
"Rey, Ayah baru mengetahui jika kau sudah membangun sebuah rumah untuk dirimu. Ayah bangga kepadamu, karena di usiamu yang masih muda kau sudah banyak memiliki fasilitas dari hasil kerjamu sendiri." Ucap Rangga.
Rey tersenyum tipis pada Ayah Rangga. "Itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang Ayah miliki sewaktu muda dulu." Jawab Rey merendah.
Ayah Rangga tersenyum mendengarnya. "Oh, ya, bagaimana pembangunan klinik di desa A? Apa berjalan seusai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya?" Tanya Ayah Rangga.
"Pembangunan klinik sudah berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, Ayah. Menurut perkiraan, dalam waktu empat bulan lagi pembangunan klinik sudah selesai dan siap untuk digunakan." Jawab Rey.
Ayah Rangga mengangguk paham mendengar ucapan Rey. "Oh ya, Rey. Untuk peninjauan selanjutnya Ayah harap kau dan Yura tidak turun langsung ke lapangan dan meminta anak buahmu yang melakukannya. Ayah tidak ingin kejadian seperti beberapa waktu lalu kembali terulang yang bisa merugikan dirimu dan Yura." Pesan Ayah Rangga.
"Baik Ayah. Rey akan mengusahakannya. Namun untuk bulan depan, Rey tetap akan turun ke lapangan langsung tanpa membawa Yura." Jawab Rey.
"Baiklah kalau begitu." Jawab Ayah Rangga. Pembicaraan mereka pun terus berlanjut hingga akhirnya Ayah Rangga menghentikan pembicaraan mereka dan meminta Yura membawa Rey masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena besok Rey dan Yura sudah kembali masuk bekerja.
Sampainya di dalam kamar, Rey menahan lengan Yura saat Yura hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada apa ini, Kak?" Tanya Yura bingung.
"Mulai besok persiapkan dua orang karyawan di perusahaanmu yang bisa dipercaya untuk mewakilimu jika pekerjaan yang kau tangani berada di sebuah desa." Titah Rey.
Yura tak langsung menjawab dan lebih memilih menatap wajah Rey. "Jika aku bisa kenapa harus orang lain yang mengerjakannya?" Tanyanya.
__ADS_1
"Ini sebuah perintah dan kau harus menurutinya. Apa kau ingin ada sesuatu yang lebih buruk terjadi kepadamu jika kau tetap bersikeras melakukan pekerjaan di desa?" Tekan Rey.
Yura menggelengkan kepalanya. Cukup terakhir ia mengalami sebuah insiden yang bisa merubah total hidupnya. Tentu saja untuk ke depannya ia tidak ingin lagi mengalami hal yang sama.
"Baiklah. Aku akan melakukannya." Jawabnya kemudian.
Rey melepas cekalan tangannya dan membiarkan Yura melanjutkan niatnya masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Yura menatap wajahnya dari pantulan cermin. "Kenapa aku sangat sulit memahami sikapnya saat ini. Terkadang aku berpikir jika dia menaruh rasa perhatian padaku, namun di sisi lain apa itu mungkin mengingat dia tidak pernah menyukaiku?" Yura menghembuskan nafasnya di udara lalu membasuh wajahnya.
*
Satu minggu telah berlalu. Saat ini Yura dan Rey sudah tinggal di kediaman orang tua Rey sesuai permintaan Mama Kyara yang meminta mereka untuk tinggal di rumahnya sebelum Rey membawa Yura tinggal di rumah barunya.
"Aku masih tidak menyangka jika kau dan Yura berakhir dengan menikah." Ucap Alfin setelah Rey mendudukkan tubuhnya di atas sofa.
"Mana berkas yang aku minta?" Ucap Rey tanpa memperdulikan ucapan Alfin. Karena satu minggu ini ia sudah merasa bosan mendengar Alfin terus membahas hal yang sama.
Alfin tak menjawab pertanyaan Rey dan lebih memilih mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang berhadapan dengan Rey.
"Hei, ayolah... jangan selalu mengalihkan pembicaraan kita. Aku tahu jelas dengan perasaanmu saat ini pada Yura. Kau pasti bahagia karena akhirnya bisa menikah dengan wanita yang kau—" Ucapan Alfin terputus karena Rey memotongnya.
__ADS_1
"Omong kosong! Jangan sembarangan berbicara!" Ketus Rey.
Alfin tertawa mendengarnya. "Ayolah, Rey... sampai kapan kau terus bersikap seperti ini seolah tidak menyukai keberadaan Yura di dekatmu." Ucap Alfin.
Rey memilih diam sambil menatap ke arah lain.
"Kau akan menyesal telah mengabaikannya jika kau mengetahui hal yang akan aku katakan kepadamu." Ucap Alfin dengan nada menggoda.
"Apa maksudmu?" Rey merasa penasaran dengan apa yang ingin Alfin katakan.
"Apa kau tahu jika saat ini pria bernama Galang itu sudah secara terang-terangan mendekati istrimu? Dia bahkan terlihat tidak gentar mendekati Yura walau Yura sudah berusaha menjauhinya." Ucap Alfin dengan serius.
Rey terdiam dengan kedua tangan yang mulai terkepal. Dan pergerakan Rey dapat terlihat jelas oleh mata Alfin.
"Sebelum semuanya terlambat, lebih baik kau mengatakan yang sejujurnya pada keluarga Flower jika kau sudah menikah dan cepat menjadikan Yura seutuhnya menjadi milikmu." Pesan Alfin.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul QueenarađŸ–¤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.