
"Baik, Tante." Rey pun segera beranjak dari duduknya.
Bunda Vara tersenyum lalu berjalan beriringan dengan Rey menuju meja makan. Setelah sampai di meja makan, Rey menarik salah satu kursi yang berhadapan dengan Yura dan Galang.
"Ayo kita mulai makan." Ajak Aidan setelah mereka semua sudah berkumpul di meja makan.
Rey, Yura dan Galang mengangguk mengiyakan lalu mulai mengambil makanan untuk mereka masing-masing. Selama makan siang berlangsung, tidak ada satu pun suara yang keluar dari mulut mereka masing-masing selain bunyi sendok dan garpu yang beradu di atas piring.
Dua puluh menit berlalu, mereka pun telah selesai menghabiskan makanan masing-masing. Keheningan di antara mereka pun terhenti saat Galang mulai berbicara dengan Yura yang dudu di sebelahnya.
"Lihatlah ada sisa makanan yang tertinggal di sudut bibirmu." Ucap Galang lalu menarik selembar tisu dan mengelapkannya di sudut bibir Yura.
Yura tertegun melihat perlakuan Galang padanya. Berbeda dengan Aidan yang nampak menarik sebelah sudut bibirnya ke samping melihat wajah Rey yang semakin dingin melihat interaksi Yura dan Galang saat ini.
***
Rey menatap dari dua sosok yang kini sedang duduk berhadapan sambil tertawa bersama berada tak jauh dari dirinya berada. Kedua sosok itu terus bercengkrama diiringi canda tawa tanpa menyadari kehadirannya di dekat mereka.
"Kau memperhatikan mereka?" Tanya Alfin yang sejak tadi memperhatikan arah pandangan Rey. Alfin menatap ke arah yang ditatap Rey lalu kembali menatap Rey.
"Tidak." Kilah Rey lalu menatap ke arah lain.
Kening Alfin mengkerut. Sudah jelas sejak tadi Rey menatap ke arah Yura dan Galang yang sedang bercerita sambil menunggu pesanan makan siang mereka datang namun Rey tetap menyangkalnya.
__ADS_1
Sedetik kemudian Alfin pun melipat bibirnya saat menyadari raut wajah Rey saat ini. "Jangan bilang jika saat ini kau sedang cemburu?" Tanya Alfin dengan tersenyum jenaka.
Lidah Rey berdecak. "Sejak kapan kau menjadi seorang penggosip seperti ini?" Ketusnya.
"Aku hanya mengungkapkan apa yang aku lihat dari wajahmu." Jawab Alfin tanpa ragu.
Rey menatap tajam Alfin namun tak membuat Alfin takut karenanya. "Jika kau suka maka katakan saja sebelum Galang melangkah lebih jauh darimu." Pesan Alfin.
"Omong kosong!" Sentak Rey yang membuat Alfin menggelengkan kepalanya.
"Bukankah besok kau akan kembali ke desa A bersama Yura?" Tanya Alfin mengingat jadwal Rey esok hari.
Rey menganggukkan kepalanya lalu menyeruput kopi hangatnya yang masih tersisa setengahnya.
"Bicaralah dengan benar atau aku tak segan mematahkan lehermu." Ucap Rey dengan wajah berang.
Bukannya takut Alfin justru tertawa mendengarnya. "Aku hanya memberikan saran agar kau tidak ditikung pria itu nantinya. Dia terlihat lebih baik dan murah tersenyum dari pada dirimu." Ucap Alfin penuh makna.
Rey mendorong kursinya ke belakang lalu beranjak dari duduknya.
"Hei, kau ingin kemana?" Tanya Alfin namun Rey tak menggubrisnya. "Apa dia merajuk kepadaku?" Alfin tertawa kecil lalu turut bangkit dari duduknya. "Dia selalu saja membohongi perasaannya." Alfin menggelengkan kepalanya lalu berjalan mengejar langkah Rey yang sudah keluar dari dalam resto.
*
__ADS_1
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Rey sudah nampak berada di kediaman keluarga Rangga untuk menjemput Yura berangkat ke desa. Hari ini ia memilih berangkat lebih awal dari bulan lalu karena ingin lebih awal sampai di desa.
Setelah berpamitan pada Rangga dan Vara yang mengantarkan Yura sampai di teras rumah, Rey pun mulai menjalankan mobilnya keluar dari perkarangan rumah kedua orang tua Yura.
"Kak Rey, apa benar jika perjalanan kita kali ini cukup memakan waktu lama?" Tanya Yura mencoba memberanikan diri bertanya pada Rey.
Rey menganggukkan kepalanya tanpa menatap pada Yura. "Kita akan berada di desa selama satu minggu." Jawab Rey.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Yura merasa bingung karena sebelumnya ia hanya diberi kabar akan berada di desa selama dua hari seperti bulan lalu.
"Karena banyak pekerjaan yang harus kita lakukan di sana." Jawab Rey seadanya.
Yura bertambah dibuat bingung. Namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut karena ia yakin jika Rey tidak akan menjawab pertanyaannya sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Sementara di kediaman orang tua Yura, Rangga nampak menghela nafasnya setelah mematikan sambungan telefon dengan Aidan. "Aku harap semua akan berjalan sesuai rencana dan semuanya akan baik-baik saja." Gumam Rangga menatap layar ponselnya yang kini menampakkan foto wajah Yura di sana.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update
__ADS_1