Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Awal baru di hidupnya


__ADS_3

"Maaf jika kami sudah membuat malu di desa ini. Namun seperti yang Ibu katakan jika saya dan Tuan Rey tidak melakukan apa yang warga tuduhkan. Saya dan Tuan Rey berada di pondok itu karena terpaksa." Ucap Yura lalu menjelaskan dengan rinci apa yang terjadi hingga mengharuskan mereka menginap di dalam pondok. Yura pun meneteskan air matanya karena merasa sesak mengingat apa yang terjadi beberapa jam yang lalu pada mereka.


Bu Asih terdiam menatap Yura yang sedang menangis dengan tatapan iba. Sebagai wanita ia dapat merasakan kesedihan Yura saat ini. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa karena semuanya telah terjadi. Yura dan Rey sudah menikah dan itu semua tidak bisa dihindarkan lagi.


"Sebagai warga yang pernah tinggal di desa Nona Yura pasti paham jika apa yang dilakukan warga di sana untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat desa mereka. Nona dan Tuan Rey mungkin bisa saja menolak apa yang diperintahkan oleh warga. Namun Nona dan Tuan pasti tahu apa yang akan terjadi jika tidak mengindahkan perintah mereka. Warga akan menolak mentah-mentah bantuan dari perusahaan Tuan dan Nona dan akan menyebarluaskan apa yang terjadi pada Nona dan Tuan yang akan berakibat buruk bagi repurtasi perusahaan Nona dan Tuan." Jelas Bu Asih.


Yura membenarkan ucapan Bu Asih. Ia tidak menyangkal karena sewaktu tinggal di desa dulu ia sudah mulai paham adat dan istiadat warga desa yang sangat kental dan sangat berbeda jauh dengan kehidupan di kota.


"Saya dapat memahami itu semua. Saya harap ibu dan warga desa di sini masih bersedia menerima bantuan dari perusahaan kami." Ucap Yura.


"Tentu saja. Kami tidak akan menyia-nyiakan bantuan dari perusahaan Tuan dan Nona. Sejak dulu perusahaan Tuan dan Nona sudah banyak membantu kemajuan desa kami dan kami sangat tahu bagaimana keluarga Tuan dan Nona. Sebagai perwakilan desa ini, saya menegaskan jika warga di sini tidak akan terprovokasi dengan berita yang kami dapatkan. Kami tetap percaya pada Tuan dan Nona jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya." Ucap Bu Asih.


Kedua mata Yura nampak berkaca-kaca mendengar ucapan Bu Asih. Seandainya warda di seberang desa dapat percaya padanya dan Rey pasti semua ini tidak akan terjadi. Namun nasi sudah menjadi bubur. Ia dan Rey sudah menikah dan tidak ada pembelaan lagi yang bisa ia utarakan karena semuanya telah terjadi.

__ADS_1


"Saya harap untuk ke depannya Tuan dan Nona dapat tetap bekerja seperti biasanya tanpa merasa sungkan pada warga desa kami." Ucap Bu Asih.


Rey mengangguk mengiyakan ucapan Bu Asih. Entah mengapa sejak tadi ia lebih banyak memilih diam seolah ada sesuatu yang kini tengah dipendamnya.


"Kami akan tetap profesional dalam bekerja, Bu. Terimakasih atas kepercayaan Ibu kepada kami." Ucap Yura.


Bu Asih mengangguk mengiyakan. Setelah cukup lama berbincang, Bu Asih pun menutup pembicaraan di antara mereka. Bu Asih pun berpamitan masuk ke dalam kamarnya dan membiarkan Yura dan Rey masih berdiam diri di ruang tamu rumahnya.


Yura menggelengkan kepalanya. "Aku akan masuk ke dalam kamar." Ucap Yura.


Rey tak membalas ucapan Yura dan melanjutkan niatnya bangkit dan melangkah ke arah kamarnya. Yura pun turut bangkit dan mengikuti Rey masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Setelah masuk ke dalam kamarnya, Rey menatap ponselnya yang bergetar di atas meja lalu berjalan mendekat ke arah meja. Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja lalu membuka pesan baru masuk ke dalam ponselnya.

__ADS_1


"Malik?" Gumam Rey membaca nama pengirim pesan. Rey membaca pesan yang Malik kirimkan kepadanya dan menghembuskan nafas kasar di udara. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Pandangannya kini tertuju pada langit-langit kamar sambil memikirkan kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu. Tidak ada sedikit pun ekspresi yang nampak dari wajah Rey saat mengingat pernikahan dadakannya dengan Yura. Wajah pria itu tetap saja datar dan sulit untuk dibaca.


Sementara di dalam kamar Yura, wanita itu kini terlihat menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Entah apa yang akan terjadi di hidupnya ke depannya setelah tadi ia resmi menjadi istri Rey. Ia sungguh tidak menyangka perjalanan pekerjaannya dan Rey akan menjadi awal hubungan baru di hidup mereka. Hubungan yang tidak pernah ia bayangkan lagi setelah memutuskan melupakan Rey di hidupnya.


"Tuhan... kenapa di saat aku berusaha keras untuk melupakannya dan sudah menghilangkan bayang-bayangnya dari benakku, engkau justru mendekatkannya ke dalam hidupku?" Gumam Yura.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2