Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Apa dia marah?


__ADS_3

"Dimana dia?" Gumam Rey karena tidak melihat keberadaan Yura di ruang tamu. Karena biasanya Yura menyempatkan lebih dulu berbincang sejenak dengan Rachel di ruang tengah rumahnya setelah pulang kerja sebelum masuk ke dalam kamarnya.


"Apa mungkin dia ada di taman?" Tebak Rey. Tanpa membuang waktu, Rey segera melangkah ke arah pintu penghubung taman rumahnya. Saat sudah berada di ambang pintu, Rey melihat Yura yang masih mengenakan pakaian kerjanya sedenga berbicara sambil tertawa dengan Rachel.


"Kak Rey?" Ucap Rachel menyadari kehadiran Rey.


Yura pun sontak memutar tubuhnya ke arah belakang untuk melihat keberadaan Rey. "Kak Rey?" Gumam Yura.


Rey pun berjalan mendekat pada Yura lalu menatap Yura dengan intens. "Kenapa kau pulang sendiri begitu saja tanpa menunggu jawaban dariku lebih dulu?" Cecar Rey namun tersirat rasa khawatir di wajahnya.


Yura menatap Rey dengan wajah bingung. Terlebih raut cemas Rey sangat terbaca di wajah tampannya saat ini.


"Yura..." Rachel menyikut lengan Yura karena tak kunjung menjawab pertanyaan Kakaknya.


"Emh, ya. Bukankah aku sudah mengirimkan pesan pada Kakak jika aku pulang lebih dulu?" Tanya Yura.

__ADS_1


"Kau memang sudah mengirimkan pesan padaku namun aku belum membalas pesan itu." Cecar Rey.


Raut wajah Yura semakin berubah bingung. "Aku pikir Kakak sedang sibuk di perusahaan sehingga aku memutuskan untuk pulang tanpa menunggu balasan dari Kakak lebih dulu." Ucap Yura.


Rey menatap dingin pada Yura yang nampak biasa saja tanpa mengerti ekspresi wajahnya saat ini. "Lain kali jangan bertindak ceroboh dengan mengambil keputusan sendiri. Kau harus ingat jika kau pergi bersamaku, maka aku juga yang akan menjemputmu!" Tekan Rey lalu membalikkan tubuhnya masuk ke dalam rumah.


"Kenapa Kak Rey pergi? Apa dia marah kepadaku? Tapi kenapa dia harus marah?" Tanya Yura bingung.


"Kak Rey bukan marah padamu, Yura. Tapi Kak Rey sedang mencemaskanmu yang pulang sendiri tanpa menunggunya lebih dulu." Jawab Rachel.


Yura menatap Rachel dengan kening mengkerut. "Untuk apa dia mencemaskanku, aku bukan anak kecil yang lupa dengan jalan pulang." Jawab Yura berusaha acuh walau di hatinya saat ini menebak-nebak maksud ucapan dan ekspresi wajah Rey tadi.


"Agh, ya, aku sampai melupakannya." Yura segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Rachel memilih tetap berada di taman dengan senyuman yang terkembang di wajahnya saat ini. "Baru dua minggu menikah dengan Yura saja Kakak sudah memperlihatkan perubahan sikapnya pada Yura. Bagaimana kalau satu bulan? Mungkin saja calon keponakanku sudah mulai tumbuh di rahim Yura." Rachel tertawa kecil membayangkan apa yang dilakukan Kakaknya pada Yura untuk menghasilkan keponakan untuknya.

__ADS_1


Yura baru saja mengijakkan kakinya di lantai dua dimana kamar Rey berada. Ia melangkah dengan tergesa-gesa menuju pintu kamar Rey dan segera membuka pintu kamar tanpa rasa ragu di hatinya. Setelah pintu kamar terbuka, Rey terlihat tengah membuka kancing kemejanya. Yura menghela nafasnya sesaat untuk membuang kegugupannya melihat aktivitas Rey saat ini yang sudah hampir biasa dilihatnya lalu berjalan ke arah kamar mandi setelah meletakkan tas sandangnya di atas sofa.


"Apa dia marah kepadaku?" Gumam Yura sambil mempersiapkan air hangat untuk Rey. "Sudahlah, untuk apa aku memikirkannya. Mungkin saja sikapnya tadi karena dia merasa memiliki tanggung jawab setelah Ayah menitipkan aku padanya." Ucap Yura tak ingin ambil pusing.


Setelah mempersiapkan air mandi untuk Rey, Yura segera keluar dari dalam kamar mandi. Yura mengelus dadanya saat melihat Rey sudah berada tepat di depan pintu kamar mandi sambil menatap dingin padanya. Dan jangan lupakan saat ini Rey sudah bertelanjang dada yang membuat Yura gugup melihatnya.


"Apa Kakak sudah ingin mandi?" Tanya Yura berusaha bersikap biasa saja.


Rey hanya diam lalu sambil menatap wajah Yura cukup lama. Setelahnya ia melewati tubuh Yura begitu saja dan menutup pintu kamar mandi. Yura pun mengelus dadanya saat pintu kamar mandi sudah tertutup dari dalam.


"Sudahlah Yura, tidak perlu memikirkannya. Bukankah dia sudah terbiasa bersikap seperti itu padamu?" Ucapnya lalu menghembuskan nafas bebas di udara.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2