
Deg
Yura tertegun mendengarnya. Ia menatap wajah Rey dengan tatapan tak percaya. "Me-minta apa yang Kakak maksud?" Tanya Yura.
"Meminta hakku sebagai seorang suami." Ucap Rey tanpa basa-basi.
Yura terdiam. Entah apa yang ada di dalam pemikirannya saat ini hingga ia tak dapat berkata-kata setelah mendengarkan permintaan frontal dari Rey. Ia bahkan tidak sadar jika Rey kini sudah berjalan melewatinya menuju ranjang.
"Apa Kak Rey serius dengan perkataannya?" Ucap Yura dalam hati. Perasaan takut kini mulai menghantuinya saat memikirkan maksud dari ucapan Rey.
"Tidak-tidak. Kak Rey pasti hanya bercanda." Ucap Yura lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, Yura memegang dadanya yang berdetak begitu cepat. "Bunda..." lirih Yura merasa takut apa yang akan terjadi padanya nanti malam.
"Bunda pernah berkata agar aku selalu menuruti perkataan suamiku jika itu masih di jalan yang benar. Apakah sekarang permintaan Kak Rey itu benar? Apakah aku harus menurutinya?" Yura mulai bimbang. "Tapi bagaimana pun juga dia adalah suamiku." Lanjutnya kemudian merasa semakin bimbang.
Tak ingin terlalu larut dalam pemikirannya, Yura memilih segera menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhnya dan membersihkan tubuhnya.
Ceklek
Dengan langkah ragu Yura berjalan ke arah meja rias untuk mengeringkan rambutnya yang basah di sana. Dari atas ranjang, Rey terus memperhatikan gerak-gerik istrinya itu tanpa berkedip.
__ADS_1
Deg
Deg
Jantung Yura dibuat berdebar-debar saat menyadari jika Rey kini tengah menatapnya dengan intens. Ia bahkan dapat melihat tatapan suaminya itu lewat kaca meja rias.
"Kenapa dia menatapku seperti itu?" Lirih Yura.
Tanpa tahu jika istrinya kini tengah gugup karena tatapannya, Rey terus menatap Yura tanpa berkedip hingga akhirnya terhenti saat Yura mulai menghidupkan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.
"Tuhan... kenapa ini terasa sangat menakutan." Ucap Yura merasa tidak nyaman dengan keadaannya saat ini. Yura pun mencoba mengatur detak jantungnya yang berdetak begitu cepat dengan menghela nafas dan menghembuskannya secara perlahan di udara.
*
Tring
Suara deringan ponsel Rey yang terdengar cukup keras mengalihkan pandangan Yura pada Rey yang baru saja siap menghabiskan makanannya. Rey terlihat mengangkat panggilan telefonnya dan berbincang cukup lama dengan seseorang yang ia yakini adalah Alfin sahabat suaminya.
Setelah selesai berbincang dengan Alfin, Rey pun mematikan sambungan telefonnya. Yura pun segera memutuskan pandangannya dari Rey dan melanjutkan menghabiskan sisa makanannya.
__ADS_1
"Malam ini aku akan pergi ke apartemen Alfin." Ucap Rey setelah Yura selesai menyantap makanannya.
"Apa?" Yura seketika senang mendengarnya. Namun ia berusaha menutupi kesenangannya dengan wajah terkejutnya.
"Ya. Aku akan pergi dan akan segera kembali." Ucap Rey kemudian. Ucapan Rey pun berhasil menghilangkan rasa senang yang baru saja memuncak di hati Yura.
Yura mengangguk saja dan tak ingin menjawab ucapan suaminya.
"Kau tidak lupa dengan perkataanku tadi?" Tanya Rey.
"Emh, ya?" Ucap Yura pura-pura tidak tahu.
"Aku tahu kau tidak lupa." Tekan Rey. "Persiapkan dirimu dengan baik karena aku akan memintanya malam ini." Ucap Rey dengan wajah datar tanpa ekspresi.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.