Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Hari pertama bekerja


__ADS_3

"Ayo dimakan, Sayang." Ucap Vara dengan lembut pada Yura.


"Terimakasih, Bunda." Jawab Yura dengan tersenyum.


Vara turut tersenyum membalas ucapan Yura. Setelah Vara selesai mengambilkan sepiring nasi goreng lagi untuk Rachel, Rangga pun bersuara untuk memulai makan sarapan pagi mereka masing-masing.


"Yura, Bunda sungguh senang karena pada akhirnya kau mau bekerja di perusahaan cabang keluarga kita." Ucap Vara setelah mereka menghabiskan sarapan masing-masing.


"Iya, Bunda. Yura senang jika Bunda merasa senang." Jawab Yura dengan tersenyum.


"Sesuai perkataan Ayah kemarin, pagi ini kau sudah bisa bekerja di perusahaan cabang dan mempelajari berkas kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan keluarga Bagaskara bersama Aidan karena besok Rey akan datang kenperusahaan untuk membahas kerja sama perusahaan kita." Ucap Rangga.


"Wah, asik sekali. Kak Yura pasti sangat senang karena bisa bekerja sama dengan perusahaan Kak Rey." Ucap Alula.


Yura menatap Alula dengan wajah datarnya. Menyadari jika sudah salah berbicara, Alula pun mendekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Alula..." Vara menggelengkan kepalanya yang dibalas Alula dengan anggukan kepalanya.


"Sudah saatnya berangkat bekerja." Ucap Rangga.


Yura melirik jam di pergelangan tangannya lalu mengangguk sebagai jawaban. "Ayo kita berangkat, Ayah." Ajak Yura.


"Ayo." Balas Rangga lalu mendorong kursinya ke belakang. Vara pun ikut bangkit dan mengambil tas kerja Rangga.

__ADS_1


"Kak Yura apa Kakak marah?" Bisik Alula sambil mengikuti langkah Yura.


"Kakak tidak marah." Jawab Yura.


Alula menghela nafas lega. "Maaf kalau Lula sudah asal berbicara." Ucap Alula lagi.


"Sudahlah, lebi baik sekarang kau ambil tas kuliahmu dan segera berangkat." Ucap Yura karena Alula lebih memilih mengejarnya dari pada mengambil tas kuliahnya lebih dulu.


Alula menepuk jidatnya lalu membalikka tubuhnya. Ia segera berlari ke arah ruang keluarga dan mengambil tas kuliahnya di sana.


"Apa kau yakin tidak menggunakan sopir untuk mengantarkanmu pergi bekerja?" Tanya Rangga.


"Tidak, Ayah. Yura bisa membawa mobil sendiri." Ucap Yura.


"Baiklah. Kalau begitu hati-hatilah dan kabari Ayah jika sudah sampai." Ucap Rangga.


*


Yura menatap gedung empat lantai yang berdiri kokoh di depannya saat ini cukup lama. "Apa benar jika aku yang akan memimpin perusahaan ini selanjutnya?" Tanya Yura masih meragu dengan kemampuan yang ia miliki. Ia pun melanjutkan langkahnya memasuki perusahaan yang terlihat masih sepi pagi itu karena jam bekerja baru dimulai satu jam lagi.


"Nona Yura?" Seorang wanita nampak berjalan tergesa-gesa ke arah Yura dengan senyuman manis tersemat di bibirnya.


Yura menatap intens wanita berambut panjang dan tubuh tinggi langsing di depannya saat ini. Sangat jauh dengan tinggi tubuh dirinya.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Jeni, Nona." Wanita bernama Jeni itu pun mengulurkan tangannya pada Yura. "Saya ditugaskan oleh Tuan Rangga untuk menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi anda selama bekerja di perusahaan ini." Jelas Jeni kemudian.


Yura pun teringat jika beberapa hari yang lalu Ayahnya sempat menyebutkan nama Jeni yang akan membantunya selama bekerja. Namun Ayahnya tidak mengatakan jika Jeni yang akan menjadi sekretarisnya.


"Salam kenal Jeni. Kau bisa memanggilku dengan Yura saja." Ucap Yura.


Jeni tersenyum membalas ucapan Yura. Bagaimana pun juga ia tidak mungkin memanggil Yura tanpa ada sebutan Nona di depan namanya. "Kalau begitu ayo ikut saya, Nona. Saya akan mengantarkan anda ke ruangan kerja anda." Ajak Jeni.


"Yura saja, Jeni." Ucap Yura lagi.


"Maaf, Nona, saya tidak bisa melakukannya." Ucap Jeni ramah.


Yura menghela nafasnya dan membiarkan Jeni memanggilnya dengan sebutan Nona di awal namanya. Mereka pun berjalan ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai tertinggi perusahaan. Setelah berada di lantai empat yang menjadi tempat ruangan kerja Yura, Jeni pun berjalan lebih dulu dan membukakan pintu untuk Yura.


"Silahkan masuk, Nona. Ini adalah ruangan kerja anda." Ucap Jeni.


"Terimakasih Jeni." Balas Yura lalu masuk ke dalam ruangan kerjanya. Saat sudah masuk ke dalam ruangan, Yura dibuat terkejut melihat Aidan sudah berada di dalam ruangan kerjanya dan kini tengah tersenyum kepadanya.


"Yura, kau sudah datang?" Tanya Aidan lalu bangkit dari duduknya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2