Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Sulit mendapatkan pertolongan


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu lebih kurang lima jam lamanya di desa dan mendapatkan data yang mereka butuhkan, Rey dan Yura pun berpamitan untuk kembali ke desa A.


"Sepertinya akan turun hujan." Ucap Yura saat mobil Rey sudah keluar dari perbatasan desa. Rey menatap ke arah langit lalu mengangguk sebagai jawaban. Ia menambah kecepatan mobilnya agar tidak terlalu lama di perjalanan karena jalan akan sulit dilewati jika cuaca sedang buruk seperti saat ini.


Tak lama kemudian, hujan deras pun turun membasahi mobil Rey. Yura mempererat dekapan pada tubuhnya saat merasa dinginnya cuaca dari luar menusuk masuk ke dalam pori-pori kulitnya.


"Pelan-pelan saja, Kak." Ucap Yura saat mobil sudah memasuki jalanan lurus diikuti hujan yang turun semakin deras.


Rey mengurangi kecepatan mobilnya karena selain hujan yang turun semakin deras, jalanan yang mereka lewati pun banyak yang rusak dan berlobang. Setelah dua puluh menit berlalu, lalu mobil Rey pun semakin melambat.


"Ada apa ini, Kak?" Tanya Yura merasa bingung.


"Sepertinya bannya bocor." Ucap Rey lalu menepikan mobilnya.


"Kakak ingin kemana?" Yura memegang lengan Rey saat melihat Rey hendak keluar dari dalam mobil.


"Tentu saja melihat ban mobil bocor atau tidak." Jawab Rey.

__ADS_1


"Tapi..." Yura menghentikan ucapannya melihat tatapan Rey yang tajam. Ia melepas cekalan tangannya dan membiarkan Rey keluar dari dalam mobil setelah mengambil payung dari jok belakang mobil.


Di luar mobil Yura dapat melihat Rey yang tengah mengecek kondisi ban sambil menggelengkan kepalanya. "Apa bannya benar-benar bocor?" Tanya Yura. Tak lama kemudian, Rey membuka pintu mobilnya.


"Bannya bocor dan aku lupa membawa ban cadangan." Jawab Rey. Wajahnya terlihat kesal setelah mengatakannya.


"Lalu bagaimana ini, Kak?" Tanya Yura namun Rey tidak menggubrisnya. Rey menutup payung yang berada di tangannya lalu kembali masuk ke dalam mobil. Ia segera mengambil ponselnya yang berada di atas dashboard lalu menghidupkan data selulernya.


"Agh, sial." Umpat Rey saat melihat ponselnya menunjukkan tidak ada layanan. Ia melupakan jika jalanan yang mereka lewati saat ini susah mendapatkan sinyal.


"Ada apa, Kak?" Tanya Yura yang sedikit mendengar umpatan Rey.


Yura segera mengecek ponselnya untuk memastikan ucapan Rey. Dan benar saja, ponselnya pun tidak mendapatkan signal jaringan seluler. "Apa di sekitar sini tidak ada bengkel?" Tanya Yura. Wajahnya mulai cemas memikirkan keadaan mereka saat ini.


Rey menggelengkan kepalanya. "Apa kau tidak melihat jika di sekitar jalan yang kita lewati tidak ada bengkel bahkan warung kecil di sepanjang jalan?" Ketus Rey.


Yura terdiam dan membenarkan ucapan Rey. Di dalam hatinya pun ia sempat bertanya saat di perjalanan menuju seberang desa bagaimana warga yang melewati jalan ini mengisi bahan bakar jika kehabisan stok bahan bakar selama dalam perjalanan.

__ADS_1


Rey menyandarkan punggungnya di jok mobil sambil berpikir bagaimana caranya ia bisa lepas dari masalahnya saat ini. Ia begitu merutuki kecerobohannya yang tidak mengecek ban cadangan lebih dulu sebelum menggunakan mobil. Di saat seperti ini Rey kini membenarkan ucapan Papa Gerry yang memintanya untuk membawa anak buahnya selama ada pekerjaan di luar perusahaan.


Yura menatap ke arah luar mobil melihat hujan yang belum memberi tanda akan berhenti. Ia menatap ke atas langit yang sudah semakin gelap. Rasa dingin di tubuhnya pun semakin bertambah akibat rasa ketakutannya yang menderanya saat ini.


"Tidak ada cara lain. Kita hanya bisa menunggu sampai ada warga desa yang lewat dan meminta pertolongan." Ucap Rey. Dalam hatinya ia sedikit meragu jika warga desa ada yang melewati jalan saat ini mengingat cuaca yang buruk dan jalan yang pasti susah dilewati jika keadaan seperti saat ini.


Yura mengangguk mengiyakan ucapan Rey. Ia turut menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil sambil mendekap erat tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Apa Kakak tidak kedinginan?" Tanya Yura pada Rey yang masih mencoba mendapatkan jaringan selulernya dengan terus memode ulang ponselnya. Ia menatap baju dan celana Rey yang nampak basah terkena air hujan.


"Tidak." Jawab Rey seadanya.


Yura menghela nafasnya lalu menatap ke arah jok belakang mobil. Di sana terlihat pakaian cadangan yang selalu Rey bawa untuk jaga-jaga jika diperlukan seperti saat ini. "Baju dan celana Kakak basah dan akan tidak nyaman jika digunakan dalam waktu lama. Sebaiknya Kakak mengganti baju Kakak lebih dulu." Saran Yura.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2