Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Menganggapnya orang asing


__ADS_3

Jeni tersenyum membalas ucapan Yura. Bagaimana pun juga ia tidak mungkin memanggil Yura tanpa ada sebutan Nona di depan namanya. "Kalau begitu ayo ikut saya, Nona. Saya akan mengantarkan anda ke ruangan kerja anda." Ajak Jeni.


"Yura saja, Jeni." Ucap Yura lagi.


"Maaf, Nona, saya tidak bisa melakukannya." Ucap Jeni ramah.


Yura menghela nafasnya dan membiarkan Jeni memanggilnya dengan sebutan Nona di awal namanya. Mereka pun berjalan ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai tertinggi perusahaan. Setelah berada di lantai empat yang menjadi tempat ruangan kerja Yura, Jeni pun berjalan lebih dulu dan membukakan pintu untuk Yura.


"Silahkan masuk, Nona. Ini adalah ruangan kerja anda." Ucap Jeni.


"Terimakasih Jeni." Balas Yura lalu masuk ke dalam ruangan kerjanya. Saat sudah masuk ke dalam ruangan, Yura dibuat terkejut melihat Aidan sudah berada di dalam ruangan kerjanya dan kini tengah tersenyum kepadanya.


"Yura, kau sudah datang?" Tanya Aidan lalu bangkit dari duduknya.


Yura menganggukkan kepalanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan. "Apa Kakak sudah lama berada di sini?" Tanya Yura.


"Tidak. Kakak baru saja sampai beberapa menit yang lalu." Jawab Aidan


Yura mengangguk paham.


"Kalau begitu saya pamit keluar dulu Nona Yura, Tuan Aidan." Pamit Jeni yang berniat membuatkan minuman untuk Yura dan Aidan lebih dulu.


Aidan menganggukkan kepalanya. Pun dengan Yura yang mengucapkan terimakasih pada Jeni karena telah mengantarkannya.

__ADS_1


"Ayo duduk dulu." Ajak Aidan pada Yura.


"Baik, Kak." Jawab Yura lalu berjalan mengikuti Aidan ke arah sofa.


"Apa Ayah sudah memberitahukan padamu jika hari ini Kakak akan membantumu mempelajari berkas-berkas tentang perusahaan dan kerja sama dengan perusahaan Bagaskara?" Tanya Aidan.


"Sudah. Setelah sarapan Ayah telah memberitahukannya padaku, Kak." Jawab Yura.


Aidan mengambil beberapa lembar berkas dari lembar tumpukan berkas di depannya dan memberikannya pada Yura. "Di dalam berkas ini adalah hal-hal penting yang sudah Kakak rangkum tentang perusahaan kita. Kau wajib mempelajarinya sebelum kau melakukan kerja sama dengan perusahaan Bagaskara." Jelas Aidan.


Yura membaca dengan seksama berkas yang diberikan Aidan.


"Di sana juga sudah tertulis dengan pihak mana saja perusahaan ini bekerja sama." Ucap Aidan.


"Kau bisa membacanya nanti setelah Kakak menjelaskan tentang kerja sama perusahaan ini dengan perusahaan Bagaskara yang akan ditangani langsung oleh Kak Rey esok hari." Ucap Aidan.


Yura menganggukkan kepalanya tanpa perubahan ekspresi apa pun di wajahnya. Seolah nama Rey sudah tidak ada artinya lagi saat orang lain mengatakannya.


Tok Tok Tok


Jeni nampak kembali masuk ke dalam ruangan dengan membawa minuman dan makanan ringan di dalam nampan.


"Silahkan diminum Tuan, Nona." Ucapnya ramah.

__ADS_1


"Terimakasih, Jeni." Ucap Yura ramah sedangkan Aidan memilih menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Selain Kakak, Jeni juga nantinya akan menjelaskan hal apa saja yang berhubungan dengan perusahaan ini kepadamu." Ucap Aidan.


Jeni menatap tersenyum pada Yura yang dibalas Yura dengan anggukan kepalanya. Tak lama Jeni pun kembali berpamitan ke luar dan membiarkan Aidan dan Yura berbicara di dalam ruangan.


"Yura, Kakak percaya jika tanpa diajarkan sekali pun kau sudah bisa memimpin perusahaan ini. Saat ini Kakak hanya bertugas membimbingmu dan mengarahkanmu pada hal yang mungkin belum kau ketahui." Ucap Aidan.


"Yura masih membutuhkan bimbingan dari Kakak." Ucap Yura yang sudah paham maksud ucapan Aidan.


"Kakak tahu itu. Sampai kapan pun kau selalu membutuhkan Kak untuk hal apa pun itu." Ucap Aidan.


Yura tersenyum karenanya. Aidan pun tiba-tiba membawa Yura ke dalam pelukannya. "Kakak harap kau tidak lagi bersikap bodoh dengan mengutamakan hatimu dari pada kebahagiaanmu. Jangan lagi mengingat hal yang akan membuatmu terluka." Ucap Aidan.


Yura mengangguk paham dalam dekapan Aidan. "Yura berjanji untuk itu, Kak. Yura akan berusaha sekuat mungkin untuk tidak lagi mengecewakan Kakak, Ayah dan Bunda." Janji Yura.


Aidan mengusap sayang rambut Yura yang tergerai. "Kakak percaya kepadamu. Mulai besok kau akan sering bertemu dengan Rey. Dan ingat, jangan menunjukkan kelemahanmu di depannya. Anggap saja dia sebagai orang asing yang baru kau kenal. Jangan lagi membuat dirinya selalu berada di atas awan karena melihat kau menaruh rasa kepadanya." Ucap Aidan dengan tegas.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2