaminya yang memintanya untuk pergi bersama seorang sopir saja. Ia memilih mengendarai mobilnya sendiri agar cepat sampai di kediaman Flower
"Maaf." Lirih Yura.
Rey hanya diam tak menggubris ucapan Yura. Menurutnya ucapannya tadi sudah jelas dan Yura tinggal menurutinya saja.
Perjalanan menuju kediaman mereka pun berubah hening saat Yura dan Rey saling memilih diam satu sama lain. Yura diam meresapi setiap perkataan Rey untuknya dan Rey diam membiarkan Yura untuk berpikir.
__ADS_1
*
"Agh, sial!" Flower melepas pakaian dan sepatu yang masih melekat di tubuhnya dengan cepat dan membuangnya asal. "Rencana yang aku susun gagal dan itu semua pasti karena Yura!" Flower mulai mengamuk melempar apa saja yang dapat terjangkau oleh tangannya.
"Huu..." merasa tak puas dengan apa yang dilakukannya, Flower memilih menjatuhkan tubuh lelahnya ke atas ranjang lalu menangis dengan kencang. "Kak Rey... kenapa kau berubah setelah menikah dengannya. Kenapa..." Flower menangis tersedu-sedu. Hatinya kini benar-benar merasa sedih karena harus kehilangan sosok pria yang sudah sejak lama ia cintai dan tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Di luar kamarnya lebih tepatnya di depan pintu, Rania terlihat menghembuskan nafas kasar di udara saat telinganya dapat mendengar suara tangisan putrinya yang terdengar menyayat hati.
"Flower, sudah seharusnya kau belajar untuk merelakan sesuatu yang tidak bisa menjadi milikmu. Sejak dulu Rey hanya menuruti keinginanmu karena pesan dari Mommy yang memintanya untuk menjagamu. Dan saat ini Rey sudah tidak bisa lagi melakukannya karena dia sudah menjadi suami dari Yura." Lirih Rania.
"Sayang..." tepukan lembut di bahunya oleh William membuat Rania menoleh menatap William yang kini berada di belakang tubuhnya.
"Apa dia menangis?" Tanya William.
Rania mengangguk. "Tentu saja." Jawabnya.
William menganggukkan kepalanya. "Ayo kita ke kamar untuk istirahat. Biarkan Flower menenangkan hati dan pemikirannya sendiri." Ajak William.
__ADS_1
Rania menghela nafas sesaat lalu mengangguk mengiyakan ajakan William.
"Ayo." Ajak William lagi sambil menggenggam sebelah tangan Rania.
Rania tersenyum lalu mengikuti langkah suaminya menuju kamar mereka berada.
"Sayang, aku harap setelah ini kita banyak belajar agar tidak lagi selalu menuruti keinginan putri kita walau dia adalah anak kita satu-satunya." Ucap Rania sambil melangkah.
"Ya. Aku tahu itu. Ini semua memang salahku yang sejak dulu selalu memanjakannya. Aku tidak sadar dengan kasih sayangku yang terlalu berlebihan dengan mengiyakan seluruh permintaan Flower membuatnya menjadi anak keras kepala seperti saat ini." Sesal William.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1