
"Terimakasih, Nona." Ucap Malik yang diangguki Yura sebagai jawaban.
"Semoga kerja sama kita ke depannya dapat berjalan dengan lancar." Ucap Malik lagi.
"Saya harap juga begitu, Tuan." Balas Yura.
Setelah sedikit berbincang dengan Malik dan bertanya hal apa saja yang dibutuhkan untuk dibawa pergi ke desa esok hari, Yura pun berpamitan untuk kembali ke perusahaannya.
"Tunggu dulu." Suara Rey menahan pergerakan Yura yang hendak meraih handle pintu.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Yura.
"Tinggalkan kami berdua." Titah Rey yang tertuju pada Malik dan Jeni.
Malik dan Jeni mengangguk paham lalu keluar dari dalam ruangan. Sementara Yura kini merasa bingung kenapa Rey meminta asisten mereka untuk keluar dan rasa bingung itu menjadi keterkejutan saat Rey tiba-tiba menyandarkan tubuhnya ke tembok dan mendekatkan wajahnya.
"Ada apa ini Tu—" Ucapan Yura terputus karena Rey dengan cepat memotongnya.
"Ingatlah untuk tidak bertingkah bodoh saat kita pergi esok hari. Dan harus kau ingat jika aku pergi bersamamu hanyalah sebuah perintah dari Papa dan Om Rangga." Ucap Rey dengan tegas.
Yura mendorong dada bidang Rey cukup kera hingga tubuh Rey mundur beberapa langkah. "Tanpa anda ingatkan saya pasti akan mengingatya. Dan jangan terlalu besar kepala Tuan Rey, saya tidak mengharapkan untuk bisa pergi berdua bersama anda besok. Jika anda tidak ingin saya bisa menyetir sendiri ke desa A tanpa anda." Balas Yura tak kalah tegas. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan Rey namun sebisa mungkin ia menutupi rasa sakitnya.
"Baguslah jika begitu." Ucap Rey lalu mengalihkan tatapan matanya ke samping saat melihat kedua bola mata Yura nampak berkaca-kaca.
__ADS_1
Yura menghela nafasnya. "Maaf, jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi saya pamit pergi." Ucap Yura dan tanpa menunggu jawaban dari Rey ia keluar begitu saja dari dalam ruangan.
Di luar ruangan Jeni terlihat tengah bercengkrama dengan Rere. Melihat Yura yang sudah keluar dari dalam ruangan, Jeni pun menghentikan pembicaraan mereka sedangkan Malik nampak masuk ke dalam ruangan setelah berbicara sejenak dengan Yura.
"Apa sudah selesai, Nona?" Tanya Jeni.
Yura menganggukkan kepalanya. "Ayo kita kembali ke perusahaan." Ajak Yura.
"Ayo, Nona." Jawab Jeni lalu berpamitan pada Jeni untuk kembali ke perusahaan mereka.
Yura pun melangkah lebih dulu setelah berpamitan pada Rere diikuti Jeni di belakangnya. Jeni pun mempercepat langkahnya agar berjalan di samping Yura menuju lift. "Ada apa Jeni?" Tanya Yura yang mengetahui jika Jeni ingin bertanya kepadanya.
"Apa anda baik-baik saja, Nona?" Tanya Jeni menatap wajah Yura intens.
"Karena saya merasa Nona terlihat tidak baik-baik saja setelah keluar dari dalam ruangan Tuan Rey." Ucap Jeni.
Yura mencoba terseyum. "Itu hanya pemikaranmu saja. Aku baik-baik saja." Ucap Yura. Ia terus melangkah hingga masuk ke dalam lift.
"Syukurlah jika begitu, Nona." Ucap Jeni menghembuskan nafas lega karena apa yang ada di pemikirannya tidak terjadi.
Aku hanya sedang berusaha untuk terlihat baik-baik saja, Jeni. Ucap Yura dalam hati karena tidak mungkin ia mengatakannya secara langsung pada Jeni.
*
__ADS_1
"Ayah, bisakah untuk pagi ini Yura berangkat sendiri saja tanpa harus bersama Kak Rey?" Pinta Yura untuk kesekian kalinya setelah tadi malam meminta pada Rangga namun akhirnya mendapat penolakan dari Rangga.
Rangga menghela nafasnya lalu mengusap kepala Yura. "Kau harus pergi bersama Rey agar Ayah bisa merasa tenang melepaskanmu bepergian." Jawab Rangga.
"Tapi..." ucapan Yura terputus saat mendengar suara klakson mobil dari depan rumahnya.
"Sepertinya Rey sudah datang." Ucap Rangga lalu berjalan ke depan rumahnya.
Yura pun mengikuti Rangga dari belakang dan benar saja saat Yura sudah berada di depan rumah Yura melihat Rey keluar dari dalam mobilnya dan berjalan ke arah Rangga yang sedang berdiri menyambut kedatangannya.
"Rey, Om titipkan Yura kepadamu dan tolong jaga Yura selama berada di desa. Om percaya kau bisa menjaga anak Om dengan baik." Ucap Rangga pada Rey.
Rey menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Saya akan melakukannya, Om." Jawab Rey.
Rangga menepuk pundak Rey lalu menatap pada Yura. "Yura, ayo panggil Bunda di dapur dan katakan jika kau akan berangkat." Titah Rangga.
Yura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban lalu masuk kembali ke dalam rumah untuk memanggil Bundanya. "Bagaimana bisa Ayah seyakin itu menitipkan aku padanya. Apa Ayah tidak sadar jika dia tidak menyukaiku dan bisa saja dia bukan menjagaku selama di sana justru membuangku." Gumam Yura tak habis pikir dengan permintaan Rangga.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenara🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.