Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Maaf telah membohongimu


__ADS_3

"Kak Rey..." kedua bola mata Yura mulai berkaca-kaca mendengar ucapan Rey. "Kak Rey baru melihat isi kotak itu pagi ini?" Ulang Yura memastikan ucapan Rey.


Rey pun mengangguk mengiyakannya. "Aku baru melihatnya. Maafkan aku telah berbohong padamu." Ucap Rey lalu membawa tubuh Yura kembali ke dalam dekapannya.


Tangan Yura perlahan terulur membalas pelukan suaminya. "Apa Kakak bahagia?" Tanya Yura lirih.


"Sangat." Balas Rey singkat namun sangat bermakna bagi Yura.


Yura tak kuasa menahan air matanya hingga berjatuhan di kedua pipinya. Rasa sesak yang sejak kemarin ia rasakan karena pemikiran buruknya tentang Rey yang tidak senang dengan kabar kehamilannya sirna begitu saja setelah mendengarkan penjelasan dari suaminya.


Setelah cukup saling menyalurkan kebahagiaan dalam diri mereka masing-masing dengan saling berpelukan, Rey dan Yura pun memutuskan untuk duduk di atas sofa untuk berbincang.


"Kenapa kau tidak memberitahukan ini padaku lebih awal?" Tanya Rey yang terlihat sangat bersalah pada istrinya.


"Aku juga baru mengetahuinya satu minggu yang lalu. Aku ingin memberitahukannya pada saat itu juga. Namun aku tidak berani karena aku tahu Kakak sedang sibuk mengurus permasalahan yang ada di keluarga Kakak." Jawab Yura jujur.


Rey menatap wajah istrinya dengan intens. Dapat ia lihat di sana wajah Yura terlihat bersedih saat mengatakannya. "Maafkan aku karena telah mengabaikanmu dan anak-anak kita." Balas Rey lalu kembali mengusap perut Yura.

__ADS_1


"Tak apa... aku mengerti apa yang Kakak rasakan saat ini." Ucap Yura tak ingin suaminya semakin merasa bersalah.


"Apa benar mereka ada tiga di dalam sini?" Tanya Rey sambil mengelus perut Yura.


"Emh, ya..." genangan air mata di pelupuk mata Yura pun akhirnya kembali jatuh saat mengingat keberadaan tiga sosok di dalam rahimnya saat ini.


Rey menundukkan wajahnya lalu berbisik di perut Yura. "Maafkan Daddy yang telah lama mengabaikan kehadiran kalian. Sungguh Daddy tidak bermaksud melakukannya."


Tangan Yura terulur mengusap rambut tebal suaminya. Dapat ia rasakan saat ini Rey benar-benar merasa bersalah karena telah mengabaikan kehadiran calon anak-anak mereka.


Dan di sinilah Rey dan Yura berada. Di rumah sakit yang Rey ketahui siapa pemiliknya. Siapa lagi jika bukan milik Dika sahabat baik papanya.


Kedatangan Rey dan Yura pagi itu disambut dengan senyuman oleh dokter wanita yang Rey percayakan untuk menangani Yura selama proses kehamilannya.


"Apa Nona Yura ingin memeriksakan kondisi kehamilannya lagi?" Tanya Dokter dengan tersenyum.


"Ya. Sekarang ayo cepat periksa istriku!" titah Rey merasa tak sabar.

__ADS_1


Dokter itu mengu-lum senyum melihat wajah datar dan tidak sabaran Rey saat ini. Ia pun meminta perawat untuk membantu Yura naik ke atas ranjang.


"Ayo silahkan naik, Nona." Ucap perawat pada Yura.


Yura mengiyakannya lalu naik ke atas ranjang dengan dibantu oleh perawat. Setelahnya, perawat pun meminta izin untuk menyingkap baju yang Yura kenakan hingga memperlihatkan perut putih Yura yang terlihat sudah mulai membuncit.


Deg


Rasa haru sekaligus rasa bersalah kembali menyeruak di dalam dada Rey melihat bentuk perut istrinya saat ini.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2