
Keesokan harinya Rey pun memutuskan menyudahi acara liburan mereka deng membawa Yura pulang ke ibu kota. Bukan tanpa alasan Rey melakukannya, sejak melihat Yura tiba-tiba keram kemarin ditambah istrinya itu yang mulai sulit berjalan karena perut besarnya membuat Rey merasa awas jika terjadi apa-apa pada Yura saat mereka tengah berada jauh dari keluarga mereka.
"Kak Rey padahal aku masih ingin menikmati liburan di Surabaya." Ucap Yura dengan wajah memelas pada Rey yang tengah duduk di sebelahnya di dalam pesawat.
"Kita bisa melanjutkan liburan di saat kau sudah lahiran nanti." Jawab Rey tanpa menatap wajah Yura karena ia tidak ingin termakan bujuk rayu istrinya itu.
"Tapi, Kak..." perkataan Yura terhenti saat jari telunjuk Rey berada di atas bibirnya.
"Menurutlah karena aku hanya ingin yang terbaik untukmu." Ucap Rey lembut namun penuh penekanan.
Yura mengangguk saja lalu memilih memejamkan kedua kelopak matanya.
"Jika menurut seperti ini kau terlihat lebih manis." Ucap Rey sambil mengusap rambut Yura.
Dua jam berlalu, kini Rey dan Yura sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka pulang menuju kediaman mereka.
"Bagaimana dengan Rachel?" Tanya Rey pada Harry yang sedang fokus mengemudi mobil.
__ADS_1
"Nona Rachel baik-baik saja, Tuan. Tidak terlihat ada hal yang aneh selama saya mengikutinya." Jawab Harry.
Rey terus mengusap rambut Yura agar Yura tak terjaga dalam tidurnya. Ya, saat ini wanita hamil kembar tiga itu kembali tengah terlelap di pangkuan suaminya.
"Baguslah kalau seperti itu. Terus awasi dia dan jangan sampai lengah." Titah Rey.
"Baik, Tuan." Jawab Harry patuh lalu kembali fokus menatap jalanan di depannya.
Mobil milik Rey terus melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang cukup padat siang itu hingga akhirnya tiga puluh menit kemudian mobil milik Rey berhenti tepat di depan kediaman rumah mereka.
"Emh..." Yura menggeliat lalu perlahan membuka kedua kelopak matanya.
"Kita sudah sampai?" Tanya Yura dengan mata berkedip-kedip.
"Ya. Ayo turun." Ajak Rey.
Yura mengiyakannya lalu turun dari dalam mobil dengan dibantu oleh Rey. Sebenarnya ingin sekali Rey tidak membangunkan istrinya itu dan memilih menggendong Yura masuk ke dalam rumah mereka. Namun mengingat kondisi Yura yang sedang hamil kembar tiga membuat Rey sadar jika tidak bisa melakukannya atau bisa membahayakan kondisi istrinya.
__ADS_1
Saat baru saja masuk ke dalam rumah Yura dibuat bingung saat Rey menarik tangannya menuju kamar yang berada di lantai bawah rumah mereka.
"Kenapa kita masuk ke kamar ini, Kak?" Tanya Yura setelah masuk ke dalam kamar. Ditatapnya sekeliling kamar yang terakhir kali ia lihat kosong kini telah berisi dengan ranjang, sofa dan beberapa lemari di dalamnya.
"Mulai saat ini kamar kita pindah ke kamar ini." Jawab Rey.
"Kenapa begitu? Memangnya ada apa dengan kamar kita yang lama?" Tanya Yura bingung.
Rey menghela nafas lalu menjawab. "Aku tidak ingin kau kesulitan untuk menaiki tangga menuju kamar kita dengan kondisi perutmu yang semakin membesar ini." Jawab Rey.
"Kak Rey..." entah mengapa Yura merasa haru dan senang mendengarkan jawaban suaminya yang terdengar sangat mengkhawatirkan keadaannya saat ini.
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengarkan ucapan terima kasih darimu." Ucap Rey mengurungkan niat Yura untuk melanjutkan perkataannya.
***
Lanjutan cerita ini bisa di baca di novel One Night Love Tragedy ya teman-temanš¤
__ADS_1