
Gerry dan Rey terdiam di ambang pintu menatap sosok yang terlihat sangat kurus dan pucat terbaring di atas ranjang. Sebagai pria yang masih memiliki rasa iba dan hati nurani, hati Rey terasa teriris melihat penampakan yang begitu menyedihkan di depan matanya saat ini. Wanita yang ia ketahui sebagai mantan kekasih papanya itu terlihat sangat menyedihkan. Rambut yang terlihat sedikit berantakan dan pandangannya yang kosong membuat Ketty seperti mayat hidup saat ini.
Gerry berjalan lebih dulu mendekat pada ranjang lalu diikuti oleh Rey. Ditatapnya wajah mantan kekasihnya yang terlihat semakin tua dimakan waktu dan penyakitnya. Tidak ada rasa cinta sedikit pun yang tertinggal di dalam hati Gerry untuknya. Yang ada hanyalah rasa iba dan empati sebagai sesama manusia.
Gerry tak bersuara sedikit pun. Ia hanya menatap kondisi tubuh Ketty saat ini yang terlihat sangat kurus dibandingkan terakhir kali ia datang melihatnya. Begitu pun dengan Ketty, walau dengan kondisinya yang terasa lemah tak berdaya, ia masih bisa merasakan dan melihat kehadiran Gerry dan putranya saat ini.
Bulir air mata nampak terjatuh di sudut mata Ketty. Gerry dan Rey dapat melihat aliran air mata itu dengan jelas. Namun mereka masih enggan untuk bersuara dan membiarkan Ketty diam dalam hening.
"Huft." Hembusan nafas Gerry terdengar kasar di udara. Sungguh, ia merasa sangat prihatin dengan keadaan Ketty saat ini. Jika tidak ada dirinya setelah wanita itu keluar dari penjara, entah apa yang akan terjadi pada wanita itu saat ini.
"Pergilah." Satu kata yang terdengar sangat lirih keluar dari bibir mungil Ketty.
Gerry dan Rey dapat mendengar suara itu. Ditatap mereka wajah Ketty yang masih setia menatap ke arah dinding. Ketty hanya berucap satu kata yang meminta mereka untuk pergi tanpa berniat mengatakan hal lain.
Gerry menatap putranya yang masih tak bergeming di posisinya. Ia menatap Rey dengan memberikan isyarat untuk keluar dari dalam kamar Ketty. Rey mengangguk mengiyakannya lalu melangkah lebih dulu meninggalkan kamar.
__ADS_1
Walau sudah mengetahui bagaimana kejahatan Ketty pada mamanya bahkan nyaris merenggut nyawa papanya saat itu, namun Rey tidak memiliki rasa dendam pada wanita itu. Ia tetaplah pria keturunan Kyara yang memiliki hati yang lembut dan pemaaf.
"Dia sungguh menyedihkan." Ucap Rey setelah Gerry menutup pintu kamar.
Gerry menghela nafas panjang. "Ya, seperti yang kau lihat." Jawab Gerry seadanya.
Rey melangkah ke arah tangga. Gerry membiarkan putranya itu melangkah lebih dulu lalu mengikutinya setelah Rey berjalan menuruni anak tangga.
Kedua orang perawat nampak masih setia duduk menunggu kedatangan mereka di ruang tamu. Mereka seketika berdiri saat melihat Rey dan Gerry sudah kembali ke ruang tamu.
Mereka menurutinya lalu duduk seperti semula.
"Kapan Dokter Mark akan datang memeriksanya kembali?" Tanya Gerry.
"Sore ini, Tuan."
__ADS_1
"Katakan padanya setelah memerika kondisi Ketty untuk datang menemuiku di apartemen." Titah Gerry.
Mereka mengangguk mengiyakannya.
Setelah mengatakannya, Gerry memanggil pelayan dan pengawalnya untuk memberikan perintah agar menjalankan tugas mereka yang baru. Setelah selesai, Gerry pun mengajak Rey pergi dari rumah itu.
"Rey..." Gerry menahan tangan putranya yang berjalan lebih dulu darinya. "Papa harap kau mengerti dengan apa yang Papa lakukan saat ini." Ucap Gerry penuh maksud pada Rey.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Terjebak Cinta Tuan Marvel, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1