Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Sungguh menjengkelkan


__ADS_3

Malik memperhatikan raut wajah wajah Flower yang tiba-tiba saja tersenyum setelah tadi sempat berwajah murung karena diabaikan oleh Rey. Ia pun melangkah ke arah ruangan Rey tanpa menegur sapa Flower yang tengah duduk di kursi kerjanya.


"Sopan sekali dia." Flower menatap sinis pada Malik yang melewatinya begitu saja. Baru saja moodnya membaik karena mengingat kepergiannya nanti bersama Rey, kini moodnya sudah kembali buruk karena hanya melihat Malik. Padahal Malik hanya melewatinya tanpa menegurnya. Namun hal itu saja sudah berhasil membuat Flower jengkel kepada Malik.


"Huft, bisakah Kak Rey mengganti asistennya dengan pria yang lebih baik dan sopan agar aku bisa bekerja dengan waras di sini." Gerutu Flower sambil menekan pulpen di tangannya di atas meja.


Sementara pria yang tengah membuatnya merasa jengkel terlihat telah duduk berhadaan di kursi yang berhadapan dengan Rey.


"Jadi proyek kerja sama perusahaan Dharma yang kini dipimpin istriku masih berjalan dan baru selesai dalam waktu satu bulan lagi?" Tanya Rey setelah mendapatkan informasi dari Malik tentang proyek kerja sama yang tengah dijalankan Yura.


"Benar, Tuan." Jawab Malik.

__ADS_1


Rey menyandarkan punggungnya di sandaran kursi lalu menghembuskan nafas kasar di udara. Jika keadaanya seperti saat ini ia sangat sulit meminta pada Yura agar berhenti bekerja karena ada banyak pekerjaan yang harus Yura tangani sendiri.


"Pekerjaan itu bisa saja ditangani oleh orang lain jika Nona Yura mendapatkan pelaksana tugas pengganti yang memang berpengaruh di perusahaannya Tuan." Ucap Malik.


"Maksudmu pelaksana tugas dari pemimpin yang lama?" Tebak Rey.


Malik mengangguk membenarkan.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke perusahaan pusat Dharma siang ini. Kau sudah tahu bukan apa yang harus kau kerjakan?" Tanya Rey.


"Aku hanya ingin kau dan anak-anak kita baik-baik saja. Aku harap kau mengerti dengan keputusanku ini." Gumam Rey sambil mengusap-usap foto Yura dengan jari jempolnya.

__ADS_1


*


Siang harinya di saat jam makan siang telah tiba, Rey bergegas keluar dari dalam ruangannya sambil membawa tas kerjanya. Flower yang melihat Rey keluar dengan membawa tas kerjanya pun merasa bingung kenapa Rey membawa tas kerjanya di saat jam pulang belum tiba.


Rey pun memasang wajah datarnya tanpa memperdulikan kebingungan di wajah Flower saat ini. Ia terus melangkah ke arah pintu lift dengan langkah lebar hingga akhirnya masuk ke dalam lift.


"Kemana Tuan Rey akan pergi?" Tanya Flower pada Malik yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerja Rey.


"Jika anda penasaran kenapa tidak menanyakannya langsung pada Tuan Rey." Jawab Malik lalu melangkah begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Flower.


"Hei!" Flower sedikit berteriak pada Malik yang terus melangkah tanpa perduli dengan kekesalannya saat ini. "Terkutuklah kau Malik!" Umpat Flower yang merasa kesal dan hampir habis kesabaran karena Malik. Untung saja Rey sudah tidak ada di sekitarnya hingga ia bisa dengan leluasa mengumpat asisten Rey itu.

__ADS_1


"Seandainya kau bekerja dengan Daddyku di perusahaannya. Tidak akan aku biarkan kau hidup dengan tenang!" Gerutu Flower sambil menghentakkan kedua kakinya di lantai. Seandainya saja ia bisa menggunakan kekuasaaan Daddynya di sini, sudah dapat ia pastikan jika Malik tidak akan bisa bekerja dengan tenang di sini.


***


__ADS_2