Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Akhir yang bahagia


__ADS_3

Keesokan harinya.


Tidak sesuai dengan yang diharapkan Yura tadi malam, pagi ini Yura tidak lagi mendengarkan ungkapan cinta dari Rey karena Rey tetap enggan mengatakannya untuk yang kedua kalinya pada Yura. Menurutnya apa yang dikatakannya pada Yura tadi malam sudah jelas dan bisa dimengerti oleh Yura. Namun Yura tetaplah seperti wanita pada umumnya yang ingin kembali mendengar ungkapan cinta itu dengan jelas dan benar.


"Kak Rey... apakah—" ucapan Yura terhenti saat Rey dengan cepat mengecup bibirnya. Wajah Yura pun berubah cemberut karena niatnya yang ingin kembali bertanya harus terhenti karena ciuman dari Rey.


"Kau terlalu banyak bertanya. Lebih baik sekarang kau turun dan segera masuk ke dalam perusahaan." Titah Rey.


"Huft, baiklah." Jawab Yura tak bersemangat.


"Kemarilah." Ucap Rey dan langsung menarik tubuh Yura ke dalam pelukannya tanpa menunggu persetujuan dari Yura.


"Jangan terlalu lelah bekerja." Ucap Rey lalu mengusap perut Yura.


"Emh, ya." Balas Yura tersenyum. Yura pun segera turun dari dalam mobil setelah mengecup tangan kanan Rey.


Rey tak langsung melajukan mobilnya keluar dari perkarangan perusahaan dan memilih memastikan Yura masuk ke dalam perusahaannya lebih dulu. Setelah bayangan tubuh Yura lenyap dari pandangannya, Rey pun melajukan mobilnya keluar dari perkarangan perusahaan Dharma.


*


Di saat jam makan siang tiba, Yura dikejutkan dengan kedatangan Aidan secara tiba-tiba ke perusahaannya. "Kakak..." Yura segera bangkit dari kursi kebesarannya dan melangkah mendekati Aidan.


Aidan pun turut melakukan hal yang sama lalu memeluk tubuh Yura barang sejenak saat Yura sudah berada tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Kenapa Kakak tidak bilang jika ingin datang ke sini?" Tanya Yura setelah pelukan mereka terlepas.


"Apa Kakak harus selalu memberitahukan padamu jika Kakak ingin datang ke sini, hem?" Tanya Aidan kembali.


"Tidak juga." Balas Yura tersenyum.


Aidan mengusap kepala Yura lalu melangkah ke arah sofa berada.


"Kau terlihat semakin berisi semenjak hamil." Ucap Aidan saat menyadari perubahan bentuk tubuh adik kembarnya saat ini.


"Benarkah begitu?" Tanya Yura sambil menatap bentuk tubuhnya.


"Ya."


Aidan tertawa mendengarnya.


"Oh ya, ada apa Kakak datang kemari?" Tanya Yura karena sangat jarang Aidan datang ke perusahaannya jika tidak ada hal penting yang membawanya untuk datang.


"Kakak hanya ingin menemuimu. Selain itu Kakak juga ingin menanyakan apakah kau sudah bahagia saat ini." Jawab Aidan.


"Apakah aku sudah bahagia? Maksud Kakak?" Yura terlihat tidak mengerti kemana arah pembicaraan Aidan.


"Bukankah kemarin kau sudah mengetahui jika Rey sudah lama mencintaimu?" Tanya Aidan sambil menarik tipis sebelah sudut bibirnya.

__ADS_1


Deg


Yura terkesiap mendengar perkataan Aidan.


"Apakah kau sudah bahagia, Yura?" Tanya Aidan lagi karena Yura belum menjawab pertanyaannya.


"Bagaimana Kakak bisa tahu?" Tany Yura kembali.


"Itu tidak penting. Yang jelas sekarang jawab pertanyaan Kakak."


"Emh..." Yura tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya saat ini. Ia pun beranjak dari duduknya lalu memeluk erat tubuh Aidan. "Aku sangat bahagia Kak." Ucapnya sedikit terbata karena kini air matanya turut mengalir di kedua pipinya.


"Kakak tahu kau pasti sangat bahagia. Akhirnya suamimu itu mau mengakui perasaannya selama ini kepadamu." Ucap Aidan.


"Maksud Kakak? Apa selama ini Kaka sudah mengetahui perasaan Kak Rey untukku?"


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2