
"Karena Kakak memintanya untuk mengawalmu selama berada di sini." Jawab Rey.
"Apa?" Kedua mata Rachel terbelalak. "Untuk apa Kakak melakukan itu? Aku sungguh tidak membutuhkan orang lain untuk menjagaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Ucap Rachel menolak pengawal untuk dirinya.
"Tidak ada bantahan. Sampai kapan pun Kakak tidak akan percaya jika kau bisa menjaga dirimu sendiri." Tekan Rey.
"Tapi Kak..." Rachel tak melanjutkan perkataannya saat tangan Rey sudah terangkat di udara tanda tidak ada penolakan ataupun bantahan.
Oh astaga...
Kini Rachel hanya bisa menatap Rey yang sudah berjalan meninggalkan dirinya.
Yang benar saja Kak Rey meminta seorang pengawal untuk menemaniku selama berada di sini. Kalau begini bagaimana aku bisa bergerak dengan leluasa. Ucap Rachel dalam hati sambil menatap pria yang tengah berdiri di depannya.
"Harry... bisakah kau menjaga jarak dariku? Saat ini aku benar-benar tidak membutuhkan dirimu." Ucap Rachel berniat mengusir pengawalnya.
"Maaf, Nona. Saya akan menjalankan perintah Tuan Rey." Jawab Harry.
"Harry... ayolah. Papa saja tidak mengirimkan pengawal untukku. Lalu untuk apa kau mau mengawaliku?" Protes Rachel.
__ADS_1
"Tuan Gerrry memang tidak mengirimkannya karena Tuan Gerry sudah meminta Tuan Rey yang langsung memberikannya, Nona." Jawab Harry.
"Apa?" Flower terbelalak. Ia pikir selama ini Papanya sudah sepenuhnya percaya padanya ternyata tidak. "Ini sungguh menyebalkan!" Gerutu Rachel pelan namun dapat didengar oleh Harry.
Rachel pun melangkah begitu saja meninggalkan Harry dengan perasaan kesal. Harry pun dengan sigap mengikuti Rachel dari belakang.
"Jika begini bagaimana bisa aku menemuinya. Bisa-bisa Harry mengadukannya pada Papa dan Kak Rey." Ucap Rachel merasa bingung. Rachel terus berjalan dan akhirnya memasuki lift menuju resto yang berada di lantai satu hotel untuk menemui Yura yang ia yakini berada di sana.
Setelah sampai di resto yang berada di dalam hotel, Rachel mengedarkan pandangan mencari sosok sahabat baiknya itu. Setelah melihat keberadaan Yura, Rachel pun segera melangkah mendekati Yura.
"Rachel..." Yura tersenyum menatap Rachel.
"Kenapa kau ada di sini?" Bukankah kau bilang jika kau ingin pergi berjalan-jalan siang ini?" Tanya Yura bingung.
Rachel menatap Rey yang tengah menatapnya dengan senyuman kaku di wajahnya. Setelahnya ia membisikkan sesuatu pada Yura meminta sahabatnya itu membujuk Rey agar membatalkan niatnya memberikan pengawal untuknya.
Yura pun sontak menatap pada suaminya setelah mendengar permintaan Rachel.
"Emh, Kak Rey. Kenapa kau memberikan seorang pengawal pada Rachel? Rachel pasti tidak nyaman jika ada pengawal di sisinya." Ucap Yura dengan memasang wajah menggemaskannya.
__ADS_1
Rey mencoba tidak terpancing dengan bujuk rayuan istrinya. "Dia membutuhkannya. Mau nyaman atau tidak nyaman Rachel harus mau didampingi Harry kemana pun dia pergi." Ucap Rey tegas.
"Tapi Kak..." suara Rachel terdengar meninggi.
"Tidak ada bantahan." Tekan Rey mengulang kembali perkataannya tadi.
Rachel pun hanya bisa merungut karena rencananya tidak berhasil untuk membujuk Rey.
Tak berselang lama Rey pun berpamitan untuk pergi ke kamar mandi.
"Rachel, maaf, sepertinya aku tidak bisa membantumu kali ini." Ucap Yura dengan memasang wajah memelas.
"Bagaimana ini. Kak Rey benar-benar menghambat jalanku hari ini." Gerutu Rachel
Yura hanya bisa diam karena tidak tahu bagaimana untuk membantu Rachel.
Jika begini terus bagaimana bisa aku memiliki seorang keksih? Ucap Rachel dalam hati.
***
__ADS_1