
Cittt
Rey tiba-tiba saja menghentikan mobilnya hingga membuat tubuh Yura terhuyung ke depan. Yura memegang dadanya merasa terkejut lalu menatap pada Rey.
Tin
Tin
Suara klakson dan makian yang bersahutan terdengar tertuju pada Rey. Pengendara yang berada di belakang mobil Rey nampak marah karena Rey memberhentikan mobilnya secara mendadak. Untuk saja tindakannya itu tidak membuat tabrakan satu sama lain.
"Kenapa Kakak menghentikan mobilnya tiba-tiba? Apa Kakak tahu jika ini bahaya?" Tanya Yura.
Rey menoleh pada Yura. Ia tidak menjawab ucapan Yura justru menatap Yura dengan tajam. Yura dibuat bingung melihat ekspresi Rey saat ini.
"Kau bilang apa tadi?" Tanya Rey dengan tatapan semakin tajam.
Yura diam namun tak mengalihkan tatapan matanya dari Rey.
"Kau bilang berpisah?" Ucap Rey lagi.
Yura perlahan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Buang semua kata pisah yang ada di pemikiranmu karena sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu." Tekan Rey. Tatapannya berubah nyalang pada Yura hingga membuat Yura membeku karenanya.
Rey kembali menatap jalanan di depannya dan melajukan kembali mobilnya. Perjalanan menuju perusahaan Yura pun terasa menegangkan karena Rey membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yura hanya bisa memegang erat sabuk pengamannya untuk menyalurkan rasa takutnya dengan laju mobil Rey saat ini.
"Apa dia marah kepadaku?" Tanya Yura dalam hati sambil memejamkan erat kedua matanya. "Dan apa maksud Kak Rey tidak ingin berpisah?" Lanjutnya lagi dalam hati.
Dua puluh menit berlalu, mobil Rey pun akhirnya sampai di depan perusahaan Dharma. Yura nampak menghela nafas sesaat sebelum menatap pada Rey.
"Kak Rey, aku pamit masuk ke dalam dulu." Ucap Yura pelan.
Rey hanya diam sambil menatap lurus ke depan. Terlihat jelas di wajah tampan pria itu jika ia sedang marah saat ini.
"Kenapa dia pergi buru-buru sekali, tidak seperti biasanya." Lirih Yura menatap mobil Rey yang semakin jauh dari pandangannya. "Sepertinya dia memang marah kepadaku. Tapi kenapa harus marah, bukankah itu adalah jalan yang terbaik untuk hubungan tidak sehat ini?" Lirihnya lagi.
Yura menghela nafasnya yang terasa kian memberat. Ia memilih melanjutkan langkah masuk ke dalam perusahaan tanpa memperdulikan lagi sikap Rey kepadanya.
Sementara di dalam mobilnya, Rey nampak mencengkram erat kemudinya saat ucapan Yura meminta berpisah kembali terngiang di kepalanya.
"Sial!" Umpatnya pelan. "Jangan pernah bermimpi jika kau ingin berpisah dariku." Ucap Rey dengan tatapan matanya yang semakin tajam.
*
__ADS_1
Sesampainya di perusahaan, Rey bergegas masuk ke dalam ruangan kerjanya dan melakukan panggilan telefon pada seseorang yang tak lain adalah Papa Gerry.
"Apa kau sudah sampai di perusahaan Rey?" Tanya Papa Gerry setelah sambungan telefon terhubung.
Rey hanya diam tak menjawab ucapan Papa Gerry.
"Hallo, Rey?" Ucap Papa Gerry lagi karena tak kunjung mendengar suara Rey.
"Bisakah Papa membatalkan persetujuan atas permintaan Om William kepadaku?" Tanya Rey.
Di seberang telefon Papa Gerry nampak terdiam dan berpikir beberapa saat apa maksud permintaan putra sulungnya itu.
"Maksudmu permintaan Om William beberapa bulan lalu untuk menjadikan Flower sebagai sekretaris barumu di perusahaan?" Tanya Gerry setelah paham maksud permintaan putranya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1