
"Tapi..." ucapan Yura terputus saat mendengar suara klakson mobil dari depan rumahnya.
"Sepertinya Rey sudah datang." Ucap Rangga lalu berjalan ke depan rumahnya.
Yura pun mengikuti Rangga dari belakang dan benar saja saat Yura sudah berada di depan rumah Yura melihat Rey keluar dari dalam mobilnya dan berjalan ke arah Rangga yang sedang berdiri menyambut kedatangannya.
"Rey, Om titipkan Yura kepadamu dan tolong jaga Yura selama berada di desa. Om percaya kau bisa menjaga anak Om dengan baik." Ucap Rangga pada Rey.
Rey menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Saya akan melakukannya, Om." Jawab Rey.
Rangga menepuk pundak Rey lalu menatap pada Yura. "Yura, ayo panggil Bunda di dapur dan katakan jika kau akan berangkat." Titah Rangga.
Yura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban lalu masuk kembali ke dalam rumah untuk memanggil Bundanya. "Bagaimana bisa Ayah seyakin itu menitipkan aku padanya. Apa Ayah tidak sadar jika dia tidak menyukaiku dan bisa saja dia bukan menjagaku selama di sana justru membuangku." Gumam Yura tak habis pikir dengan permintaan Rangga.
*
Perjalanan menuju desa A hari itu terasa membosankan bagi Yura karena selama dalam perjalan hanya ada keheningan di antara mereka karena baik Yura atau pun Rey memilih saling diam satu sama lain. Rey fokus dengan kemudinya dan Yura fokus menatap ke luar jendela yang menampakkan keadaan jalanan yang mereka lewati mulai memasuki kawasan perpohonan.
"Cuaca di luar sepertinya terasa sejuk." Gumam Yura pelan sambil menatap deretan pohon besar yang berada tidak jauh dari sisi jalan.
Rey yang mendengarkannya pun menatap sejenak ke arah yang Yura perhatikan. Ia membenarkan dalam hati ucapan Yura lalu kembali fokus menatap ke depan. Tak lama Yura nampak menguap diikuti matanya yang terasa memberat setelah cukup lama menatap ke arah luar jendela dan situasi yang terasa hening di antara mereka.
__ADS_1
"Dia tidur?" Rey menggelengkan kepalanya menatap wajah Yura yang sudah terlelap dengan mulut sedikit terbuka. Tiba-tiba saja Rey menepikan mobilnya hanya sekedar untuk menatap wajah tenang Yura yang sedah terlelap. Setelahnya ia pun kembali menjalakan mobilnya dan membiarkan Yura terjaga dengan sendirinya.
Setelah lima jam lebih berkendara, mobil yang Rey kendarai pun mulai memasuki area persawahan dan jalanan yang sedikit berbatu tanda mereka sudah masuk di wilayah desa A.
"Apa kita sudah hampir sampai?" Tanya Yura pada Rey.
Rey menganggukkan kepalanya sambil tetap fokus pada jalanan di depannya yang semakin kecil dan sedikit sulit untuk dilewati.
"Nenek..." lirih Yura mengingat Nenek Ana yang kini berada di desa karena ia merasakan suasana yang hampir sama seperti saat ia tinggal di desa dulu. Yura tak sedikit pun melewati pemandangan desa dari jalanan yang ia lewati hingga akhirnya mobil berhenti di depan rumah bergaya minimalis.
"Ayo turun." Ajak Rey.
"Jadi Nona Yura adalah saudara kembar dari Tuan Aidan?" Tanya bendahara desa pada Yura.
Yura menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. "Benar, Bu, saya adalah adik Kak Aidan." Jawab Yura.
Wanita yang sudah Yura ketahui bernama Asih itu pun menganggukkan paham. "Pantas saja wajah Nona sangat mirip dengan Tuan Aidan. Sangat cantik sama seperti dengan Tuan Aidan yang sangat tampan." Pujinya.
"Bibi terlalu berlebihan." Yura tersenyum malu mendengarnya.
"Tapi apa yang diucapkan Bu Asih itu benar, Nona." Timpal sekretaris desa.
__ADS_1
Yura tersenyum saja mendengarkannya. Sedangkan Rey kini tengah menatap wajah Yura yang sedang tersenyum.
"Selama berada di desa ini biasanya Tuan Rey dan Tuan Aidan akan menginap di sini. Jika Nona berkenan, Nona bisa menginap di salah satu kamar yang ada di rumah ini." Ucap Bu Asih.
"Apa tidak masalah, Bu?" Yura nampak ragu karena ia pikir hanya akan menginap berdua dengan Rey di rumah itu.
"Tidak masalah, Nona. Bukan hanya Nona dan Tuan Rey, saya dan suami saya juga tidur di rumah ini, Nona." Jelas Bu Asih yang dapat menangkap maksud ucapan Yura.
"Baiklah kalau seperti itu, Bibi." Yura merasa lega mendengarnya karena tidak dapat ia bayangkan bagaimana bila ia hanya tidur berdua dengan Rey di sana walau berbeda kamar. Ia pun tidak bisa mencari penginapan lain karena jarak penginapan sangat jauh dari desa.
Setelah bercengkrama dengan Bu Asih dan Bu Tati selaku perangkat desa, Rey pun mengajak Yura untuk melihat pembangunan klinik yang berada tidak terlalu jauh dari tempat penginapan mereka.
"Jangan berpemikiran terlalu jauh, tidak mungkin mereka membiarkanmu dan aku menginap di rumah itu hanya berdua saja." Ucap Rey sambil berjalan melewati Yura.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1