
"Tiga hari lagi kita akan pergi ke seberang desa untuk melihat lahan kosong yang ada di sana." Ucap Rey pada Yura setelah mendaratkan bokongnya di kursi rotan yang ada di ruang tamu.
"Seberang desa?" Ulang Yura.
Rey tak menanggapinya dan lebih memilih memeriksa pesan masuk ke dalam ponselnya.
"Untuk apa kita pergi ke seberang desa?" Tanya Yura karena saat di perjalanan Rey sama sekali tidak memberitahukan apa-apa kepadanya.
"Kau bisa membaca pesan yang aku kirimkan ke ponselmu." Ucap Rey yang merasa malas menjelaskannya pada Yura.
Yura segera mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan masuk dari Rey. "Baiklah. Aku rasa pekerjaan kita kali ini cukup padat." Ucap Yura lalu tersenyum pada Bu Asih yang baru saja datang membawa minuman untuk mereka. Setelah berbincang sejenak dengan Bu Asih dan menikmati minuman dan makanan yang Bu Asih sajikan, Rey dan Yura pun berpamitan untuk istirahat di kamar mereka masing-masing.
"Kenapa perasaanku menjadi tidak enak setelah mendengar Kak Rey akan membawaku pergi ke seberang desa?" Gumam Yura setelah masuk ke dalam kamarnya.
Karena merasa ragu dengan rencana kepergiaannya bersama Rey ke seberang desa. Yura pun melakukan panggilan telefon dengan Aidan untuk mempertanyakan pekerjaannya di seberang desa untuk beberapa hari kemudian. Setelah mendengarkan penjelasan dari Aidan yang mengatakan hal yang sama dengan apa yang Rey katakan, Yura pun menghela nafas panjang karena apa yang Rey katakan benar adanya.
"Kau jangan khawatir dengan apa yang ada di dalam pemikiranmu saat ini. Ingatlah perkataan Kakak, dimana pun kau berada Kakak akan selalu berada di dekatmu dan menjagamu." Ucap Aidan menutup pembicaraan mereka.
Yura menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia meletakkan ponselnya di atas meja lalu berjalan ke arah ranjang dan mendaratkan bokongnya di atas ranjang. Sejenak Yura terfikir dengan perkataan Aidan yang terasa janggal di pemikirannya.
__ADS_1
Dimana pun kau berada Kakak akan selalu berada di dekatmu dan menjagamu. "Apa maksud ucapan Kak Aidan? Kenapa rasanya aneh sekali." Gumam Yura. Pemikirannya terus mencerna ucapan Aidan namun Yura tak kunjung mendapatkan jawabannya. Karena sudah terlalu lelah berpikir, Yura pun memutuskan untuk beristirahat dengan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Semoga apa yang aku takutkan tidak akan pernah terjadi." Gumam Yura lalu memejamkan kedua kelopak matanya.
*
Tiga hari berlalu, akhirnya hari keberangkatan mereka ke seberang desa pun tiba. Yura nampak sudah rapi dengan baju kemeja bewarna fuschia dan celana jeans bewarna light yang melekat indah di tubuhnya. Pun dengan Aidan yang juga nampak sudah rapi dengan kemeja bewarna hitam dan celana chino bewarna cream yang sudah melakat sempurna di tubuh kekarnya.
"Tuan dan Nona mau berangkat sekarang?" Tanya Bu Asih yang ingin pergi berangkat bekerja saat bertemu di ruang tamu dengan Yura dan Rey.
"Ya. Kami akan berangkat sekarang agar tidak pulang malam, Bu." Jawab Rey.
"Sudah, Bu." Jawab Rey yang paham dengan maksud ucapan Bu Asih. Sementara Yura nampak bingung mendengar pertanyaan Bu Asih tentang persediaan bahan bakar mobil Rey.
"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu ke kantor desa, Tuan, Nona." Pamit Bu Asih.
Rey dan Yura mengangguk megiyakan. Setelah Bu Asih berangkat ke kantor desa menggunakan motor maticnya, Yura dan Rey pun masuk ke dalam mobil untuk berangkat ke seberang desa.
"Apa maksud ucapan Bu Asih tadi, Kak? Kenapa Bu Asih mempertanyakan bahan bakar mobil Kakak?" Tanya Yura yang cukup merasa penasaran.
__ADS_1
"Itu karena di seberang desa nanti sangat sulit untuk mendapatkan bahan bakar." Jawab Rey seadanya.
"Sulit mendapatkan bahan bakar?" Gumam Yura. Walau masih merasa bingung dengan dengan jawaban Rey, namun Yura memilih diam dan tak lagi bertanya.
Rey pun mulai menjalankan mobilnya meninggalkan tempat penginapannya dan Yura. Jalanan desa yang berbatuan dan sedikit menanjak membuat duduk Yura terasa tidak nyaman. "Sepertinya aku perlu menyarankan pada Ayah untuk juga memperbaiki jalanan desa ini agar nyaman untuk dilewati." Gumam Yura.
Lima belas menit berlalu, akhirnya mobil pun keluar dari kawasan desa A dan mulai memasuki jalanan beraspal. Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil melihat layar ponselnya untuk melihat jalan alternatif yang bisa mereka lewati menuju seberang desa.
"Apa perjalanan menuju seberang desa masih jauh, Kak?" Tanya Yura pada Rey.
"Cukup jauh karena jembatan menuju seberang desa dalam perbaikan dan tidak bisa dilewati. Kita harus melewati satu desa lagi untuk berputar arah ke seberang desa A." Jawab Rey dengan datar tanpa ekspresi.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenara🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.
__ADS_1