Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Apa kau sudah mencintainya?


__ADS_3

Ia terlihat sangat puas melihat Rey yang hanya diam saja tak membalas ucapannya. Rasanya kekesalan yang ia pendam selama ini karena sikap pria itu pada adiknya perlahan terbayar dengan melihat sikap Rey yang sudah berubah seperti saat ini.


"Apa kau sudah selesai berbicara?" Tanya Rey kemudian.


"Belum. Tapi sepertinya harus aku sudahi karena ada hal penting yang harus kita bahas saat ini." Jawabnya.


Rey menganggukkan kepalanya. "Kenapa kau tidak memberitahu Yura jika kau berada di kota yang sama saat ini dengannya?" Tanya Rey.


"Aku akan memberitahunya besok karena aku tidak ingin membuatnya repot-repot menyusulku ke sini." Jawabnya.


"Jika kau tidak ingin membuatnya repot kau bisa menyusulnya ke hotel bukan?" Sindir Rey.


"Aku tidak menginginkannya. Lagi pula hanya akan membuang waktuku saja karena kau pasti akan mengganggu kebersamaan kami." Cibirnya.


Rey mendengus mendengar ucapan pria yang ada di hadapannya saat ini. Entah mengapa sikap pria itu jauh berubah setelah ia berstatus sebagai adik ipar dari pria itu.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita mulai pembahasan kita kali ini." Ajaknya pada Rey.


Rey mengiyakannya lalu mengeluarkan berkas yang sudah ia bawa. Entah apa maksud kedua pria itu bertemu di luar kota untuk membahas sebuah pekerjaan padahal mereka bisa melakukannya di kota tempat mereka tinggal.

__ADS_1


*


"Yura kemarilah." Ucap Galang sedikit berteriak pada Yura yang sedang memperhatikan alat-alat berat yang sedang bekerja di depannya bersama Jeni.


Yura memutar kepalanya ke belakang menatap Galang yang tengah berteduh di bawah bangunan khusus pekerja. Yura pun menuruti ucapan Galang dengan berjalan mendekat pada Galang.


"Ada apa, Gal?" Tanya Yura.


"Lebih baik kau berdiri di sini saja karena cuaca di sana cukup terik." Ucap Galang.


"Emh tidak masalah. Aku masih ingin melihat alat-alat berat itu bekerja." Jawab Yura.


Galang menggelengkan kepalanya. "Tidak, Yura. Akan berbahaya juga jika kau berdiri di sana. Selain panas, di sana juga banyak bahan-bahan bangunan yang bisa saja terjatuh dari lantai atas." Ucap Galang sambil menunjuk ke arah bangunan lantai dua yang terdapat banyak kayu dan besi di atasnya.


"Baiklah. Aku di sini saja." Jawab Yura pada akhirnya.


Galang tersenyum melihat Yura yang mau menurut dengan ucapannya. Pandangan Galang pun tak lepas dari wajah Yura yang terlihat berkeringat namun tetap terlihat cantik di matanya.


"Jeni, kemarilah." Yura pun sedikit berteriak memanggil nama Jeni agar mendekat kepadanya.

__ADS_1


Jeni menurutinya dan segera melangkah ke arah Yura berada. "Kita melihat dari sini saja." Ucapnya pada Jeni.


"Baik, Nona." Jawab Jeni patuh.


Melihat Jeni yang berada dekat dengan mereka membuat Galang memberi kode pada Roy agar membawa Jeni menjauh dari dirinya dan Yura.


"Nona Jeni, bagaimana sambil menunggu sebagian pekerja yang masih istirahat kita mengecek bahan material yang lainnya di halaman belakang." Ajak Roy pada Jeni.


"Baiklah." Jawab Jeni menurut lalu berpamitan pada Yura untuk mengikuti Roy ke arah belakang bangunan.


"Yura, bolehkah aku bertanya kepadamu?" Tanya Galang saat melihat Jeni semakin berjalan jauh meninggalkan mereka.


"Apa itu Gal?" Tanya Yura.


"Apakah saat ini kau sudah mencintai suamimu itu?" Tanya Galang yang membuat Yura terkejut mendengarnya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2