
"Selama berada di desa ini biasanya Tuan Rey dan Tuan Aidan akan menginap di sini. Jika Nona berkenan, Nona bisa menginap di salah satu kamar yang ada di rumah ini." Ucap Bu Asih.
"Apa tidak masalah, Bu?" Yura nampak ragu karena ia pikir hanya akan menginap berdua dengan Rey di rumah itu.
"Tidak masalah, Nona. Bukan hanya Nona dan Tuan Rey, saya dan suami saya juga tidur di rumah ini, Nona." Jelas Bu Asih yang dapat menangkap maksud ucapan Yura.
"Baiklah kalau seperti itu, Bibi." Yura merasa lega mendengarnya karena tidak dapat ia bayangkan bagaimana bila ia hanya tidur berdua dengan Rey di sana walau berbeda kamar. Ia pun tidak bisa mencari penginapan lain karena jarak penginapan sangat jauh dari desa.
Setelah bercengkrama dengan Bu Asih dan Bu Tati selaku perangkat desa, Rey pun mengajak Yura untuk melihat pembangunan klinik yang berada tidak terlalu jauh dari tempat penginapan mereka.
"Jangan berpemikiran terlalu jauh, tidak mungkin mereka membiarkanmu dan aku menginap di rumah itu hanya berdua saja." Ucap Rey sambil berjalan melewati Yura.
"Aku tidak berpemikiran seperti itu." Jawab Yura walau Rey tak akan mendengarkan ucapannya. Yura memilih melangkah mengikuti Rey dan masuk ke dalam mobil.
Rey pun menjalankan mobilnya setelah motor Bu Asih melaju di depan mobilnya. Setelah sampai di tempat pembangunan, Yura turun lebih dulu dari dalam mobil diikuti Rey setelahnya.
"Apa kau masih tetap ingin berada di sini?" Tanya Rey pada Yura. Dan tanpa menunggu jawaban Yura, Rey melangkah lebih dulu mengikuti Bu Asih yang sudah lebih dulu berjalan ke arah pembangunan klinik.
"Dia selalu saja cetus kepadaku." Gumam Yura lalu melangkah mengikuti Rey.
__ADS_1
Setelah berada di dekat pembangunan, Rey nampak berbincang dengan para pekerja dan penanggung jawab proyek pembangunan klinik. Yura pun memilih diam sambil mendengarkan percakapan mereka. Setelah melihat proses pembangunan dan memastikan material yang digunakan sesuai dengan apa yang tertulis di dalam proposal, Rey pun mengajak Yura untuk kembali ke penginapan mereka.
"Apakah sudah selesai?" Tanya Yura.
"Kita akan kembali esok hari untuk melihat kerja mereka dan proses pembangunan." Jawab Rey.
Yura mengangguk paham dan memilih diam duduk di samping Rey. Mobil Rey pun kembali melaju menuju rumah penginapan mereka. Selama dalam perjalanan menuju penginapan, banyak warga yang melambaikan tangan pada mobil Rey karena mereka sudah mengetahui siapakah gerangan yang berada dalam mobil. Tak lupa Rey menjawab sapaan mereka dengan menekan klakson mobilnya.
"Ternyata dia bisa bersikap ramah juga." Ucap Yura pelan namun dapat didengar oleh Rey.
"Apa kau baru saja berbicara?" tanya Rey tanpa menatap Yura.
Yura menggelengkan kepalanya tanpa menatap pada Rey.
"Ingatlah untuk tidak membuat masalah sampai dua hari ke depan." Titah Rey.
"Maaf, Tuan, tapi saya juga bukanlah orang yang suka membuat masalah." Jawab Yura dengan nada datarnya lalu melangkah meninggalkan Rey begitu saja. Ia merasa cukup kesal mendengarkan ucapan Rey yang suka menuduhnya begitu saja. "Mulai saat ini aku harus memperbanyak stok kesabaranku padanya." Ucap Yura lalu menghembuskan nafas bebas di udara.
*
__ADS_1
Setelah cukup beristirahat dan menikmati jamuan makan malam dari Bu Asih, Yura pun berpamitan untuk pergi ke warung yang berada dekat dengan penginapan. Baru saja kakinya hendak keluar melewati pintu rumah, pergerakannya sudah terhenti karena cekalan tangan Rey.
"Kau ingin kemana?" Tanya Rey dengan datar.
"Aku ingin ke warung." Jawab Yura apa adanya sambil menatap tangan Rey yang masih memegang lengannya.
Rey melepaskan cekalan tangannya dan menatap datar Yura. "Kau ingin pergi sendiri tanpa memberitahuku lebih dulu?" tukas Rey.
"Untuk apa aku memberitahukannya pada Kakak?" Tanya Yura merasa bingung.
"Apa kau sangat yakin pergi ke warung seorang diri tanpa takut jika bisa saja ada pemuda yang berniat tidak baik padamu di sana?" Tanya Rey sinis.
"Aku tidak takut. Lagi pula saat tinggal di desa dulu aku sering pergi ke warung sendirian." Jawab Yura.
Lidah Rey berdecak pelan. "Lantas kau ingin menyamakan desa Nenekmu dengan di sini?" Tanya Rey. Yura memilih diam dengan tatapan bingungnya. "Dan harus kau ingat jika Ayahmu sudah menitipkanmu kepadaku dan aku harus memastikan jika kau baik-baik saja selama di sini." Tekan Rey lalu menarik tangan Yura keluar dari dalam rumah.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.