Kita Harus Menikah!

Kita Harus Menikah!
Akhirnya terlambat


__ADS_3

"Kak Rey, Kak Alfin, kami pamit pergi dulu." Ucap Rachel.


"Baiklah, hati-hati di jalan." Jawab Alfin.


Rachel dan Yura mengangguk. Pandangan Rachel pun beralih pada Rey yang hanya diam tak membalas ucapannya. "Kak Rey, katakan pada Papa jika aku ingin bermain ke perusahaan Yura lebih dulu." Ucap Rachel.


"Kau ingin bermain ke perusahaan? Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku?" Tanya Yura dengan wajah bingung. Karena ia pikir Rachel akan pulang setelah makan siang mereka selesai.


Rachel hanya tersenyum lalu menarik tangan Yura menjauh dari meja Rey. "Karena aku baru berniat melakukannya." Jawab Rachel sambil berjalan.


"Kau ini selalu saja." Ucap Yura seraya menggelengkan kepalanya.


Mereka pun terus berjalan ke luar dengan diiringi tatapan Rey yang terus tertuju pada punggung Yura.


"Yura semakin cantik bukan?" Goda Alfin pada Rey.


"Sekali lagi kau berbicara akan ku patahkan lehermu." Ucap Rey dengan datar namun penuh penekanan.


Alfin dibuat bergedik ngeri mendengarnya. "Santailah, aku kan hanya bercanda." Ucap Alfin dengan tersenyum kaku.


Rey tak menggubris ucapan Alfin dan lebih memilih menghabiskan makanannya yang tinggal setengahnya. Pun dengan Alfin yang turut menghabiskan makannya tanpa bersuara.

__ADS_1


"Aku baru ingat jika besok kau akan datang ke cabang perusahaan Dharma yang kini dipimpin Yura." Ucap Alfin setelah menghabiskan makan siangnya.


Rey mengelap mulutnya dengan selembar tisu yang baru saja ia tarik dari dalam wadahnya. Tatapannya kini menatap datar wajah Alfin yang terlihat serius kepadanya. "Ya. Aku baru mengetahui jika perusahaan cabang Dharma yang berada di daerah ini kini dipimpin olehnya." Ucap Rey tanpa menyebutkan nama Yura.


"Setelah hampir dua tahun menghilang kini Yura kembali sebagai pemimpin perusahaan. Aku sungguh salut padanya. Aku yakin jika Om Rangga sudah mempertimbangkan kemampuan Yura sebelum diminta menjadi pemimpin perusahaan." Ucap Alfin.


Rey memilih diam namun tak menyangkal ucapan Alfin tentang Yura. Di balik sikap kekanak-kanakan Yura dan sikap bodohnya jika sedang bersama Rachel adiknya, Rey sangat mengetahui jika Yura memiliki kemampuan yang luar biasa dan tidak semua orang mampu melihatnya. Sejak kecil Yura dan Aidan sudah meminta diajarkan tentang bisnis pada Rangga setelah Rangga mengajak mereka bermain ke perusahaannya. Dan itu semua tak lepas dari pengetahuan Rey.


"Kau akan melakukan kerja sama dengannya bukan?" Tanya Alfin.


Rey mengangguk sebagai jawaban.


"Agh, akhirnya kau kembali ke beberapa tahun yang lalu dimana kau akan sering bertemu dengan Yura." Ucap Alfin dan sesaat kemudia ia pun melipat bibirnya saat menyadari jika sudah salah berbicara.


Alfin mengangguk saja tanpa bersuara.


Rey mendorong kursinya ke belakang. "Ayo pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan." Ajak Rey.


"Baiklah, ayo." Balas Alfin menurut.


*

__ADS_1


Keesokan harinya.


Yura terlihat mulai panik saat jalan yang dilewatinya menuju perusahaan tiba-tiba tersendat dan sulit untuk dilewati. "Ada apa ini? Kenapa jadi macet begini?" Gumam Yura sambil menatap jauh ke depan. Ia mencoba mencari tahu penyebab dari kemacetan hingga akhirnya rasa penasarannya terjawab saat mendengar pembicaraan pengendara motor yang mengatakan jika ada truk yang mengalami ban meletus di tengah jalan.


"Kalau begini aku bisa terlambat menuju perusahaan." Ucap Yura mulai merasa awas. Yura pun mencoba mencari jalan alternatif dari ponselnya namun tidak ada satu pun jalan yang bisa ia lewati selain jalan yang ia lewati saat ini. "Huh, bagaimana ini?" Yura hanya bisa pasrah dan berharap ia tidak akan terlambat datang ke perusahaan.


Tiga puluh menit berlalu mobil Yura pun telah sampai di perusahaan. Ia terlihat turun dari dalam mobil dan berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam perusahaan. Yura pun menyempatkan membalas sapaan karyawannya yang sedang berjalan di lobby perusahaan sebelum akhirnya masuk ke dalam lift.


"Semoga saja aku tidak terlambat." Ucapnya setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Nona Yura... akhirnya anda datang juga." Ucap Jeni merasa lega saat melihat wajah Yura.


"Apa perwakilan dari perusahaan Bagaskara sudah datang?" Tanya Yura sambil mengatur nafasnya yang terdengar naik turun.


"Ya, Tuan Rey dan asistennya sudah datang dan sedang menunggu kedatangan Nona di ruang rapat, Nona." Jelas Jeni.


"Agh, bagaimana ini, bisa-bisanya aku membuat mereka menunggu di hari pertama pertemuan kami." Ucap Yura merasa tidak enak.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Yura dan Rey update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Queenarađź–¤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2