Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Kenapa tidak menungguku?


__ADS_3

Alfin tertawa mendengarnya. "Ayolah, Rey... sampai kapan kau terus bersikap seperti ini seolah tidak menyukai keberadaan Yura di dekatmu." Ucap Alfin.


Rey memilih diam sambil menatap ke arah lain.


"Kau akan menyesal telah mengabaikannya jika kau mengetahui hal yang akan aku katakan kepadamu." Ucap Alfin dengan nada menggoda.


"Apa maksudmu?" Rey merasa penasaran dengan apa yang ingin Alfin katakan.


"Apa kau tahu jika saat ini pria bernama Galang itu sudah secara terang-terangan mendekati istrimu? Dia bahkan terlihat tidak gentar mendekati Yura walau Yura sudah berusaha menjauhinya." Ucap Alfin dengan serius.


Rey terdiam dengan kedua tangan yang mulai terkepal. Dan pergerakan Rey dapat terlihat jelas oleh mata Alfin.


"Sebelum semuanya terlambat, lebih baik kau mengatakan yang sejujurnya pada keluarga Flower jika kau sudah menikah dan cepat menjadikan Yura seutuhnya menjadi milikmu." Pesan Alfin.


Rey terdiam dengan tatapan matanya yang berubah tajam. Melihat perubahan ekspresi di wajah Rey membuat Alfin menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.


"Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang hadir dalam hidupmu. Kau tahu bukan jika kesempatan itu tidak akan terjadi setiap kau menginginkannya. Bisa saja kesempatan itu hilang begitu saja di saat kau benar-benar membutuhkannya. Sebagai teman baikmu, aku tidak ingin kau menyia-nyiakan kesempatan kali ini." Tutur Alfin.

__ADS_1


Rey masih diam tidak menyanggah ata membenarkan ucapan Alfin. "Berikan berkas yang aku butuhkan." Ucap Rey tanpa menanggapi ucapan Alfin.


Alfin berdecak melihat Rey yang tidak menanggapinya. Namun ia tahu kini Rey mulai memikirkan apa yang baru saja ia katakan. Alfin pun bangkit dari sofa dan berjalan ke arah meja kerjanya. Ia mengambil berkas yang diminta Rey dan memberikannya langsung pada Rey.


Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Rey segera bangkit dari duduknya. Ia pun berpamitan pada Alfin untuk berangkat ke perusahaannya.


"Ingat, jangan pernah menyia-nyiakannya lagi!" Ucap Alfin sedikit berteriak karena Rey sudah hilang dari balik pintu ruangan kerjanya. "Anak itu selalu saja membohongi perasaannya." Alfin berdecak lalu menggelengkan kepalanya.


*


Ucapan Alfin beberapa jam yang lalu terlihat berhasil mengacaukan pemikiran Rey. Setelah sampai di perusahaannya hingga beranjak ke jam makan siang, ucapan Alfin terus saja berputar di benaknya. Rey mendengus beberapa kali saat hatinya mulai membenarkan apa yang Alfin katakan namun pemikirannya langsung menyangkal jika itu semua tidak benar adanya.


Hingga waktu sore mulai menyambut, Rey masih saja terfikir dengan apa yang Alfin katakan walau ia sudah berusaha untuk tidak mengingatnya lagi. Karena terlalu larut dalam pemikirannya, Rey bahkan tidak menyadari jika sejak satu jam yang lalu Yura menelefonnya beberapa kali.


"Kenapa dia menelefonku?" Gumam Rey. Rey pun membuka aplikasi pesan dan membaca pesan masuk yang dikirmkan Yura. "Dia pulang lebih awal?" Ucap Rey setelah membaca pesan yang Yura kirimkan. Rey pun seketika beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil tas kerjanya. Ia segera melangkah keluar dari ruangan kerjanya untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya.


"Kenapa dia memutuskan pulang sendiri begitu saja tanpa menunggu balasan dariku?!" Lidah Rey berdecak mengingat pesan dari Yura.

__ADS_1


Setelah sampai di parkiran mobilnya, Rey segera masuk ke dalam mobil dan segera melajukannya keluar dari perusahaan. Saat ini ia sungguh merasa tidak sabar untuk sampai di rumah dan memastikan jika Yura sudah sampai dengan selamat di rumah ke dua orang tuanya.


Empat puluh menit berkendara, mobil Rey pun akhirnya sampai di depan rumah. Rey segera keluar dari dalam mobil dan melangkah lebar masuk ke dalam rumah.


"Dimana dia?" Gumam Rey karena tidak melihat keberadaan Yura di ruang tamu. Karena biasanya Yura menyempatkan lebih dulu berbincang sejenak dengan Rachel di ruang tengah rumahnya setelah pulang kerja sebelum masuk ke dalam kamarnya.


"Apa mungkin dia ada di taman?" Tebak Rey. Tanpa membuang waktu, Rey segera melangkah ke arah pintu penghubung taman rumahnya. Saat sudah berada di ambang pintu, Rey melihat Yura yang masih mengenakan pakaian kerjanya sedenga berbicara sambil tertawa dengan Rachel.


"Kak Rey?" Ucap Rachel menyadari kehadiran Rey.


Yura pun sontak memutar tubuhnya ke arah belakang untuk melihat keberadaan Rey. "Kak Rey?" Gumam Yura.


Rey pun berjalan mendekat pada Yura lalu menatap Yura dengan intens. "Kenapa kau pulang sendiri begitu saja tanpa menunggu jawaban dariku lebih dulu?" Cecar Rey namun tersirat rasa khawatir di wajahnya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2